Dinikahi Sepupuku

Dinikahi Sepupuku
Bagian 2 Pindah


__ADS_3

"Kek, mah! maaf sepertinya Ibra mau ijin pamit bawa Inge terlebih Ayah sama Bunda sudah duluan, Ibra sudah harus kembali bekerja apakah kalian memberikan ijin?"


Apa katanya dia mau bawa aku pergi benar-benar mas Ibra aku membatin tidak setuju dengan keputusannya secepat ini.


"Bolehlah, kan kamu sudah menjadi suaminya gak perlu ijin tapi Kakek dan Bibimu menitipkan si Neng sama kamu kalian harus rukun yah! Kalau ada apa apa kabari kami." Ujar Kakek, aku bingung belum membereskan barang yang akan di bawa mas Ibra meliriku lalu tersenyum mengajakku kembali ke kamar dan membantu mengemas barang yang di perlukan disana.


"Gak usah bawa banyak barang disana juga sudah tersedia kamu cukup niat aja ikut sama saya." Aku hanya mengangguk karena belum berani menatapnya sambil mengemas barang mas Ibra diam-diam menatap mataku lekat.


Pria berperawakan tinggi putih itu tersenyum saat aku membalas tatapannya aku kembali menunduk karena malu. Setelah selesai kami pun berpamitan pada Kakek dan juga Mama karena keluraga yang lain sudah pulang terlebih dahulu.


Di perjalanan kami hanya diam aku juga tak punya obrolan penting dengan suamiku , mas Ibra juga fokus menyetir hanya memakan waktu setengah jam akhirnya kami sampai, setelah sampai kami segera masuk dan pergi ke lantai atas rumah ini sepi sepertinya tak ada orang yang menyambut kami tak apalah tidak jadi masalah mungkin saja ke dua Uwakku sedang sibuk di tempat usahanya. Mas Ibra melangkah menarik koper kecil milikku dilantai atas tak banyak ruangan yang kulihat, kamipun berjalan melewati ruang keluarga, di sebelahnya satu ruangan mungkin itu kamar adik perempuannya mas Ibra yang tinggal di luar kota yang sedang meraih pendidikan mbak Adel namanya.


"Ini kamar kita, kamu beresin aja pakaiannya saya keruang kerja dulu." Mas Ibra mengusap ujung kepalaku dengan lembut.


"Dirumah ini sepi betul sih! Aku bergumam apa aku betah nanti tinggal disini yah! Apa mas Ibra tulus menikahiku ahh sudahlah semoga takdir selalu baik padaku.


"Dimas andai kamu jadi menikahiku. Mungkin pernikahanku tak sekaku ini. Yallah mikir apa sih aku ini, dia itulah penghianat gak usah diingat lagi deh Neng."


Sudah hampir dua jam mas Ibra tak keluar ruangan sedangkan perutku sudah laper banget, aku coba kedapur ahh berkeliling rumah ini juga tak apalah sekalian pengenalan. Aku turun menyusuri tangga entah dimana letak ruang kerja suamiku itu, aku melanjutkan langkah menuju lantai bawah tampak sepi ternyata di luar hujan ya ampun.


Kubuka kulkas ternyata banyak bahan makanan aku ingin mengolahnya jadi apa saja deh yang penting ganjel perut. Serius ku mulai melakukan aksiku di depan kompor aku ingin membuat capcay dan ayam goreng kebetulan nasi sudah siap mungkin uwak sudah memasak tadi pagi.


"Sedang apa?"


"Allahu rabbi mas ngagetin."


"Maaf! Udah ngagetin, Serius betul sih."


"Aku lagi masak mas laper."


"Oh ya ampun maaf yah! Lupa tadi kata bunda kalau belum sempat masak."


"Iya gak apa ini sudah mau jadi udah selesai ini." tanpa menoleh pada mas Ibra aku menyajikan masakan ku ke meja.


"Kamu suka masak? " Mas Ibra sepertinya mengintimidasi ku, aku mengangguk.


