Dinikahi Sepupuku

Dinikahi Sepupuku
Bagian 16 Pulang


__ADS_3

Aku dan mas Ibra sudah tiba di bandara dijemput oleh Bunda rasanya rindu sekali dengan wanita yang sudah melahirkan sepupuku itu.


kami memutuskan untuk kembali lebih awak karena kondisiku seperti ini Bunda yang mendapatkan kabar buruk ini sangat khawatir dan segera menyuruh putranya membawaku pulang.


Bunda memang sangat sayang padaku terlebih putri semata wayangnya belum juga kembali karena pendidikan nya belum selesai.


Aku mengekor mas Ibra yang menyeret dua koper merasa lelah mengikuti langkahnya yang lebar.


"Mas jangan cepet cepet dong cape." kataku mengeluh.


"Astaghfirullah maaf sayang, mas lupa ayo kamu duluan yang jalan kita dijemput Bunda." aku mengangguk bunda memeluku erat.


"Gimana bulan madunya lancarkan?"


Kami berdua tersenyum palsu sejatinya kami tak melakukan apapun di sana malah masalah berdatangan.


"Eh anak Bunda sakit katanya yah? ayok sekarang kerumah sakitbdsrinsini deket kok sayang." Bunda sangat antusias sekali menyambut kami terlebih ketika mendengar aku sakit, aku mengernyitkan alis menatap mas Ibra agar tak pergi kerumah sakit secepat ini.


"Bun, nanti saja kasian loh istrinya aku masa harus pergi-pergi lagi."


Bunda tampak berpikir, dan setuju lalu kami akhirnya pulang, tapi pulang ke rumah Bunda entahlah sekarang aku merasa takut jika oulang ke rumah Bunda tidak seperti dulu.


Aku tertidur di pangkuan Bunda ketika dari bandara bisa nda terus mengusap kepalaku hingga aku tertidur.


"Sayang ayo bangun nak, sudah sampai loh." aku mengeliat rasanya mataku berat sekali beberapa kali di bangunkan bunda namun tak ada respon lagi mas Ibra segera membopongku.


"Mas lepasin ih." teriakku akhirnya karena malu aku membuka mataku dan meronta.


mereka yang melihatpun tertawa ria terkecuali orang tua itu.


"Mas lepasin dong." aku pukuli dada mas Ibra tapi ia tak mengentikan langkahnya terus m membawaku ke kamar kami.


"Jangan banyak gerak, mas mau kebawah sebentar tunggu yah." mas Ibra mengecup dahi ku lalu pergi ke bawah.


Karena aku masih terkantuk aku pejamkan mataku akan tetapi mas Ibra sudah kembali membawa makanan lalu menyuruhku bangun untuk makan.


"Dek makan dulu yuk."

__ADS_1


"Gak mau, makan aja sendiri."


"Masih marah humm."


"Ayo dong sayang, makan dulu yuk nanti boleh tidur lagi."


"Aku gak laper mas, kamu aja yang makan."


"Yaudah makan bareng mas yah, mas suapin oke."


Aku kesal pada pria ini pemaksa, gak peka sudah kubilang aku gak mau karena aku lagi ngambek. Mas Ibra begitu telaten menyuapiku tak butuh waktu lama karena sebetulnya aku lahap sekali ketika makan karena laper.


"Dek, mau makan apa lagi."


"Aku mau pulang ke rumah mas, gak mau di sini." sinis ku mas Ibra menghela nafas panjang.


"Kita baru sampe insyaallah nanti malem pulang yah, mas juga mau istirahat juga sebentar aja." katanya lelah.


"Oh mas cape juga ternyata." sindirku aku pergi ke kamar mandi dan membanting pintu keras-keras.


"Peluk-peluk mantan gak cepe." gerutuku sambil berlalu.


"Dek... buka pintunya ayo kita pulang sekarang." teriak suamiku mungkin dia berubah pikiran, ku buka pintu perlahan mas Ibra menunggu di depan pintu dengan tersenyum laki-laki itu terlihat tampan dengan kemeja hitam yang ia kenakan.


"Mau pulang sekarang?" tanya mas Ibra lembut, ia meraih tubuhku ke pelukannya menatapku lalu mencium lembut bibirku sekilas dan kembali memelukku erat.


Perasaanku tak karuan, bagaimana cara menanyakan perihal kemarin pada mas Ibra jika aku menunggu kejujurannya sepertinya tidak akan jujur dan sejak kapan mas Ibra jadi pelupa aku menghela nafas kasar dan melepaskan pelukan hangat darinya aku belum bisa tenang sebelum suamiku menjelaskan tentang pelukan itu.


