Dinikahi Sepupuku

Dinikahi Sepupuku
Bagian 6 Malam pertama


__ADS_3

"Neng! Aku tahu aku salah aku khilaf, mas minta maaf." Mas Ibra menunduk kedua lengannya menyentuh kedua bahuku.


"Mas sudahlah, aku juga paham! Pernikahan ini tak seperti yang mas harapkan mas Ibra tidak menginginkan pernikahan ini aku sudah paham aku nyerah mas." kedua tanganku mengusap ke wajah air mataku mengalir semakin deras hatiku sesak.


"Maafkan mas Neng. Iya mas egois mas gak jujur sama kamu, mas mohon maafkan mas yah." Mas Ibra memelukku erat sekali dekapan hangat nyaman yang kurasa harum aroma tubuhnya membuatku tak ingin melepasnya. Tapi hati ini begitu sakit mengingat maslaahky dengan mas Ibra.


"Sebaiknya kita pulang kasian bi Enah sendirian, ayah bunda kan lagi ke Sumedang."


"Aku gak mau pulang, aku mau sendiri sebaiknya kamu aja yang pulang." Aku hendak meneruskan tidurku namun mas Ibra kembali memelukku.


"Ayo neng pulang mas minta maaf mas salah." Mas Ibra mengiba aku juga sebetulnya tak tega tapi aku tidak mau secepat itu percaya padanya.


"Nanti aku pulang sendiri besok, aku bawa motor." Ketusku melepaskan pelukan sepupuku itu lalu melangkah ke tempat pembaringan.


"Biar nanti mang Maman yang bawa motor kamu, kamu ikut aku yah. Atau tinggal dulu aja disini please Neng."


Cup...


Aku masih duduk diam setelah apa yang dilakukannya tadi mas Ibra malah menyudahinya begitu saja. lalu mengajak pulang yang betul saja mas.


"Yuk keburu malam. aku udah ijin loh sama mama dan kakek untuk jemput kamu." Mataku membulat sejak kapan dia meminta ijin apa mama memberitahu aku disini hemm. Oh aku tau kenapa mas Ibra kesini sih tujuannya hanya untuk jemput aja?


"Aku gak mau pulang!" tegasku menarik selimut sampai menutupi tubuhku.


"Masih marah dan gak mau memaafkan suamimu tercinta ini?" Idih aku kembali membuka selimut menatap sinis pada sepupuku ini dan berkata.


"Iya aku marah, aku ngambek aku sebel sama kamu, aku gak ada artinya di mata kamu aku gak penting dalam hidup kamu." Yaelah sejak kapan aku jadi baperan seperti ini aku menyusut bulir mataku.


Tiba-tiba mas menyerang bibirku lagi bibirku di bungkam kembali olehnya mas Ibra lalu menindihku secara kasar pergulatan bibir semakin besar aku bahkan merespon dan menikmatinya lama kelamaan ciuman kira menjadi lembut mas Ibra menuntun ciuman ini dengan sangat hati-hati aku terpesona jantungku berdebar ada gelenyar aneh dalam tubuh ini. Mas Ibra menyudahi ciuman ini memelukku dengan sayang. Aku sangat Mak wajahku sepertinya memerah aku menundukan kepala karena malu.


Mas Ibra hanya terkekeh tadinya aku kan merajuk tapi dia gak peka entah tau dari mana sepupu sekaligus suamiku itu tau aku di rumah mama.


"Mau mas gendong?" bertanya. "Mau." dalam hatiku berkata


"Nggak." Aku pura-pura jual mahal.


"Nggak nolak kan?" godanya lagi. Allahu entah kekuatan dari mana malam ini ingin ku gigit dia seluruhnya tamvan sekali suamiku ini.


Akhirnya aku ngalah dan bangkit untuk bersiap pulang bersama mas Ibra sebelum ku melangkah ke kamar mandi yang ada di dalam ia berbisik.


