
"Oh ya! Bro tanks sudah bekerja sama kapan kapan Gue yang traktir yah."
"Santai bro, ini rejeki kalian juga kan."
"Ya sekali lagi makasih yah."
"Bro, Kita cabut dulu yah. sudah waktunya pulang sudah melewati batas malah."
"Pengantin baru sudah rindu aja tuh." ledek Dimas.
"Bisa aja Bro." Keduanya terkekeh.
Inge kekeh ingin menjemput Ibra padahal Ibra sudah menolak kehendak istrinya.
Dua jam menunggu ia jabanin karena kelewat rindu sudah bucin kah Inge?
Di bangku tunggu ia merasa gelisah kenapa karena sang suami tak juga menampakan batang hidungnya. pesan terakhir katanya nanti Ibra akan menghubunginya
Inge kembali Berdiri, hari ini ia tampil cantik dengan gamis pemberian bunda kemarin. alhamdulillah Inge juga mau menuruti keinginan sang suami.
Sudah tak sabaran ia melihat Sang suami menampakan wujud nya. ia mengelus dada dan bersyukur selamat sampai tujuan Inge selalu khawatir jika Ibra pergi jauh seperti ini selalu saja merasa was was.
"Mas... " lambaian tangan serta senyum bahagia terpancar, terlihat begitu mempesona Ibra samapai tak berkedip.
"MasyaAllah... ini istriku." bisik Ibra karena Inge lansung berhamburan pada pelukannya. sedangkan lelaki lain sangat malu melihat adegan ini terlebih ia telah menyakiti wanita yang ia cintai, mantan calon pengantinnya.
Mata Inge menangkap sosok pria kaku, ia pun terkejut dan terheran kenapa ada Dimas?
"Mas maaf, soalnya rindu banget." bisik Inge tetapi arah mata fokus kepada sang pria kaku.
Ada kehancuran di hati keduanya. jika ingin memilih Inge tak mau lagi bertemu laki laki tak bertanggung jawab itu laki laki pecundang menurutnya.
"Maaf yah, pekerjaannya masih lama kemarin jadi boss menambahkan hari nya. " sambil memegang pinggang ramping Inge. hati Dimas semakin remuk tak karuan.
__ADS_1
"Mas pulang dengan siapa?"
"Astagfirullah mas lupa, sini kenalin." Ibra menarik lengan istrinya.
"Ini rekan kerja mas, yang bekerja sama dengan perusahan kita."
"Dimas, ini istri saya Inge."
Keduanya terpaku kaku. sama sama terdiam membisu sesempit inikah dunia hingga harus bertemu lagi, bukan! ini memang takdir sayang.
"Dimas."
"Sudah tau."
Degh...
Ibra maupun Dimas terkejut
"Sayang, kamu tidak sopan dengan tamu mas ayo minta maaf."
"Gak mas, laki laki seperti dia tidak butuh di maafkan, laki laki pecundang." kesal Inge sekarang ia merasa benci pada laki laki di depannya laki laki yang sangat ia cintai tapi itu dulu.
"Inge, ada apa?" Ucap lembut Ibra. ia memeluk istrinya yang menagis.
"Inge, maafkan saya, Bro maaf kalian selesaikan saja urusan rumah tangga kalian saya minta maaf." Dimas langsung pergi.
"Tunggu Dimas."
Dimas menghentikan langkahnya.
"Kita selesaikan dulu perkara kalian." wajah Ibra tiba tiba berubah serius Inge belum pernah melihat wajah sang suami yang menegangkan sepetri ini.
"Mas kita pulang saja yah." Ibra mengangkat satu tangannya.
__ADS_1
"Ayo selesaikan mumpung kita bertemu."
_________________________
Disinilah mereka bertiga, di sebuah cafe.
"Kalian saling kenal kan?" tanya Ibra
Inge menatap wajah suaminya memohon. Ibra menggenggam jari jemari istrinya telihat ada kerinduan di matanya sungguh ia terpesona dengan kecantikan alami sang istri.
"Mas Ibra, aku minta maaf, aku tidak ingin membahas lelaki lain dalam rumah tangga kita jadi tak ada masalah antara aku dan dia. " Mata Inge menunjuk kepada sang mantan.
"Inge," kali ini Dimas yang angkat bicara.
"Saya... minta maaf gak bermaksud meninggalkan kamu saat itu, memang keadaannya sedang darurat jadi saya memutuskan tak datang."
Inge hanya terdiam tak bergeming ia tak ingin mendengar alasan apapun karena memang sudah tak mencintai lelaki itu lagi.
"Sudahlah Dim, aku gak mau dengar alasan apapaun karena aku sudah memiliki suami jadi gak perlu bahas masalalu,"
"Sayang dengarkan dulu alesannya yah?" pinta Ibra, kalau bukan karena suaminya ia tak ingin berada satu meja dengan lelaki yang ia benci ini.
"Aku juga sudah di jodohkan, dan hari itu juga aku menikah dengan wanita lain. keluargaku semuanya berpura pura menerima kamu saat itu."
"Maaf sekali lagi maaf, aku tak punya pilihan lain."
"Oke, apapun alesannya aku dan kau tak ada hubungan apa apa lagi."
Inge beranjak dari bangku yang ia duduki.
"Mas Ibra jika ingin pulang, ayo pulang kalau gak aku pulang sendiri." ucapnya ketus. Ibra terkekeh.
"Inget bro urusan kita belum selesai." Ibra pun beranjak dan mengekor di belakang istrinya sepertinya sudah tercium bau bau bucin.
__ADS_1