
Dua hari setelah obrolanku dengan mas Ibra, Nenek haji benar-benar datang sekarang sudah duduk manis di ruang tamu bersama. Nenek menatap tajam ke arahku tak ada yang bersuara satu orang pun mas Ibra sudah pergi dua hari yang lalau kalau bisa memilih mendingan aku kut saja kemarin.
"Kamu lulusan apa?" tanya Nenek pada cucu menantunya ini, Bunda ikut menoleh jangan sampe sang ibu menyinggung menantunya.
"D3 Administrasi Nek." ucapku.
"Pantesan gak kerja." ucapnya sebal.
"Ibu, Neng Inge baru resign sebelumnya Neng Inge juga kerja tapi Naya, Ibra sama ayahnya Ibra tak mengijinkan dia bekerja lagi."
"Alesan, punya mantu mah gak usah di manja nanti malah ngelunjak." rasanya aku benar-benar ingin pergi tapi aku masih menghargainya.
"Sudahlah bu, ibu istirahat saja atau kita makan dulu yuk. " ucap Ayah yang sedari tadi diam menyimak. "Kami sudah membuatkan menu kesukaan ibu." ucap ayah mertuaku lagi.
"Gak usah, nyesel aku datang kesini. aku pikir cucu menantuku orang yang berkelas ternyata apa pula menikah sama sepupu sendiri kaya gak ada wanita lain saja." ucapnya garang Nenek menatapku dengan rendahan.
"Jaga ucapan ibu." teriak bunda., Aku yang sedari menahan air mataku pun keluar juga.
Yang di katakan Nenek benar kenapa pula aku harus menikah dengan sepupuku sendiri, kenapa pula aku tak menolak sedari awal, apa aku salah apa pernikahan ini salah? Aku membatin.
"Tolong hargai menantuku bu, dia juga keponakanku jadi jaga sikap, jika ibu tak menghargainya itu artinya ibu tak menghargaiku juga." Ucap Ayah lalu beranjak dari sofa dan pergi ke kamarnya, Nenek hanya mendengus kesal menatapnya.
"Aku tidak suka menantumu." Nenek pun beranjak ke kamarnya diikuti sang asisten pribadinya.
Sejak saat itu aku selalu menguatkan hati, pikiran dan telingaku sejak kedatangan Nenek haji yang meresahkan hatiku ini.
Bunda dan ayah selalu membelaku kadang cacian nenek selalu membuat hatiku hancur tapi ya sudahlah memang kehidupanku tidak semewah yang dipikirkan aku hanya anak dari seorang ibu single parent yang tidak berduit.
"Mba Inge, sudah selesai nih." Ucap Mba Ana, Mba Ana yang membantuku selama aku membuat pesanan ia juga yang menghandle kala aku sedang sibuk. Kami berkenalan di supermarket karena mba Ana seorang single parent dia kuangkat jadi karyawanku saja. Saat dia bercerita aku sangat bersyukur ternyata cobaan yang Allah berikan tak seberat yang mereka rasakan diluar sana.
"Owh oke, cepat amat yak kita." Aku terkekeh membayangkan begitu cepatnya kami m ngerjakan pesanan yang lumayan banyak ini. Kebanyakan pelanggan ku adalah teman pengajian, atau arisan Bunda.
"Iya, gak berasa cape." Mba Ana terkekh wanita berkerudung lebar berwarna maroon itu membereskan pakingan dengan hati-hati.
"Ya sudah tinggal angkut ke toko-toko yang order nanti ku bantu deh, Mba Ana tolong catet alamatnya saja." Aku juga mengirim barang ke setiap toko yang pesan itu berkat marketingnya mba Ana dia begitu pintar bicara tak salah kan aku merekrutnya jadi karyawanku.
"Baik bu boss." ucapnya sambil membasuh tangan di wastafel.
"Mba Ana bisa aja. Yaudah Mba aku ke kamar dulu bentar ambil hape." Mba Ana mengangguk aku memnag bekum punya dapur sendiri insyaallah ingin m mbuka toko setelah m ngurus suratnya kebetulan Bunda memberitahu bahwa ada ruko uang kosong di dekat toko sembakonya dekat pasar.
Ketika akan naik anak tangga Nenek membuka pintu sepertinya sedang menerima tamu sih tapi aku tetap melanjutkan langkahku walau sorot mata nenek selalu kearahku. Aku mengambil ponsel ku berniat ingin menghubungi mas Ibra sebentar, ku dengar Nenek berbicara keras seperti sengaja.
"Alisa calon cucu menantuku tambah cantik dan pintar aja tuh. gimana ngajar di pondok betah nak." Tak ada kebencian di wajahnya ketika menatap kearah wanita berkerudung besar hitam itu.