"Kita lanjutkan di rumah aja." aku menyernyit geli, apa apaan sih sepupuku aku berlari ke kamar mandi karena malu hati ku berbunga perasaan apa ini apakah aku mulai mencintai suamiku, ada perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan. Saat ku keluar dari kamar mandi mas Ibra masih duduk dan memainkan ponselnya ketika aku datang ia segera memasukan ponsel ke jas yang masih ia kenakan lalu tersenyum.


"Berangkat sekarang?" Aku mengangguk karena sudah berganti pakaian tadi di kamar mandi kami pun keluar kamar untuk pamit dengan Mama dan Kakek.


"Mah Inge ijin pulang yah kakek mana?"


"Di masjid lagi pengajian bapak bapak." tanpa melirikku mama membuka majalah Ewer-ewer kesukaannya.


"Mah kami pamit yah! salam buat kakek dan ini buat Mama." mas Ibra menyerahkan amplop cokelat ke Mama.


"Lah apaan ini nak?" Mama mengambil dari tangan mas Ibraku dengan sopan.


"Sedikit rejeki buat Mama dari Ibra dan Inge." senyum mas Ibra kearahku akupun membalas menganggukan kepalaku dan tersenyum.


"Nak Mama bukannya gak mau Terima, Mama masih punya simpanan kok dari usaha Catering Mama alhamdulillah kemarin juga banyak yang pesan jadi ini tidak perlu buat simpanan kalian saja yah." Mama menyerahkan lagi di atas meja.


"Ma... Terima yah! mas Ibra dan Inge ikhlas ngasih Mama. dan ini satu lagi dari Inge buat kakek sampaikan salam Inge dan mas Ibra untuk kakek. kapan kapan aku dan mas Ibra mampir kesini lagi."


"Tapi nak... "


"Mah... kalau mama nolak ksmi gak akan pernah kembali kesini lagi" aku cemberut dan pura-pura marah agar Mama mau menerima uang pemberian kami.


"Baiklah, terimakasih banyak ya sayang. semoga kalian segera di kasih momongan yah! Mama kangen banget ngurusin bayi." Mama tersenyum mengusap pucuk kepalaku bergantian dengan mas Ibra.


"Kami pamit yah mah, Assalamualaikum." ucapku bersamaan.


"Iya hati-hati nak bawa mobilnya.


Waalaikumsalam." Jawab mama kamipun pergi meninggalkan kediaman Mama motorku tak aku bawa kata mas nanti mang Maman yang akan membawanya, didalam mobil kami saling diam mas Ibra fokus kedepan ia sesekali meliriku namun aku tak menghiraukannya aku masih berpikir kenapa aku gampang luluh sekali padanya apakah mas Ibra memakai sejenis pelet agar aku menurut padanya? Astaghfirullah Inge kamu jangan suudzon aku menepuk-nepuk kepalaku pelan yang meyadari itu mas Ibra membuka pertanyaan.


"Kamu gak apa-apa Neng, Mau makan di mana?"


"Terserah."


"Restoran cepat saji?"


"Boleh."


"Serius nih? atau mau restoran Seafood?"


"Terserah mas aja asal jangan ditinggal kabur lagi. nanti akunya kabur yang lagi."


Mas Ibra terkekeh mencubit hidung mungilku ini. Entahlah malam ini sepupuku itu tamvan sekali sih.


"Jangan liatin terus nanti naksir!"


"Apaan sih geer, tapi sama suami sendiri mah gak apa apa kali."


"Nggak boleh lah!"


"Kenapa nggak boleh? oh ya! Inge lupa mas Ibra kan sayang sama Inge cuma sebatas adik nggak lebih iyakan mas?"


"Itu kamu tahu." Ada gelenyar sakit di dada sungguh benar benar mas Ibra hanya mempermainkan ku saja.


"Tapi boong!" Ucapnya terbahak sumpah Demi apapapun mas Ibra malam ini sungguh tamvan dengan tawa renyahnya wajahku memerah karena menahan malu.

