Dinikahi Sepupuku

Dinikahi Sepupuku
Bagian 5 Maafkan Mas


__ADS_3

Aku bangun dengan linglung oh lupa aku tertidur sedari pulang kerja, ku lihat jam menunjukan pukul 2 dini hari apa mas Ibra masih belum pulang? Astaghfirullah aku tidur terlalu lama kepalaku sangat pusing.


Cklekkk...


Kulihat ke arah pintu pria itu masuk dengan santai, lalu ku bangkit dari tempat tidur saat mas Ibra masuk tatapan kami bertemu aku menyudahinya dan masuk ke kamar mandi dengan sebal.


Brakkkk..


Ku lihat wajah acak-acakan entah lah aku tak perduli terlalu sakit untuk dipikirkan tidak kah ia berpikir tentang perasaanku. kusudahi ritual mandiku melangkah keluar karena perut lapar aku keluar melewati pria itu lalu melangkah turun ke dapur setelah melihat mas Ibra rasa laparku sudah hilang di meja makan kulihat tak ada masakan apapun hanya terlihat toplesan bermacam-macam selai, mungkin Bibi gak masak pikirku. Aku enggan kembali ke kamar memilih menonton televisi di ruang keluarga tapi aku merasa bosan ya Rabb aku lupa mengerjaian tugasku sebagai seorang muslim kutepuk dahiku lalu aku m nuju musola kecil dekat dengan kamar Bunda aku bergegas mengerjakan tak lupa aku bermunajat mencurahkan isi hatiku kepada sang khalik.


"Neng.." kudengar suara laki-lakiku memanggil dengan lembut terlihat penyesalan di wajahnya tapi aku masih tetap diam sambil menunggu subuh.


"Ma_ maafkan mas." aku melewatinya hendak naik keatas tapi dia terlebih dahulu menarik lenganku, aku menatapnya sinis.


"Tolong dengarkan aku Neng,"


"Tidak usah basa basi mas aku mau kembali ke kamar." ketusku aku melepaskan cengkraman tangannya lalu menaiki anak tangga dengan sebal mas Ibra mengekor di belakang.


"Dek maafkan mas yah, tadi sore... mas ninggalin kamu."


"Hmmm."


"Kamu marah yah?"


"Iya aku marah aku sebal sama kamu, kamu gak menghargai aku mas kamu menghargai aku tidak sih, bagaimana perasaanku aku juga punya hati aku perempuan punya perasaan."


Akhirnya aku tumpahkan beban di hatiku jika ia menghargai pernikahan ini kenapa bersikap demikian.


Aku membelakanginya menarik selimut ke seluruh tubuhku, mas ibra hanya diam tak merespon dasar laki-laki.


Tiba-tiba ia memelukku mengecup kepalaku, membisikkan kata maaf aku tak meresponnya sama sekali sambil terisak kecil, karena aku diam saja mas Ibra turun dari tempat tidur berlalu ke kamar mandi tak lama ia kembali naik ke ranjang kami membisikan kata yang sama.


"Dek maafkan mas." aku dengan pendirian ku diam tanpa kata dan kudengar suara dengkuran halusnya.


Setelah terdengar adzan aku terbangun dan mataku tak menangkap sosok tubuh sepupuku itu. mungkin ada di kamar mandi saatku periksa tak menemukannya, aku sekalian berwudhu untuk solat subuh. Saat ku turun bi Enah sedang menyiapkan sarapan.


"Non sarapan sudah siap!"


"Makasih yah bi." ucaoku sambil duduk hari ini aku sarapan sendiri aku masih mencari mas Ibra dimana dia.


"Gak apa apa sudah menjadi tugasku Non." ujarnya aku tersenyum sambil mengunyah lapar sekali perutku ini.


"Bibi lihat mas Ibra?"


"Loh memangnya gak pamit?" kata bibi aku mengangkat bahuku.


"Mungkin buru-buru ada urusan.." jawabku hambar aku tak semangat mengunyah sambil melamun aku habiskan makanna yang sudah ku ambil.


"Tadi pamit mau ke rumah sakit buru-buru katanya non."


"Oh! ehh! siapa yang sakit bi? kok aku nggak tau yah. "


"A... anu Non itu yang sakit sih katanya mba Rini." ucap Bi Enah terbata.