"Wah bisa ngembang dong tiap hari punya istri pintar masak." Ucapnya membuat hatiku deg degan kok berdesir gak karuan gini yah padahal belum dicobain ada yang mekar tapi bukan bunga.


"Yaudah cobain dulu deh nanti kecewa kalau ga enak."


"Baiklah nyonya Ibra." Yaampun makin berdebar aku, pasti wajahku ini sudah merona huh mas Ibra mampu membuatku bahagia seketika kamipun makan bersama. Lelaki itu tampak tersenyum setelah merasa kenyang.


"Gimana rasanya?"

__ADS_1


"Lumayan."


"Lumayan gak enak yah?"


Mas Ibra bukannya menjawab malah senyum lagi bikin aku geer aja sih.


"Neng, kamu gak apa apa kan tinggal disini?" Katanya, aku mengangguk kini kami sudah duduk santai di ruang keluarga.


"Kalau kamu keberatan kita cari rumah lain gak apa-apa."


"Disini juga cukup nyaman mas gak usah repot-repot menempatkan aku atau memang mas sengaja mau nyembunyiin aku?" Kataku entah kenapa hatiku tak sebahagia tadi mengingat mas Ibra masih punya tunangan katanya.


"Gak gitu Neng, takut kamu gak nyaman aja tinggal sama Ayah dan Bunda secara kan kita pengantin baru." Ujarnya lalu meraih gelas yang berisi air putih.


Aku juga belum kenal watak Uwakku yang sebetulnya yang kutahu mereka sangat baik selama ini. Wa Musa adalah kakak dari papa mereka hanya dua saudara sebelum papa meninggal uwak memang sudah baik begitupun Bundanya mas Ibra.


"Assalamu'alaikum eh... Ada Neng Inge sudah sampai! jam berapa kalian sampainya?" Tanya Wa Naya.


"Tadi pagi Wa, Inge gak bawa apa apa loh Wa, kan mendadak kesininya katanya mas Ibra ada kerjaan banyak." Aku melirik nya tapi ia tak menatapku.


"Jangan panggil Uwak yah sekarang kan sudah jadi menantuku panggil Bunda aja sama kayak seperti suamimu.


"Baik Wa... Eh bunda."


"Masih belum Bun, tapi aku ngerjain kerjaannya di rumah kok." timpalnya semakin tampan aja suamiku itu dengan gayanya.


"Nak, kamu masak?"


"Iya Wak, eh Bun!" aku menghampiri Bunda yang duduk di ruang makan sepertinya mau makan sih.


"Wah enak ini, rasanya pas banget ini mah resep Mama kamu yah! hmmm pintar juga kamu Neng."


"Yah ayo makan ini ada lauk Neng Inge sudah masak ternyata." panggil Bunda pada wak Musa, ternyata Ayahnya mas Ibra juga sudah pulang.


"Bun maaf kalau gak enak aku cuma bisa masak begitu aja." ucapku.


"Gak apa-apa sayang, makasih yah nak, makan lagi yuk sayang." tawar Bunda, aku hanya berkata kalau aku sudah makan dengan suamiku.


"Kalau gitu Inge balik ke mas Ibra lagi deh Bun." Bunda tersenyum sambil mengunyah menatapku dan mengangguk.


Ku lihat keruang keluarga tapi mas Ibra sudah musnah eh maksudnya sudah gak ada entah lah aku balik ke kamar aja. ku naiki tangga perlahan aku memutusksn untuk tidur siang saja lah setelah sampai kamar, lelah juga tadi padahal cuma masak aja.


Pertama menjadi menantu aku harus sangat rajin wejangan dari mama selalu ku ingat kala itu, harus jadi istri yang baik menantu yang baik yang rajin dan segala macem lagi.

__ADS_1


Aku buka perlahan pintu kamarku tepatnya kamar kami berdua aku dan mas Ibra, eh! kudengar suara mas Ibra sedang mengobrol di telepon ku urungkan niatku untuk masuk mungkin ia tak mendengar kedatangan ku padahal aku sudah membuka pintu tapi ia fokus pada benda pipih itu. Yah terlanjur dah kaki ini melangkah masuk ke kamar.