__ADS_1


"Ngeselin banget sih."


"Tapi kamu suka kan. yuk sudah sampai makan disini atau take way?"


"Makan sini aja deh."


"Oke! kamu pilih tempat mas yang pesan kamu mau apa?"


"Samain aja kayak kamu mas."


"Aku gak makan sayang."


Degh! sayang. Hati Inge berbunga-bunga pemirsah lihat wajahku merona pisan kan, sementara mas Ibra memesan makananya ke kasir aku duduk gak terlalu pojok suasana dışın gak terlalu rame juga tidak terlalu sepi biasa saja mungkin karena sudah mau malam.


"Ini makannanya, oh ya! Kamu jangan makan soda yah buat mas aja sodanya." Aku mengangguk mas Ibra m mbuka air mineral semnetara aku makan d Ngan lahap karena belum makan banyak hari ini.


"Selesai mas hayu pulang aku udah ngantuk mas." Aku menygelao sisa makan dimulutku dengan tisuue lalu bangkit menuju wastafel untuk mencuci tangan.


"Cepat amat laper yah?" aku mengangguk, aku sangat lapar sih heheh.


"Takeway buat Bi Enah. jangan lupa bawa yah yang." Aku tersipu mendengar ucapan manis sepupuku ini. kok makin bergetar saja saat panggilan indah dari mamasku.


"Mas lihat baju kamu masih ada yang lama yah yang?" Aku hanya diam saja karena panggilan mas Ibra yang sangat intim menurutku.


"Pakaian yang fi kasih mas sama Bunda belum aku bereskan, mungkin besok mas." Aku lupa sama pakaian baru itu.


"Iya gak masalah, kalau kurang bilang yah nanti mas belikan lagi yang banyak, oh ya! nanti deh rekomendasi sama Bunda aja biar lebih cantik beli hijab juga yah."


"Hah secepat itu yah." Decakku tidak apa-apa sih tapi aku belum biasa nanti akan aku coba siapa tahu dengan berpakaian seperti itu mas makin menyukaiku.


"Kamu sudah jadi tanggung jawab mas loh sekarang jadi mas harus didik kamu juga kan, harus pandai menjaga aurat kan kamu sudah menikah denganku."


"Baiklah. terserah mas Inge ngikut kata mas aja kalau itu lebih baik. Tapi di tempat Inge kerja dilarang pakai hijab besar mas." Aku ragu-ragu menyampaikan ini takut suamiku ini tersinggung.


"Yasudah resign aja mas juga mampu nafkahin kamu." Sambil masuk ke mobil tak lama mobil yang mas Ibra bawa sudah meluncur di jalan raya dengan fokus aku masih berfikir bagaimana caranya agar tak berhenti kerja aku sebenarnya masih kepingin kerja biar jadi wanita mandiri tidak m ngandalkan gaji dari suami tapi aku berpikir lagi kodrat seorang istri yah harus manut sama suami.


"Gimana nanti deh mas." Aku masih menimbang-nimbang tapi betul juga kata mas Ibra apa salahnya sih aku berhenti kerja dan fokus m ngurus rumah tangga, terus mama sama Kakek gimana mereka sih tidak meminta tapi aku sebagai anak fan cucu yang berbakti pada mereka harus memberi sesuatu atau sebagian hajiku.


"Mas kalau aku gak kerja nanti Mam..."


"Jangan khawatir nanti mas yang tanggung jawab kebutuhan Mama dan Kakek."


"Tapi mas... "


"Gak ada penolakan sayang! tenang saja kamu jangan khawatir yah." Mas mengelus ujung kepalaku dengan tulus.


Hening...


Tak perlu lama kami pun sampai dan ku lihat motorku sudah terparkir anteng di garasi, suamiku menepati janjinya, aku pikir gak akan di bawa ke sini lagi. Kulihat bi Enah membukakan pintu untuk kami.