"Alhamdulillah Nek Haji betah, gimana kabar Nenek?" ucapnya sopan
"Baik dong sayang, oh ya kamu pasti capek kan mau minum apa teh hanymgat mau yah?" Wanita itu mengangguk saja.
"Pasti cucuku suka dengan kamu. secara sudah ustadzah pintar pula, Nenek aja bangga liatnya." segitu memujanya Nenek pada wanita itu entah darimana berasal. Dari ibrilan yang aku tangkap Nenek mau jodohin Mba Alisa itu sama cucunya. eh siapa yah cucunya? aku memang belum tau banyak keluarga besar suamiku sih." aku duduk di meja makan tmyang sudah kenuh dengan barang orderan.
"Mba kok melamun mulu dari tadi." tepukan Mba Ana menyadarkanku.
"Astagfirullah Mba Ana. " ia hanya terkekeh.
"Oh yah dimana Ibra calon cucu mantuku? apa iya masih bekerja?" salah satu perempuan tamunya Nenek mungkin kawan lamanya. berucap memang mereka datang berdua yang kulihat aku melirik dan menajamkan telingaku.
Degh....
Aku mendadak lesu ucapan itu terdengar keras sekali samapai kedapur seperti di sengaja.
"Mas kapan pulang. aku rindu apakah tidak detik ini saja mas pulangnya temani aku menghadapi Nenek mu yang culas itu, aku harap cintamu tak akan berubah jika harus berpisahpun aku tak sanggup mas." Batinku.
"Mba Ana, kalau sudah selesai kita anter bareng yah." ucapku diangguki olehnya.
"Iya saya bawa aja barangnya. Mba Inge yang bawa motornya." katanya lagi.
"Sip." Ketika hendak berangkat Nenek menghadang ku dengan tidak sopan, menataoku dengan jijik.
"Heh... sini kamu keluyuran aja kerjaannya." ucaonya sengit.
"Aku mau nganterin orderan Nek ada apa?" ucaoju lembut aku tak ingin mencari ribut dan memepermalukan belaiu pada orang lain.
"Ngeles kayak bajai, buatkan aku teh manis kamu gak liat ada dua tamuku? Ayo cepat jangan lelet." Nenek kembali ke ruang tamu, mba Ana merasa tak enak melihatku di maki didepannya. Aku bergegas membuatkan teh dulu sementara mba Ana melangkahkan kakinya ke teras memanaskan motor.
Aku menelan salivaku. sebegitu seriusnya nenek mau menjodohkan suami orang, cih mulai sekarang aku tak akan takut langkahi dulu mayatku jika ingin menumbalkan suamiku. Kulihat bi Enah membawa barang belanjaan yang begitu banyak sepertinya sehabis belanja dia tersenyum dan bertanya padaku sedang apa di depan kompor, Karen anenek tak ingin meminum dari air galon walau sudah di panaskan.
__ADS_1
"Sini bibi aja, non kan mau nganterin barang itu mba Ana kasian sudah menunggu." Kata bi Enah aku tersenyum padanya karena sudah selesai membuat aku bergegas mengantarnya ke ruang tamu.
"Nek ini teh nya," kataku sopan.
"Taro saja di situ. aku masih belum selesai mengobrol katanya ketus. Alisa hanya tersenyum manis padaku memang cantik sih, sudah pintar solehah pula kata Nenek.
"Baik," Aku menyimpan teh itu di meja teh yang berjumlah tiga cangkir.
"Nek ica ijin keluar yah bentar." Ku dengar Alisa meminta ijin lalu ia mengikutiku untuk apa dia mengikuti aku, Setelah keluar ia menarik lenganku dengan kasar aku melepaskannya tak sopan sekali eanita berkerudung besar ini.
"Mba siapanya mas Ibra? Jika Mba pacarnya tolong jauhi calon suamiku." ucapnya memohon.
Hah...aku tertawa lepas membuat dia kesal dan geram, hei siapa yang pacarnya kaya gak ada laki lain aja sih ni cewek, mesti di kasih pelajaran cantik m-cantik kok calon pelakor sih. Alisa tetap mengikutiku samapai ke garasi kulihat Mba Ana masuk kembali ke dapur lewat pintu belakang, aku duduk di motorku menatapnya sengit dia juga tak kalah sengitnya.
"Mba kenapa ngikutin aku terus? " Kataku langsung.