Aku...


"Oh." Selera makanku langsung hilang seketika kuhentikan aktivitasku.


"Bi minta tolong bunguskan bekal makan, buat makan siang di kantor aku mau bersiap kerja."


"Baik non." jawabnya.

__ADS_1


Aku bergegas ke atas mengambil tas ku sebentar lalu turun bekalku sudah siap di meja makan kulihat Bu Enah sedang menyapu halaman.


"Non kata Ibu dan Bapak mereka tidak akan kembali cepat katanya ada acara di sumedang." tutur wanita yang seusia dibawah Ibuku.


"Iya bi terimakasih, aku berangkat yah! Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab bi Enah. Aku melajukan metic ku dengan kecepatan sedang menuju tempat kerjaku rencananya pulang dari bekerja aku akan ke rumah Mama saja, waktu begitu cepat kuselesiakan pekerjaanku tak ada masalah apapun hari ini aku sedikit santai dan merasa lega saat kuingat suamiku hatiku kembali tergores. Jam pulang sudah tiba aku melaksanakan salat Ashar di musola kantor lalu bergegas pulang ke rumah Mama.


"Assalamu'alaikum."ucapku.


"Waalaikumsalam loh kok kamu kerumah Mama nak mana suami kamu?"


"Sibuk Mah," jawabku, kusalami dengan takzim kupeluk mama erat kerinduanku begitu besar pada Mama.


"Loh kok nangis ada apa?" Aku diamsaja kueratkan pelukan pada wanita yang sudah melahirkanku ini.


"Kamu ada masalah sama Ibra? " aku menggeleng.


"Lagi berantem? " aku pun menggeleng


"Terus? "


"Aku kangen Mama, Kakek sama yang lain." jawabku bohong.


"Oh! Dikira kamu sednag berantem terus gak mau pulang kerumah suamimu."


"Memangnya Mama gak kangen sama anaknya ini?"


"Enggak tuh! " sambil terkekeh.


"Mama... " rengek ku manja


"Udah nikah masih aja manja." ujar kakek yang membawa secangkir kopi, aku menyalaminya mencium punggung tangannya dengan rasa rindu lalu kupeluk Kakek sebentar.


"Sedang ada proyek besar katanya masih ketemu klien kek, oh ya Ma! aku ijin nginep disini yah ma."


"Udah ijin suami kamu?"


"Mama ih! harus ijin gitu yah."


Pletakkk! Mama memukulku dengan gulungan koran yang di pegangnya entah darimana benda itu tiba-tiba ada ditangannya.


"Ih Mama."


"Kamu udah nikah nak harus ijin suamimu!" Aku cemberut pada kedua mahkuk tersayang di depanku.


"Nah betul ucap Kakek." ucap Mama menimpali.


"Nanti aku telpon minta ijin deh masa ke rumah ibunya sendiri gak boleh." ujarku cemberut.


"Kamu pulang kerja? tanya kakek sambil menyeruput kopi.


"Iya Kek, Kakek mau martabak gak aku beliin yah mau?" Ku kedip-kedipkan mataku.


"Gak usah nyogok," tau aja Kakek kalau aku sedang bernegosiasi agar Kakek tak membehas mas Ibra.


"Minta ijin mau pergi itu sama suamimu nak. atau kamu lagi ngambek yah?" tanya Mama, ini lah yang disebut feeling seorang ibu.


"Iya Mah nanti aku telpon masku. ucaoku sambil pergi kekamar lalu membuka aplikasi onlen untuk memesan martabak kesukaan Kakek dan Mama.


Aku memang sedangi kecewa dengan suamiku ku rebahkan tubuh ini sambil berselancar di medsos.

__ADS_1


Di tempat lain...


"Itu kan Ibra suaminya si Neng ngapain disini?" ucap Tamara yang bekerja di rumah sakit sebagai staf apoteker.


Tamara mengikuti Ibra menuju ruang rawat inap dengan ngendap mengikuti suami sepupunya itu, huh dasar buaya buntung ngapain dia ngobrol sama pasien perempuan itu hmmm aku harus cari tahu, Tamara pergi mencari informasi menuju resepsionis.