"Den Mas tadi ada yang telpon dari rumah sakit." Bi Enah menyampaikan dengan canggung karena keberadaan ku aku melirik suamiku mengekornya. Mas Ibra mengernyitkan dahinya siapa? itulah yang ku tebak.


"Katanya sih mba Rini kritis lagi mas di suruh kesana kalau mas udah sampe." Moodku langsung turun dan kesal.


"Aku ke kamar duluan mas." kataku dengan datar lagi-lagi wanita itu selalu menganggu momen kebersamaan rumah tangga kami, tidak lihat kondisi hubunganku dengan mas Ibra baru saja baikan aku seperti di lempar kembaki ke tanah yang paling kotor setelah dibawa terbang kedunia kebahagiaan.


"Oh ya! bi Ini buat bibi jangan lupa dimakan yah!" Tanpa melirik sepupuku aku melanjutkan langkahku ingin sekali ku memaki kenapa sih sesembak itu selalu mengganggu mas Ibra.


"Sayang jangan marah aku gak akan berangkat kamu lebih penting dari dia." Mas Ibra mengekorku keatas.


"Ya bagus kalau nggak berangkat takutnya diam-diam pergi, jadi nyesel kan Inge ikut pulang."


"Duh istriku ini cemburu yah." ucapnya seperti tidak terjadi apapaun.


"Siapa yang cemburu gak yah." Aku melewatinya saat hendak ke kamar mandi mas Ibra terus berdiri disana.


"Tapi mas senang kamu cemburu. itu artinya kamu juga sudah mulai cinta kan sama sepupumu yang tamvan ini."


"Geer sekali kau."


"Iya dong harus! eitsss mau kemana?" Mas Ibra menghalangiku menyentuh h pinggangku dengan mesra aku tidak bisa marah kalau sudah seperti ini.


"Mandilah." ketusku pura-pura marah.


"Sudah malam tidak baik." besok saja mandi bareng aku yah mas Ibra mengangkat alisnya keatas kebawa.


"Gerah mas." kataku cemberut.


"Yaudah kita gerah gerahan bareng yuk." lalu Mas Ibra benar-benar membopongku keatas termpat tidur masa malam ini sih harus? gak nanti saja batinku aku harus yakin terlebih dahuku pada sepupuku ini agar tak merasa menyesal kedepannya.


"Mas aku belum siap." Aku menatap maniknya dan memohon agar jangan melakukannya sekarang.


"Yah!" ada raut kecewa di wajahnya.


"Maaf." ucapku.


"Gimana kalau mandi bareng aja?" seringainya menyeramkan.


"Apaan sih mas aku duluan..." Aku bangkit dan berlalri ke kamar mandi dengan rasa malu.


"Bareng aja kan Sunnah. jangan lupa ini malam jumat loh dosa nolak suami." ucapnya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi yang disah ku kunci dari dalam.


"Massss nanti deh malam Jumat selanjutnya aja." teriaku aku terkekeh aku tahu mas kamu sudah mrminta hakmu padaku tapi nanti mas aku nekum bisa sekarang aku masih butuh keyakinan dihatiku.


"Ayo dong sayang, mas janji deh gak bakal kasar." Laki-laki itu terus mengiba aku melanjutkan aktivitas mandiku tak kudngar lagi suara mas Ibra, tak butuh lama karena ini malam aku mandi hanya sebebntar kulihat mas Ibra sedang duduk di pinggiran tempat tidur sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Ayang sini." Aku terbelalak sejak kapan suamiku selebai itu aku tertawa dalam hati tapi senang juga mendengarnya, ku hampiri dia yang sejak tadi gelisah apa itu yang di namakan sebuah hasrat yang tertahan Inge ingat suami kamu sedang meminta hakmu dan kamu gak harus menolaknya batinku berteriak.


"Mas apa gak sakit?" tanyaku jelas itu bukan sebuah pertanyaan hanya alasanku saja agar mas Ibra merasa iba padakku.


"Mas janji akan pelan-pelan kok tenang aja." Aku mngerucutkan bibirku memainkan kuku-kuku pendek di jari-jari ku karena ragu aku merasa gugup.


