
"Ada apa bun, kenapa bagaimana nenek?"
"Sepertinya nenek harus dibawa kerumah sakit nak." Bunda tergugu dipelukanku aku merasa kasihan dan sedih tentunya.
Mas Ibra segera membopong tubuh nenek aku dan bunda segera membantunya, bunda berlari ke mobil untuk menyangga tubuh nenek disusul olehku mas Ibra nyetir sedangkan Ayah diberitahu agar menuju rumah sakit ABC.
"Ibu jangan tinggalin Naya huhuhu.. "
"Bunda yang sabar yah, semoga nenek baik baik aja." ucapku menenangkan bunda.
"Mas bisa lebih cepat bawa mobilnya." pintaku.
"Iya baiklah. " ucapnya.
butuh lima belas menit kami sampai nenek harus di bawa ke IGD Alhamdulillah sudah di tangani dokter kami menunggu tak sabar lalu ayah datang.
"Bagaimana bun keadaan ibu?"
"Belum ada kabar yah tunggu mungkin sebentar lagi." ucap bunda menenangkan ayah padahal tadi kulihat bunda sangat panik.
"Nak sebaiknya kalian pulang istirahat yah biar ayah yang jaga bunda juga pulang saja yah."
"Kami akan disini yah, sebelum tau kabar baik nenek." ujar mas Ibra walau nenek tak menyukaiku mas Ibra takbenci nenek.
beberapa menit kemudian dokter muncul memberi kabar bahwa nenek baik baik saja untung segera dong bawa kesini.
"Kalau boleh tahu kenapa nenek tiba tiba kambuh?" kataas Ibra.
"Keracunan makanan."
"Kok bisa? apa nenek tadi sempat makan setau bunda tidak. " kamipun terheran.
"Dok boleh kan kami menjenguk pasien." kata ayah lalu loker mengangguk dan pamit.
__ADS_1
Kami pun masuk setelah nenek di pindahkan ruangan rawat inap. nenek sudah sadarkan diri penampilan nya masih lemas dan memucat wajahnya begitu menyeramkan bagiku apa nenek sejahat itu dimataku yaallah maaf sifat suudzon batinku.
"Ibu bagaimana keadaan ibu? " tanya bunda. ia tersenyum sedikit sekali terlihat sangat lemas.
"Sebaiknya ibu istirahat yah, jangan nanyak pikiran biar cepat pulih." ucap ayah tapi sorot mata nenek tak suka jika ayah berbicara seperti itu.
"Semua gara gara kamu." nenek menunjuk tangan padaku seolah aku penyebabnya akupun tak mengerti.
"Aku kenapa nek? " ucapku karena penasaran kenapa jadi aku penyebabnya.
kebetulan mas Ibra sedang mengurus Administrasi. semua menatapku penasaran aku hanya menggerakan bahuku tak mengerti.
"Dia sudah meracuni aku nay! kalian pasti tak percaya kan? huhuhuhu... "
"Astagfirullah nek racun apa?" tanyaku
"Kamu gak bakal ngaku karena kamu benci sama aku kan?" nenek tergugu dan aku memang tak paham dengan tuduhannya.
"Dek mau kemana? "
"Pulang mas kepala Inge pusing." kataku memang itu uang sebenarnya.
"Nenek gimana?" tanya mas Ibra khawatir.
"Suruh bunda pulang katanya nanti besok gantian jaganya."
"Baiklah, kita pulang tapi mas mau jenguk nenek bentar yah."
Aku mengangguk dan menunggu dilobby
lima belas menit kemudian suamiku muncul dengan wajah datar.
Kami pergi ke mobil bersama mas Ibra seperti biasa membukakan pintu mobilnya untukku tapi tanpa bicara.
__ADS_1
Di dalam mobil mas Ibra masih diam tak seperti biasanya.
"Mas... "
"Hmmm... "
Kreekkkkk...
Yah itu suara perutku yang tak bisa diajak kompromi seketika mas Ibra menatapku.
"Kita makan dulu." katanya singkat padat dan jelas aku mengangguk hmmm kenapa harus bunyi sih memalukan.
Mas ibra menghentikan mobilnya di sebuah restoran milik bunda yang ku tahu.
Tak banyak bicara ia melangkah meninggalkanku aku mengekor saja, sepertinya aku harus bertanya kenapa sikap mas sedingin ini padahal tadi biasa saja.
kami duduk lesehan tanpa pesan dulu makanan sudah tersaji di meja tapi aku tak selera seyelah menatapnya kenapa mendadak mual. karena untuk menyenangkan mas Ibra aku terpaksa memakannya.
Setengah jam kemudian kita selesai makan dan kembali pulang.
"Mas dari tadi diam aja kenapa sih? "
"Gak papa dek."
"Mas gak biasanya loh."
"..... "
"Mas... aku mau mun.... "
"Apa lagi sih dek sudah diam saja kenapa?"
Tentu saja aku terkejut mas Ibra membentaku aku benar benar mual, aku menahan nya tak terasa air bening ku mengalir begitu saja. ku palingkan kearah jalan itu lebih baik. sesak didadaku tak tertahan lagi tapi mas masih saja diam membisu.
__ADS_1