
Sejak saat itu aku selalu menguatkan hati, pikiran dan telingaku sejak kedatangan nenek yang meresahkan hatiku ini.
Bunda dan ayah selalu membelaku kadang cacian nenek selalu membuat hatiku hancur tapi ya sudahlah memang kehidupanku tidak semewah yang dipikirkan.
"Mba Inge, sudah selesai nih." Ucap Mba Ana.
"Owh oke, cepat amat yak kita."
"Iya."
"Ya sudah tinggal angkut ke toko toko yang order nanti ku bantu deh, Mba Ana tolong catet alamatnya saja."
"Baik bu boss."
"Mba Ana bisa aja. Yaudah Mba aku ke kamar dulu bentar ambil hape. "
"Ok."
Ketika akan naik anak tangga nenek membuka pintu sepertinya sedang menerima tamu sih tapi aku tetap melanjutkan langkahku walau sorot mata nenek selalu kearahku.
Ku ambil gawai ku berniat ingin menghubungi mas Ibra, ku dengar nenek berbicara keras seperti sengaja.
"Alisa calon cucu menantuku tambah cantik dan bohai aja tuh. gimana ngajar di pondok betah?"
"Alhamdulillah nek Haji betah,"
"Pasti cucuku suka dengan kamu. secara sudah ustadzah pintar pula."
"Owh jadi nenek mau jodohin Mba Alisa itu sama cucunya. eh siapa yah cucunya? aku memang belum tau keluarga besar suamiku sih."
"Mba kok melamun mulu dari tadi." Temukan Mba Ana menyadarkanku.
"Astagfirullah Mba Ana. " ia hanya terkekeh.
__ADS_1
"Oh yah dimana Ibra calon cucu mantuku? apa iya masih bekerja?" Salah satu perempuan tamunya Nenek mungkin kawan lamanya. berucap.
Degh....
Inge mendadak lesu ucapan itu terdengar keras sekali samapai kedapur seperti sengaja.
"Mas kapan pulang. aku rindu apakah tidak detik ini saja mas pulangnya temani aku menghadapi nenekmu, aku harap cintamu tak akan berubah jika harus berpisahpun aku tak sanggup mas."
"Mba Ana, kalao sudah selesai kita anter bareng yah."
"Iya saya bawa aja barangnya. Mba Inge yang bawa motornya."
"Sip."
"Heh... sini kamu keluyuran aja kerjaannya."
"Abis nganterin orderan nek."
Aku menelan salivaku. sebegitu seriusnya nenek mau menjodohkan suami orang. cih mulai sekarang aku tak akan takut langkahi dulu mayatku.
"Nek ini teh nya,"
"Taro saja di situ. aku masih belum selesai tadarus. " tanpa menoleh Alisa hanya tersenyum manis padaku memang cantik sih, sudah pintar solehah pula.
"Baik,"
"Nek ica ijin keluar yah bentar." Ku dengar Alisa meminta ijin lalu ia mengikutiku untuk apa katanya?
Setelah keluar ia menarik lenganku.
"Mba siapanya mas Ibra? Jika Mba pacarnya tolong jauhi calon suamiku." ucapnya memohon.
"Hah."
__ADS_1
Hei siapa yang pacarnya kaya gak ada laki lain aja sih ni cewek, mesti di kasih pelajaran cantik cantik kok pelakor sih.
Alisa tetap mengikutiku samapai ke taman belakang aku duduk ia ikut duduk maunya apa sih.
"Mba kenapa ngikutin aku terus? "
"Nenek bilang kamu adalah kompetitor ku jadi aku harus waspada ada hubungan apa kamu dengan calon suamiku."
Aku menggaruk kepalaku tak gatal ingin ku katakan tapi takut dia kalau terlebih yang ku lihat Alisa benar benar tak tahu jika aku adalah istrinya kenapa pula nenek yak mberi tahu uang sebetulnya.
"Mba Alisa kan seorang ustadzah harusnya Mba faham hukum mendekati sua......."
"Jangan ganggu Alisa, kamu itu hanya sepupu nya Ibra jangan berharap banyak dari keluarga besarku, kamu gak punya kemampuan seperti Alisa yang pandai dalam bidang agama tidak seperti kamu,"
Nenek benar benar menguji kesabaranku aku tak habis pikir dengan pikiran kolot nya.
"Tapi selain sepupunya aku juga Ister...... "
"Sudah cukup jangan buat aku pusing." nenek menekan nekan kepalanya lalu meraung raung tangisan uang sepeti di buat buat.
Alisa langsung sigap terhadap wanita tua itu aku hanya bingung saja apa yang harus aku lakukan.
"Ibu kenapa? Nge." tiba tiba bunda datang.
"Sebaiknya Ibu istirahat. dan siapa kamu?"
Alisa hanya menunduk, aku mengikuti tiga wanita di depanku masuk ke dalam kamar nenek.
"Sebaiknya kamu istirahat sayang. ini jam kamu istirahat kan?"
"Iya bun, makasih aku ke atas dulu yah." Ahirnya aku ke atas ingin mandi itu yang ada di benakmu saat ini.
Mas apa kamu masih lama pulang ini sudah melebihi batas kerja kamu. menyebalkan.
__ADS_1