"Jangan takut sayang, aku bukan orang yang jahat jika belum siap okelah aku gak akan maksa mas Ibra bangkit untuk keluar kamar ada raut kekecewaan di wajahnya karena aku menolak permintaannya.


"Mas tunggu!" Aku memeluknya dari belakang merapatkan pelukan dan menghirup bau parfum tmyang tercampur dengan keringat tapi harum.


"Aku gak akan maksa, keringkan dulu rambutnya sebelum tidur." Mas Ibra melepaskan pelukanku aku merasa kecewa aku juga melihat raut kecewa mas Ibra mungkin perasaan kecewa ini juga yang mas Ibra rasakan. Aku mengekornya ke ruang kerja mas Ibra selama menikah lebih dari dua Minggu aku baru tahu kamar di sebelah ruang keluarga lantai atas adalah ruang pribadi mas Ibra disana juga terdapat kamar mandi dan tempat tidur tak sebesar di kamar kami.


Mas Ibra masuk ke kamar mandi tanpa melihatku aku tahu mas Ibra pasti marah, ini salah kau Inge Karen amenolak keinginan suamimu dosa kamu Inge dosa. Ucapan itu selalu terngiang di telingaku sampai mas Ibra keluar aku tak menyadarinya kimono mandi yang aku pakai sekarang membuat mas Ibra terpana dan rambut basah ini membuat aku terlihat seksi. Mas Ibra memberikan handuk untuk mengeringkan rambutku yang setengah basah.


"Sini mas keringkan habis ini lekas tidur." ucapnya datar.


"Mas maafin Inge, Inge salah sudah menolak keinginan mas tapi mas harus janji jangan kasar-kasar yah." Aku terisak di pelukan mas Ibra ia mengangguk dan kami kembali ke kamar utama kami.


Mas Ibra menepati janjinya kami melakukan ritual suami istri untuk pertama kalinya, karena buaian mas Ibra sangat kunikmati tak terasa perih dan aku terus menikmati segala sentuhan mas Ibra. Kami melakukan penyatuan dengan sadar mas Ibra begitu gagah, setelah mencapai puncak kami tertidur lelap. Saat subuh menjelang kami melanjutkan kegiatan panas hingga beberapa kali klimak setelah lelah kami berhenti dan mandi bersama.


Setelah mandi kami melangsungkan ibadah berjamaah dengan khusyuk, dalam doa aku memohon agar pernikahan ini baik-baik saja langgeng tanpa rintangan apapun.


"Semoga rumah tangga kita selalu harmonis yah yang," mas Ibra mengecup dahiku mesra."Terimakasih suadah memberikan hak mas yah yang." sungguh aku tersipu lalu kami berpelukan dengan erat.


"Duh yang abis keramas!" ucap bunda cengengesan, loh bunda kenapa sudah ada di dapur sih pagi-pagi buta, duh tambah malu dong aku ini wajahku sudah seperti kepiting rebus aku tersenyum malu.


"Bunda sudah pulang, sejak kapan?" Aku segera bergabung membantu Bunda kulihat bi Enah juga tersipu melihat rambutku yang basah.


"Udah masuk gawang belum?" Bunda terkekeh melihatku yang semakin malu.


"Hah!"


"Buatin bunda cucu yang banyak biar rumah ini rame ya." bisiknya, sungguh aku malu sekali jadi dari semalam Bunda sudah sampai kenapa tidak mendengar kedua mertuaku sampai rumah sih kan jadi malu Mama...


Aku mengangguk saja, tak ingin membuatnya kecewa, aku juga sudah memutuskan untuk berhenti kerja untuk fokus mengurus rumah tangga saja mas Ibra juga menawarkan agar aku membuka usaha dirumah agar aku tak kesepian katanya atau mau ikut bekerjasama dengan Bunda tapi aku menolak sebetulnya bunda tak masalah dia dengan senang hati menerimaku hanya saja aku yang menolak karen agak mau merepotkan mereka.


