
"Nak bunda sangat khawatir kamu baik baik aja kan? kenapa menangis ada masalah sama mas mu?"
"Aku hanya kangen mama sama kakek aja bun."
"Kenapa Inge gak main kerumah mereka ajak mas mu deh sana."
"Iya bun, mas Ibra masih sibuk jadi belum bisa anter."
"Sudah jangan menangis yah, bunda jadi sedih liatnya apa mereka kita undang makan malam saja yah?"
"Mereka pasti sibuk bun biar Inge aja nanti yang kasih kabar yah." Sebetulnya aku menangis bukan karena mereka tapi memang aku kangen banget sama mama dan kakek
penyebab utamanya ya mas Ibra sendiri aku hanya beralasan pada bunda agar bunda tak tahu dengan pilunya rumah tanggaku.
Mama dan kakek juga tidak harus tau kan. kupandang sepasang kupu kupu yang sangat serasi seandainya aku menjadi kupu kupu aku pasti beruntung karena disayang oleh suami sendiri.
"Dek... "
Kusap sisa air mata ini aku tak berminat melihatnya aku kecewa.
"Maaf! "
Sudah biasa mas dari awal juga kamu gak niatkan nikahin aku semuanya karena terpaksa dan bodohnya aku, aku terpikat dengan ketampanan mu sungguh.
"Dek... mas juga gak tau poto itu kenapa masih ada dilemari. sungguh aku gak tau loh dek."
Alesan apapun aku gak akan percaya buktinya kamu masih chating di e-mail karna nomor mbak rinrin sudah aku blok di WA kamu mas.
__ADS_1
Mas Ibra mengacak ngacak rambutku isssh aku gak mau terpesona dengan rayuan pahitmu mas.
"Dek, gak mau nih maafin mas mu yang ganteng ini yang super baik ini? "
Prrreeett apaan baik suka nyakitin hati Inge kamu sama aja sepeti mantan suka nyakitin pas lagi sayang sayangnya.
"Aku udah buang kok potonya suer... jangan marah lagi dong. udah aku sobek sobek sampai halus."
Emang Inge pikirin bodo amat Inge gak perduli pokoknya mas udah nyakitin hatiku.
"Dek atuh jangan diem aja, mas ngajak. kamu ngomong loh bukan ngajak berantem."
Tadi aja susah bener ditaklukan ampe Inge gak ngerti kesalahan Inge di mana
"Maaf yah." Mas Ibra memelukku dari belakang aku hanya diam menikmati karena dari semalam aku sangat merindukan suamiku ini tapi di sisi lain aku berontak karena sakit hatiku ini.
"Pergi aja sana kamu kencan lagi sama mantan kamu itu, aku udah gak perduli terserah mas aja mau bagaimana pernikahan ini aku gak perduli." aku berjalan kembali menuju lantai atas.
"Kamu jangan pura pura gak ingat dek sesungguhnya kamu sudah bersuami dan harus tau wanita bersuami tak akan pergi bertemu laki laki tanpa seijin suaminya."
Langkahku terhenti, apa maksud nya apa pertemuan ku tadi pagi dengan dimas astagfirullah itu pertemuan gak sengaja lagian aku gak ada urusan lagi sama laki laki brengsek itu.
Aku tetap melangkahkan kaki tanpa perduli dengan orang yang melihatku di rumah ini.
"Inge tunggu," Mas Ibra menarik lenganku dengan erat sakit yang kurasakan kedalam sendi.
"Lepas, sakit mas lepaskan."
__ADS_1
"Aku gak akan lepaskan sebelum kamu jujur padaku." Mas ibra menarik lenganku lebih keras.
Mas Ibra mendorong tubuhku ke ranjang.
"Apa apaan sih mas jangan kasar dong." kini air mataku lebih kuat karena tak sedikitpun keluar.
"Jawab dengan jujur apa hubunganmu dengan dimas di belakangku?"
"Aku gak ada hubungan apa apa dengannya mas,"
"Bohong buktinya tadi pagi."
"Astagfirullah itu hanya kebetulan bertemu, lagian kenapa mas menguntitku aku hanya mengantar pesanan aja."
"Jangan bohong Inge." bentuknya lagi kulihat rahangnya mengeras.
"Mas apa kau sedang cemburu? atau hanya membunyikan kebohongan mu saja dariku?"
Mas Ibra membisu.
"Aku tahu mas, kamu diam diam juga sering kan berbalas pesan dengan Rini mas apa kau tak merasa bersalah padaku? ya disini karena aku yang salah dimatamu aku salah bahkan aku gak tahu letak kesalahan ku padamu mas."
"Aku gak ngerti dengan sikap burukmu, aku baru mengerti sikap baikmu terhadapku karena kau sedang menutupi kesalahanmu. "
"Aku cape mas, aku lelah aku pusing aku mual, aku aku sakit hati mas." ahkirnya ku tumpahkan kekesalan ku padanya dari sejak malam.
"Aku sedih... aku mau pulang. hiks..."
__ADS_1
"Maaf... setelah urusan ku selesai aku antar pulang tolong maafkan mas mu ini." Mas Ibra mengusap pucuk kepalaku dan berlalu.