"Nenek bilang kamu adalah kompetitor ku jadi aku harus waspada ada hubungan apa kamu dengan calon suamiku." Aku menggaruk kepalaku tak gatal ingin ku katakan tapi takut dia kalau terlebih yang ku lihat Alisa benar-benar tak tahu jika aku adalah istrinya kenapa pula Nenek tak jujur pada wanita ini sungguh kasihan sekali.
"Mba Alisa kan seorang ustadzah harusnya Mba faham hukum mendekati sua..."
"Jangan ganggu Alisa, kamu itu hanya sepupunya Ibra jangan berharap banyak dari keluarga besarku, kamu gak punya kemampuan seperti Alisa yang pandai dalam bidang agama tidak seperti kamu, Nenek benar benar menguji kesabaranku aku tak habis pikir dengan pikiran kolot nya.
"Tapi selain sepupunya aku juga Ist..." ucapanku terpotong lagi karena Nenek berteriak histeris.
"Sudah cukup jangan buat aku pusing." Nenek menekan-nekan kepalanya lalu meraung raung tangisan yang sepeti di buat-buat.
Alisa langsung sigap terhadap wanita tua itu aku hanya bingung saja melihat tingkah orang tua itu, aku lekas memnaggil mba Ana untuk segera berangkat mengantarkan pesanan dari toko.
"Ibu kenapa, Neng?" tiba-tiba Bunda datang, aku hanya menggeleng dan pamit padanya untuk mengantar daganganku.
Diperjalanan mba Ana bertanya kenapa nenek bersikap jahat padakku aku juga bingung mau jawab apa aku hanya terkekeh saja agar mba Ana tak kepikiran terus. Setelah selesia mengantar barang dan mba Ana pulang aku kembali ke rumah mendengar bunda terus merayu ibunya yang tantrum itu.
Setelah selesai mengantar aku kembali kerumah, suasana dirumah sedikit sepi kemana teriakan histeris Nenek gombel aku merasa lucu dengan Nenek kenapa bertingkah seperti anak kecil saja maklum sih memang k mbali ke anak kecil ketika kita sudah tua. Aku sengaja tak menghampiri mereka karena takut Nenek kembali histeris.
"Sebaiknya Ibu istirahat. dan siapa kamu?" Alisa hanya menunduk, aku mengikuti tiga wanita di depanku masuk ke dalam kamar Nenek diikuti Bunda berarti empat wanita aku mengekor di paling belakang
"Sebaiknya kamu istirahat sayang. ini jam kamu istirahat kan? Ibu tak apa-apa nak." Nenek berkata lembut pada Bunda. Bunda keluar dan bertanya padaku apa yang terjadi dirumah ini.
Akupun menceritakan kejadian sebetulnya, Bunda menghela nafas berat mengusap lembut lenganku. "Kamu istirahat sana, maafkan Nenek yah." Bunda tersenyum tulus padaku aku mengangguk.
Sore harinya...
Aku berangkat tanpa drama dan entah aku tak menemukan nenek dkk mungkin sedang tidur siang sampai sore begini tadi aku terlalu nyenyak saat tidur siang jadi tak terusik sore ini aku akan menjemput sepupuku itu mungkin saja sudah di bandara mas Ibra kan tidak membawa mobil aku bergegas pergi hanya pamit pada bi Enah bunda juga katanya sedang dikamar aku tak mau mengganggunya.
Ditempat lain...
"Oh ya! Bro tanks sudah bekerja sama kapan-kapan saya yang traktir yah."
"Santai bro, ini rejeki kalian juga kan."
"Ya sekali lagi makasih yah jamuannya enak banget pas di lidah.
"Bro, Kita cabut dulu yah. sudah waktunya pulang sudah melewati batas malah.
"Pengantin baru sudah rindu aja tuh." ledek Dimas.
"Bisa aja Bro." Keduanya terkekeh.
Aku nekad ingin menjemput mas Ibra padahal mas Ibra sudah menolak keinginanku menjemputnya dibandara, sekarang aku sudah sampai tapi mas Ibra belum terlihat batang hidungnya pun.
Satu jam menunggu aku jabanin karena kelewat rindu apakah aku sudah mencintai laki-laki itu yah. Di bangku tunggu aku merasa gelisah kenapa karena suamiku tak juga kunjung pesan terakhir katanya nanti mas Ibra akan menghubunginya aku kembali berdiri, hari ini aku tampil cantik dengan gamis dari butik bunda tempo itu dengan warna navy serta kerudungnya alhamdulillah aku juga mau menuruti keinginan suamiku dengan berpakaina syar'i sepeti ini semoga mas suka.