Sudah dua minggu sejak percumbuan kami, aku sudah tak bekerja lagi terlebih aku memilih mengurus rumah saja, Bunda bilang juga dulu begitu menjadi ibu rumah tangga yang baik dan berbakti. tapi lama kelamaan memang membuat bosan. Aku berinisiatif membuka usaha cake menyibukan diri mempelajari menu dan resep terbaru aku juga sering ke toko buku untuk membeli buku menu terlebih menyewa seorang chef dalam bidang cake untuk mengajariku, mas Ibra yang menyarankan agar aku les memasak.


"Lelah banget kayaknya?"


"Enggak kok mas, cuma kurang tidur aja gimana kerjaannya?"


"Alhamdulillah lancar berkat doa dari istriku pastinya." sambil mengecup dahiku mesra sejak kejadian malam bahagia itu kami sangat sering melakukannya.


"Mas kata bunda, Nenek haji mau datang yah?"


"Wah! iya kah?"


"Heeum." kataku lesu.


"Loh kok murung, kenapa gak senang yah?" Hmmm tampan sekali suamiku ini aku membatin.


"Gak juga, hanya saja kok aku merasa gak nyaman yah mas."


"Gak nyaman gimana maksud Ayang?" Hatiku berasa ada kupu kupu berterbangan karena panggilan sayang dari sang sepupu itu artinya mas Ibra memang sudah menerimaku sepenuh hatinya.


Wajahku memerah dong tersipu, aku menenggelamkan kepalaku di sela-sela ketiak suamiku bermanja-manja ria dengannya.


"Heheh... istriku malu kenapa tuh? hemm." Sambil di ciumi dong aku nya.


"Aduh mas," Hahahaha kamu lucu banget sih gemesin." ucapku sambil memainkan hidung mancung mas Ibra.


"Mas menurut mas Nenek haji gimana orangnya?"


"Baik kok, kenapa sih kayak takut banget gitu." Ia aku merasakan ketakutan sampai mas Ibra juga merasakan ketakutan ku.


"Gak takut cuma was-was aja. apalagi kan mas mau keluar kota lagi." Akuterlihat murung, diiusapnya rambut ku dengan lembuti lalu mencium dahiku berkali-kali.


"Gak usah takut, Nenek itu baik hanya saja memang sedikit crewet. kalau kamu gak mau nemuin Nenek ikut mas aja keluar kota gimana?"


"Kok gitu? gak enak dong masa baru jadi cucu menantunya udah durhaka gak mau nemuin, terus disana yang ada kamu gak fokus kerja nanti malah mau ya mesra-mesraan terus sama aku." Duh aku bilang apa sih berkata demikian.


"Nah itu tau. hahhaaa." Mas Ibra tertawa lepas hingga barisan gigi putihnya terlihat jelas.


"Iiihhh mas serius aku tuh." kataku cemberut.


"Yaudah mau ikut mas?"


"Hmmm banyak orderan, aku kan belum punya mas paling bi Enah yang bantu kasian kan beliau itu kalau ditinggal." keluhku sambil merapihkan rambut suamiku.


"Yasudah berarti ketemu nenek dong."


"Ya harus kayaknya," ucapku lesu.


"Tidak usah takut, kalau Nenek galak tinggal kamu usir aja dari sini." kesekian kalinya mas Ibra terbahak.


"Ihh mas jahat banget sama Nenek sendiri."


"Kok dibilang jahat sih, aku gak jahat dong sayang cuma memberi saran aja. Duh istriku makin cantik yah kalau cemberut gitu." Katanya gombal.


"Ya jahat godain aku terus." Aku cemberut.


"Sini peluk." Mas menarik tubuhku makin erat.


"Gak mau ngambek." sambil berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


"Ikut..." ucap mas Ibra terkekeh.


Braakkkk... pintu di tutup keras olehku karena kesal.


__ADS_2