"Mas ada sesuatu yang mau aku bicarakan!"


"Mau bicara apa sayang? mas dengarkan kok."


"Kemarin saat di Tu...." kalimatku terpotong oleh suara dering smartphone mas Ibra tangannya melambai agar aku menghentikan pembicaraan ini dan ia segera mengangkat telpon dan berlalu ke balkon.


Aku sudah Kedung kesal padanya akhirnya aku melentangkan tubuhku di tempat tidur saja sepertinya mas Ibra juga sedang menerima telepon dengan serius, ketika mas Ibra selesai aku pura-pura memejamkan mataku aku sudah tak mood untuk menegurnya.


Aku pikir suamiku akan membangunkan ku ternyata tidak ia malah pergi begitu saja karena terburu-buru, setengah jam kutunggu kedatangan nya tapi tak kembali aku bergegas mengganti pakaianku hari ini aku akan ke rumah Mama saja kalau begitu.

__ADS_1


Aku pamit pada Bunda tapi Bunda sudah berangkat ke butik tak ada siapapun di rumah bibi juga sedang keluar sepertinya. Nanti aku kabarin bund alewat telpon saja. Aku sengaja memesan taksi online dan menunggu sebentar perjalanan ke rumah Mama juga gak terlalu jauh.


Dari kejauhan aku melihat Mama sedang berjalan kaki tampaknya beliau sehabis pergi dari warung melihatku turun dari mobil ia tersenyum sumringah.


"Assalamualaikum Mah," sapaku Mama menjawab salamku lalu kami masuk ke dalam rumah.


"Neng kok gak sama kakakmu?" Mama menuangkan air ke dalam gelas lalu menyerahkan padaku yang sedang duduk di sebelahnya.


"Ada urusan, sepulang dari Turki istirahat sebentar trus pamit ada kerjaan." Aku terpaksa berbohong pada mama agar Mama tak khawatir jika aku ceritakan.


"Maaf ya mah gak sempet beli oleh-oleh buta Mama dan yang lain."


"Gak apa neng, lagian kamu ke sana bukan jalan-jalan tapi honeymoon." Mama ku tersenyum mengelus ujung kepalaku.


"Ma aku mampir sebentar aja ini mau langsung pulang gak apa-apa kan soalnya takut mas keburu pulang, tadi sih aku dari rumah Bunda."


"Atuh iya neng gak apa-apa, ini Mama juga bentar lagi mau ke rumah Bu Rum mau babantu." hanya sekitar 45 menit saja aku mengobrol dengan Mama karena rasanya aku ingin segera pulang dan beristirahat di rumah, Mama juga membekalkan beberapa kue yang baru dia buat dan sekalian untuk acara tetangganya aku pamit membawa motor metik kesayanganku biar lebih cepat.


setelah sampai aku membuka pintu rumah dan masuk, membersihkan diri menunaikan kewajiban sebagai umat muslim hari sudah menjelang Magrib tak ada kabar sedikitpun dari suamiku, ingin rasanya mengabari bahwa akan sudah dirumah tapi aku ragu mas Ibra kada suka mensilent gawainya jika di luar rumah.


Ting... ada chat masuk aku segera membukanya dari nomor tak di kenal siap yah kira-kira nomor tidak berprofil saat ku buka media yang ia kirim aku sangat terkejut sekali, apapun alasannya mas Ibra harus memberi tahu aku, ijin mau pergi aja nggak.


Akhirnya ku beranikan diri untuk menelponnya.


"Angkat dong mas... apa apaan sih kayak gini." Hati ku sesak sekali air mataku dmrak dapat ku bendung, kepalaku mendadak pening.


"Hallo dek, mas lagu sibuk lagu meeting tunggu mas yah."


"Meeting atau berpelukan mesra dengan MANTAN?"


"Dek... jangan salah paham mas bisa jelasin."


"Mas mau jelasin apa? semua dah jelas mas sedari di Turki mas sangat dekat dengan mbak Rini kini aku tahu bahwa mas tidak mencintaiku."


"Dek..."


"Gak usah pulang."

__ADS_1


Aku menangis sejadinya ternyata benar mas Ibra memang tidak mencintaiku semuanya demi orang tuanya saja, jangan berharap Inge kamu hanya dianggap sebagai adik saja sampai kapanpun.


__ADS_2