Sudah tak sabaran rasanya kulihat suamiku sudah berada tak jauh dariku ku erlihat berjalan bersama laki-laki aku engelus dada dan bersyukur selamat sampai tujuan aku selalu khawatir jika mas Ibra pergi jauh seperti ini selalu saja merasa was-was dan tak tenang.
"Mas... " lambaian tangan serta senyum bahagia terpancar, terlihat begitu mempesona mas Ibra sampai tak berkedip menatapku aku berhambur memeluknya.
"MasyaAllah... ini istriku." bisik mas Ibra membalas pelukanku, lelaki yang bersama mas Ibra merasa sangat tak enak hati melihat adegan kami terlebih ia telah menyakiti wanita yang pernah dicintanya ini aku adalah mantan calon pengantinnya.
Mataku menangkap sosok pria kaku, aku pun terkejut dan terheran oh ya! kenapa ada Dimas?
"Mas maaf, soalnya rindu banget." bisikku manja mataku fokus kepada sang pria kaku itu yang sudah membuat keluargaku malu, dadaku sesak jika mengingat kejadian itu tiga Minggu yang lalu jika ingin memilih aku tak mau lagi bertemu laki-laki tak bertanggung jawab ini dasar laki-laki pecundang egois tak bertanggung jawab aku kembali fokus pada suamiku ini saatnya balas dendam pada laki-laki brengsek itu batinku.
"Maaf Neng, pekerjaan mas jadi lama gak sesuai kesepakatan," sambil memegang pinggang rampingku mas Ibra mengecup pucuk kepalaku lantas aku mengecup bibir ranumnya yang merah karena mas Ibra tak merokok. Pasti hati Dimas semakin remuk tak karuan aku tahu dihati Dimas masih mencintaiku tapi tidak denganku aku akan mengubur dalam-dalam rasa itu.
"Mas aoakabar, Mas pulang dengan siapa?" tanyaku agar mas Ibra tak curiga.
__ADS_1
"Astagfirullah mas lupa, kabar mas baik kok seperti yang Neng lihat oh ya! sini kenalin." Mas Ibra menarik lenganku mendekat pada pria itu.
"Ini rekan kerja mas, yang bekerja sama dengan perusahan kita." Mas Ibra tersenyum manis padaku. "Dimas, ini istri saya Inge." Kata mas Ibra antusias. Aku sama-sama terdiam membisu sesempit inikah dunia hingga harus bertemu lagi, bukan! ini memang takdir sayang batinku.
"Dimas." katanya mengulurkan tangannya aku segera mengatupkan kedua lenganku di dada seperti yang Bunda lakukan ketika bersalaman dengan laki-laki lain aku menganggukan kepala menghormatinya.
" Sebetulnya aku sudah kenal dengan pak Dimas jadi tidak usah setegang itu." Aku terkekeh kesal. Mas Ibra maupun Dimas sangat terkejut dengan perkataanku.
"Mas ayo pulang Bunda dan Ayah sudah menunggu, Nenek juga sudah beberapa hari." ucapku sambil bergelayut manja padanya agar Dimas tahu bahwa semudah itu aku melupakannya itu yang aku harapkan adat dia merasa bersalah.
"Iya baik, oh ya! Neng kamu kenal Dimas dimana?" Sepetinya mas Ibra sangat penasaran.
"Dia itu calon suamiku mas yang kabur itu." Kulihat wajahnya sudah memerah karena malu.
"Astaghfirullah benarkah? Wow kebetulan sekali yah bro anda berhutang penjelasan pada kami." Ucap mas Ibra.
"Maaf..." Hanya sebuah kata itu yang keluar dari mulutnya dan menunduk bersalah.
"Ayolah Neng, sebaiknya dibicarakan dulu aku juga mau dengar alasannya." Cercah mas Ibra dia terus memegang pinggangku dengan mesra.
"Gak mas, laki laki seperti dia tidak butuh di maafkan, laki laki pecundang." kesalku. "Tak perlu lagi kita membahas masa lalu lagian kan sudah ada mas yang mau betanggung jawab menikahiku." ucapku karena tersulut emosi mulutku tak bisa berkata pendek. sekarang aku merasa benci pada laki-aki di depanku, laki-laki yang sangatku cintai dulu.
"Neng, bisakah kita berbicara sebentar." Ucap lembut mas Ibra hati-hati sambil menatapku dengan mata memohon.
"Jika tidak ada lagi yang harus di bahas saya pergi dulu," pamitnya tanpa ingin membahas permasalahan kami yang dulu benar-benar brengsek.
"Tunggu Dimas." Dimas menghentikan langkahnya.
"Kita selesaikan dulu perkara kalian." wajah mas Ibra tiba-,tba berubah serius aku belum pernah melihat wajah suamiku yang menegangkan sepetri ini.