"Iya besok aku masuk kerja, jangan lupa makan siang yah nanti maag nya kambuh kalo telat makan." begitulah kata-katanya terdengar lembut dan romantis. Mas Ibra aku tahu itu pasti tunangan kamu mas, seharusnya kamu gak usah nikahin aku mas kamu butuh bahagia bukan malah ngorbanin kebahagiaanmu untukku.


"I love yu too." kalimat itulah yang membuat dadaku sesak ya Allah jahatnya aku sudah merebut mas Ibra dari mba tunangannya. Tak terasa bulir ku memang sudah keluar sejak tadi aku merasa kasihan pada diriku sendiri ditinggal saat menikah dinikahi sepupu sendiri pun yang sudah menjadi tunangan orang lain.


"Neng, kenapa bengong? sini masuk." panggilnya.


"Eh! Iya mas." aku menyeka bulir ku aku tak ingin mas Ibra melihatku sedih nanti semakin dikasihani saja aku ini.


"Kenapa bengong disitui duduk aku mau bicara." ucapnya lagi. Aku duduk di samping ranjang yang ditepuk mas Ibra.


"Maaf tadi kamu dengar yah?"


"Dengar apa mas?" aku pura-pura tidak tahu apa yang di bicarakannya sekarang.


"Owh gak denger gak papa deh!" maksudnya apa coba.


"Besok aku sudah mulai ngantor, kamu dirumah pasti sendirian cari kesibukan aja Neng, Ayah dan Bunda juga pasti ke toko.


"Aku takut mas kalau ditinggal!" sedihku, Ia tampak menggaruk garuk kepalanya tak gatal.


"Gini aja deh, kamu boleh ikut aku ke kantor kalau mau atau mau ikut Bunda."


"Aku disini aja deh gak apa-apa takut ganggu nanti. mending beres beres rumah aja, kalau aku ikut nanti orang kantor kamu curiga tiba-tiba mas udah punya Istri saja." Kataku beralasan aku gak mau nyakitin perasaan wanita lain gara-gara aku harus ke kantor mas Ibra.


"Serius?" aku mengangguk dan senyum terpaksaas Ibra mengacak ujung kepalaku. Aku tentu saja merebahkan diriku karena lelah sekali, aku kira mas Ibra keluar kamar setelah aku memunggunginya ternyata iapun ikut baring.


"Neng, gimana menurutmu pernikahan ini?"


"Aneh sih." jawabku tanpa menoleh.


"Aneh kenapa?"


"Aneh aja kan mas Ibra kakak aku tapi nikah sama aku." ia terkekeh apanya yang lucu sih.


"Kita kan bukan mahram sebelum nikah jadi gak apa-apa nikah biar jadi mahram."


"Iya tahu mas. tapi kenapa mas mau gantiin Dim_ maksudnya mantanku yang kabur itu."


Mas Ibra diam saat ku lirik ternyata dia sudah kealam mimpi terdengar dengkuran halusnya.


"Hmmm.. "aku menghela nafas rasa kantukku pun ikut menyerang, tapi aku tak dapat tidur nyenyak setelah mengeingat perkataan mas Ibra barusan. Aku pernah bertanya kemarin pernikahan ini aneh sekarang dia yamg justru bertanya.

__ADS_1


"Mas Ibra maafin aku sudah merepotkan mu dan mengorbankan cintamu untuk wanita seperti aku, walau pernikahan ini masih aneh menurutku. Kamu sudah berkorban besar, mas bolehkah aku egois aku tak dak ingin melihatmu bersama wanita lain, aku tidka ingin mendengar kamu berkata mesra untuk wanita lain mas aku mulai menyukaimu sekarang maafkan aku mas." Dmegan rasa kantukku aku berpikir lalu terlelap begitu saja.


__ADS_2