
"Dek, mas dapat telpon meeting mendadak. jadi harus berangkat deh gimana?"
"Nanti nanti Inge mikir dulu , soalnya aku pingin banget ke rumah Mama nginep disana sama mas. tapi yaudah deh. terpaksa deh aku sendiri lagi disini."
"Ihh kamu boleh kok kerumah Mama atau bunda gak harus stay disini nanti aku titipin deh."
"Emangnya aku gorengan dititipin hahah."
"Gemes banget sih ..." Ucap mas Ibra mengecup kepalaku.
"Gini aja deh sayang, kamu ikut aku ke kantor yah."
"Apa boleh?"
"Boleh lah kenapa gak boleh."
"Takut ganggu dong mas nanti aku kangen bisa gawat masa aku samperin ke ruangan meeting hihihi."
"Bisa aja kamu yah."
Sementara itu suamiku pergi mandi dan aku kembali ke dapur meneruskan membuat sarapan. Hari ini berencana akan ke rumah Mama karena bulan lalu mereka berkunjung jadi aku harus siaga mengunjungi mereka kembali.
Keputusan akhir aku pergi kerumah Mama menginap di sana karena mas Ibra harus berangkat keluar kota lagi terpaksa harus menginap di rumah Mama.
"Heii... kapan kesini?" Aku kenal orang ini tapi lupa siapa yah batinku.
"Inge tuh pelupa, dia loh dek anaknya paman Rudi." ujar Mama sepetinya Mama sangat paham jika aku memang pelupa.
Ilham namanya dia tersenyum manis dengan wajah tamvannya tak kalah dengan suamiku tapi masih ganteng suamiku sih hihihi.
"Mas Ilham astaghfirullah apa kabar?" aku mulai mengingat.
"Baik dong! gimana Dimas suamimu maaf yah gak bis dateng pas kamu nikah." katanya sambil duduk di sebrang Mama.
"Inge itu nikah sama Ibrahim bukan sama Dimas." ketus Mama ia tak terima jika Dimas menjadi suamiku.
"Astaghfirullah Nge... maaf yah aku lupa." Ilham sambil menepuk keningnya, no problem sih lagian aku juga udah lupain tuh laki laki payah.
"Iya gak apalah mas kan lupa heheh..."
"Nak Ilham ada perlu apa?" tanya Mama.
"Mau ketemu Abah, kata papa Abah suruh datang nanti malem kerumah mau ada urusan katanya abahnya ada kan?" jawabnya serius.
"Lagi di masjid jam segini mah, nantinya juga balik pas abis ashar nantinya bibi sampaikan yah nak." Ucap Mama tulus.
"Kalau gitu aku pamit dulu deh. nanti ibun nyariin mau beli gas soalnya, pamit yah Bi, Inge..." ucap mas Ilham sopan.
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." ucapku bersamaan dengan Mama.
Malam harinya mas Ibra nelpon katanya mau dibawain apa? hanya saja aku sedang tidak ingin apa apa. karena lupa bawa pakaian aku pakai daster Mama pas sekali sih biasanya juga kedodoran.
"Dek oake baju siapa?" tanya mas Ibra peka banget sih.
"Mama... aku lupa bawa baju."
"Sekarang bodymu berisi yah gak kaya pas pertama nikah kinyis banget kurang bohai." ia terbahak merasa lucu tapi bagiku tak lucu aku malah kesal padanya.
"Sekarang juga kinyis kok mas, jamunya aja salah liat." ketusku.
"Ciee ngambek... dah jangan ngambek mau di bawain apa atuh." mas mencoba merayuku.
"Apa aja yang penting jangan janda bolong aja."
"Masih marah yah? coba dong bukain pintu depan banyak nyamuk tau."
Aku...
"Dek... dek.. malah ngelamun."
"Mas katanya nginep? mas serius udah pulang?" tanyaku tak bisa berbohong aku sangat gembira sekali.
"Iya takut sama janda bolong makanya pulang aja." ucapnya terkekeh.
"Nih buka!" perintahnya.
"Apa mas?"
"Buka aja sih."
"Oh ya! yuk masuk dulu makan, dulu atau mau mandi dulu?"
"Mandilah sayang, mama sama kakek mana?"
"Ke rumah om Rudi sebetulnya kakek doang sih yang di suruh kesana eh Mama juga suruh kesana, tadi aku ketiduran pas abis magrib."
"Mmhh... sudah salat?" aku mengangguk mas Ibra lantas pergi ke kamar lalu mandi setelah mandi dianke rumah makan , makan bersamaku, tak lama Mama pulang meihat kakek tak ada mas Ibra bertanya pada Mama.
"Mah! kakek mana?" sambil menyalami Mama.
"Kamu gak jadi nginep di luar kota?" tanya mama yang terlihat ngantuk.
"Gak mah. Oh ya bukan dong sayang amplop nya." perintah mas Ibra.
"Aku jika yah! mama sini duduk kita makan malam biar tambah gemuk." ucapku Mama menuruti perintahku.
"Masyaallah mas. serius loh ini?" aku berteriak bahagia.
__ADS_1
"Iya dong sayang selama nikah kita gak pernah kan honeymoon."
"Hehe makasih yah! aku bahagia banget." aku sampai terisak dibuatnya.
Mas Ibra memelukku erat, mama menatapku bahagia dan berkata.
"Kalian serasi, cocok semoga berjodoh sampai tua."
kami mengamini.
"Mah ijin membawa putri Mama yah aku janji deh cuma dua minggu."
"Iya selama juga boleh nak, Inge sudah menjadi milikmu seutuhnya jangan sakiti dia yah." ucap Mama terisak.
"Mama menangis bukan karena sedih tapi Mama bahagia sekali." ujarnya lagiembuatku ingin memeluknya.
"Inge janji akan membuat Mama bahagia." ucapku memeluk mama dan juga mas Ibra.
Sudah menjelang pagi kami sudah bersiap Karen tiket keberangkatan pukul enam kami pagi pagi sekali sudah bersiap , sudah pamit sama kakek juga dan Mama."
Kami pun berangkat, mas Ibra juga sudah pamit pada bunda dan ayahnya aku dan mas Ibra hanya tinggal berangkat saja.
"Jangan khawatir sayang semuanya beres kita tinggal bernagkat jangan lupa berdoa yah." mas Ibra mengcuo keningku tulus, aku mengangguk menuruti aoa yang ia katakan.
Hampir 10 jam perjalanan karena harus transit beberapa kali.
"istanbul'a hoş geldiniz." Ucap pemandu ada dua orang pemandu dan rekan kerja mas Ibra berjumlah lima orang beserta pasangannya masing-masing mereka seperti sudah merencanakan sebelumnya dan hanya aku yang tak tahu dari obrolan yang kudengar.
"Merhabalar..."
(Halo semua)
"Merhaba."
(Halo juga)
"Bunu tanıt aşkım."
(Perkenalkan ini istriku.)
"Merhaba." katanya akupun mengangguk.
"Nasılsın?" ucap mas Ahmed yang kulihat dari nametag nya.
"Iyim." Ucap suamiku.
Entahlah mereka bercakap aku tak paham dan tak mengerti hanya menjadi pendengar yang baik aja.
kami menuju hotel, aku masih penasaran kenapa mas suami bisa bahasa asing bahasa Turki?
__ADS_1