"Neng lo harus tau kelakuan suami lo itu." batin Tamara lalu mengetik sebuah pesan... Sent.


"Kamu beneran nginep disini? "


"Iya mah gak boleh? kan udah ijin."


"Sama?"


"Sepupuku lah! eh mas Ibra Mah." bohongku Maaf yah Mah aku berbohong hati ini.


"Yasudah awas kalau tempat Mama cuma pelarian doang."


"Iya Mama sayang..." Aku berbohong lagi, karena aku gak mau menghubungi mas Ibra.


"Makan sama sama yuk." ajak mama setelah magrib.


"Nanti aja mah! Inge nyusul."


"Kenapa begitu."


"Belum laper mama,"


"Oke, makasih martabaknya ya Neng." Aku mengangguk menatap punggung mama yang pergi dari kamarku, mataku terpejam tapi aku tak mengantuk. ku tak mengirim pesan atau mengabari suamiku sama sekali biarlah aku tidka penting untuknya yang lebih penting adalah wanita lain.


"Assalamu'alaikum... Neng lo harus tau ternyata suami kamu sedang di rumah sakit gue kerja, ini lihat fotinya." Sebuah pesan WhatsApp masuk dari sepupuku Tamara. Aku sudah gak kaget lagi dengan info ini tapi yang aku kaget mas Ibra sedang mengelus ujung kepala wanita itu hatiku kembali terasa sesak. Kubalas dengan Emot senyumku aku tak mau Tamara berpikir jelek tentang mas Ibra.


Tak lama terdengar adzan Isya aku segera bangkit berwudhu dan melaksanakannya ku tutup pintu kamar lalu ku kunci dari dalam karena nafsu makanku hilang tiba-tiba aku tak krkyar kamar dan bergegas tidur.


"Assalamualaikum..." Bisik lelaki yang sudah menjadi suamiku saat kubuka mataku ia tersenyum manis sekali seperti tak terjadi apa-apa.


"Waalaikumsalam." ucapku parau. "Kok bisa masuk?" Aku segera bangkit mundur menjauhi tubuh mas Ibra tapi dia biasa saja.


"Bisalah!" senyumnya sangat tampan laki-laki mancung itu memamerkan deretan giginya yang putih rapi wangi parfum mahal menyengat dan menggoda aku menatapnya lama, saat ku berkedio aku tersadar bahwa aku sedang marah padanya.


"Kenapa ada disini? Sana pulang." Ketusku.


"Kamu ngusir aku? suami kamu." katanya pura-pura marah.


"Gak kok, lagian kenapa banyak s amasuk kan aku kunci pintunya."


"Bisa dong Neng." ujarnya santai. "Emang gak boleh yah suami kangen istrinya."


Deg...


"Masih ingat punya istri." Aku tak kalah ketus.


Mas Ibra menggerakkan kedua alisnya lalu membungkam bibirku dengan rakus.


"Mmffmmm.... Maas lepaaaas."


"Mas..." benar-benar menyebalkan, aku tak merespon ciuman mas Ibra, aku seperti kehabisan nafas ku pukul-pukul dada bidangnya tapi cengkramannya makin kuat aku pasrah lalu mas Ibra melepaskan ciuman ini nafasku tersengal-sengal sesaat.


"Pergi mas... Pergi dari sini." tak bisa kutahan Air mataku mengalir aku terisak, sambil menjauh dari suamiku perbuatannya kemarin apakah aku harus luluh dan memaafkannya?


"Mas minta maaf , mas bisa jelasin kok tolong jangan berisik nanti Kakek dan Mama bangun." Ia meletakan tekunjuk di bibir tipisku yang ranum ini.

__ADS_1


"Aku gak bisa memaafkanmu begitu saja mas, apa yang kamu lakukan di belakangku? Dan sekarang kamu bersikap lembut seolah tak terjadi apa-apa aku gak sebodoh yang kamu pikir mas." sesak didada ini semakin besar. Mas Ibra menatapku matanya memancarkan kesedihan entah mengapa aku berani berbicara seperti ini pada mas Ibra bagaimana jika ia sakit hati dengan ucapanku aku menunduk tak berani menatapku sambil terisak.


__ADS_2