"Mas kita pulang saja yah." Mas Ibra mengangkat satu tangannya.
"Ayo selesaikan mumpung kita bertemu." ucapnya tegas penuh wibawa laki-laki yang berperawakan jangkung itu berkata.
Disinilah kami bertiga, di sebuah kafe menyelesaikan masalah yang tertunda satu bulan yang lalu aku tak ingin memulai percakapan dan hanya diam begitu juga dengan laki-laki disebrangku dia terus menunduk malu, mas Ibra menggenggam tanganku erat tanda menyemangati.
"Kalian saling kenal kan?" tanya mas Ibra memulai percakapan kami karena aku maupun laki-laki itu tak juga berbicara. Aku menatap wajah suamiku memohon. Mas Ibra terus menggenggam jari-jemariku sorot ketegasan dan kerinduan terbaca dimatanya.
"Mas Ibra, aku minta maaf, aku tidak ingin membahas lelaki lain dalam rumah tangga kita jadi tak ada masalah antara aku dan dia., Aku juga sudah memaafkannya." Aku akhirnya membuat suara dan menatap Dimas yang terlihat malu.
"Dimas sebesar apa pun kesalahanmu aku sudah memaafkannya, jadi tak perlu ada yang kita bahas aku sudah menemukan pria yang lembut dan penyayang kamu tak usah menghawatirkan aku lagi. ucapku entah kenapa aku tak merasa sakit hati saat menghadapi nya.
"Inge," kali ini Dimas yang angkat bicara.
"Saya... minta maaf gak bermaksud meninggalkan kamu saat itu, memang keadaannya sedang darurat jadi saya memutuskan tak datang." ucapnya tanpa rasa bersalah. Aku hanya terdiam tak bergeming aku juga sudah tak ingin mendengar alasan apapun karena memang sudah tak mencintai lelaki itu lagi.
"Sudahlah Dim, aku gak mau dengar alasan apapaun karena aku sudah memiliki suami jadi gak perlu bahas masalalu," ucapku datar.
"Sayang dengarkan dulu alesannya yah?" pinta mas Ibra, kalau bukan karena suamiku aku tak ingin berada satu meja dengan lelaki yang aku benci ini.
"Aku juga sudah di jodohkan, dan hari itu juga aku menikah dengan wanita lain. keluargaku semuanya berpura-pura menerima kamu saat itu." kata-katanya terjeda sesaat.
"Maaf sekali lagi maaf, aku tak punya pilihan lain." Dimas menunduk dan merasa bersalah, kenapa tidak sedari awal semua ini dapat dibicarakan jika memang orang tuanya tak merestuiku sudahlah.
"Oke, apapun alesannya aku dan kau tak ada hubungan apa apa lagi." Aku beranjak dari bangku yang ia duduki mengajak mas Ibra.
"Mas Ibra aku mau pulang ayo pulang, kalau gak aku pulang sendiri." ucapnya ketus Ibra terkekeh.
"Karena persoalan ini sudah selesai kami pamit dan tolong jangan lagi sakiti istriku setelah ini dan jangan mengganggunya lagi." Ma Ibra pun beranjak dan mengekor di belakangku tanpa menoleh aku pergi dari hadapan pria brengsek itu mas Ibra menggandengku mesra keluar dari kafe tersebut.
"Oh jadi itu mantan?" Mas Ibra membuka percakapan saat kami berjalan di trotoar.
"Gak usah bahas mas udah muak, eneghht." Aku merajuk karena tidak ingin mengingatnya lagi.
"Tapi pernah cinta." Ibra terbahak menggodaku aku pun mengiakan dalam hati tapi itu dulu sekarang aku sudah menemukan pujaan hatinya ku yang sesungguhnya.
"Masss... ihh."
"Apa sayang."
"Gak usah godain aku, gak usah bahas mantan aku mual." jawabku malas memang sedikit mual sih entahlah.
"Iya iya maaf gitu aja ngambek. tapi makin cantik kalo lagi ngambek, alhamdulilah istrinya mas menuju solehah." godanya lagi, wajahku semakin merah kami berhenti dan saling memeluk aku men nggelamkan wajahku di dada bidangnya.
"Aamiin mas makasih sudah menjadi imam yang soleh, terimakasih lagi sudah sabar menghadapi sikap aku." ucapku tulus, Ibra mengelus kepalaku sangat lembut. "Mas kita mau berdiri aja disini sampai kapan?" kataku pegal juga yah ternyata aku melihat sekitar banyak orang yang melihat kemesraan kami aku jadi semakin malu.
__ADS_1
"Kita ke hotel yah?"