
Sebetulnya aku pikir mas Ibra akan mengajaku ke tempat meeting namun ternyata tidak sama sekali sedang dinas. itu hanya alasan saja ingin mengajakku dan memebrikan kejutan katanya.
"Dek, sini jangan jauh jauh nanti ilang kamu." aku sedang menyusuri pantai selat Bosphorus yang indah dikala petang banyak turik berlalu lalang serta melakukan Selfi ada juga yang mrngantri m naiki kapal yang akan mengajak mereka berkeliling di laut, pemandangan indah gedung menjadi view kami angin sepoy menerjang kami yang sedang santai duduk di bangku yang sudah disediakan.
Mas Ibra mengajaku ke sebuah restoran di kekat pantai untuk menikmati makanan khas negara ini kalian pasti tau kan makanan apa?
Kebab menjadi menu favorit disini aku juga belum pernah makan kebab sebesar dan seenak ini kami memilih untuk meja yang tak jauh dari pemandangan laut yang mulai menguning karena senja.
Kebab Ali Ocakbasi berbahan daging sapi cincang bercampur lemak kambing. Kedua bahan itu digulung dan dipanggang di atas tungku kayu bakar.
Aroma kebab adana yang harum telah menggoda sejak masakan itu masih dipanggang dan mengepulkan asap putih. Dalam sekian menit, kebab itu telah mampir di lidah kami dan meninggalkan jejak gurih, asin, asam, pahit, dan bau asap yang tegas.
Kebab ini disantap dengan saksuka, lavas (sejenis roti tawar tipis), keju kambing beraroma tajam, dan bulgur yang dimasak dengan saus tomat serta bawang.
Wah nikamat sekali rasanya gaezz... setelah makan kebab kami disuguhi çai/teh khas negara sana sungguh nikmat rasanya.
menjelang adzan magrib aku dan mas Ibra menuju masjid Hagia Sophia untuk melaksanakan salat berjamaah hotel kami juga tak jauh dari tempat keduanya sambil menunggu waktu Isya kami berdzikir bersama ada yang melanjutkan aktivitas adabyang pulang tapi aku memilih salat disini setelah itu kami akan kembali ke penginapan.
"Gimana hari ini yang senang gak?"
"Seneng banget dong Mas."
"Besok kita berjelajah lagi kamu kuatin fisik kamu yah."
"Memangnya mau kemana mas?"
"Ada deh, sini peluk." aku menurut saja atas permintaan suamiku.
Aku rasa temoat ternyaman adalah pelukan suami aroma maskulin yang sudah sedikit bercampur keringat.
"Ih mas bau, belum mandi Hoekkk .."
Aku segera karu ke toilet diikuti mas Ibra
"Kenapa muntah yang, kamu masuk angin kayaknya deh tadikan lama di pantai." benar juga sih angin pantai kan tidak baik.
"Mau mas kerik gak? Mas bawa minyak kayuputih kok atau mau makan lagi."
Aku menggeleng gak mau di kerik sakit, sebenarnya aku lapar lagi tapi aku bingung disini kan gak ada nasi.
"Mas aku mau makan nasi bolehkan."
"Astaghfirullah kamu laper lagi yah. sampai masuk angin begini." Mas Ibra memapahku ke tempat tidur.
"Aku coba pesan yah! mau nasi apa dek?"
__ADS_1
"Nasi goreng boleh, apa aja deh pengen nasi banget."
"Ok." Mas Ibra mengotak-atik gawainya aku memejamkan mataku sebentar setelah di balur minyak kayu putih sudah lumayan reda rasa mual ini.
Mas Ibra menelpon seseorang yang ku dengar bagian dapur hotel.
"Dek mas mandi dulu yah sebentar kalau ada yang mengetuk pintu jangan dulu di buka oke." aku mengangguk.
Tidak lama mas Ibra selesia bersamaan dengan ketukan pintu di luar, aku memeriksa gawaiku siapa tau ada Mama atau Bunda yang telpon , mas Ibra bilang jangan khawatir tentang mereka karena sudah mas kabari.
"Nih makan, mas bawain kesini atau makan di meja makan?"
"Bawain mas maaf yah."
"Oke tuan putri."
Mas begitu telaten membawa makanan ke sisi tempat tidur kebetulan tersedia meja kecil jadilah kita maka di kamar.
"Mas kok menunya bikin laper semua yah?"
"Haha iya dek, mas juga jadi ikutan laper loh yuk makan bismillah." kami makan dengan khidmat masakan ini terasa di lidah mas Ibra memesan bermacam macam maskaan khas Indonesia ada sate, sop buntut, ayam bakar, tak lupa menu tahu tempe goreng dan kerupuk.
"Aku pikir disini susah cari makan makanan kita yah?"
"Banyak kok sayang yang jual, restoran juga ada beberapa sih."
"Heeum kalau tadi kamu mau makan lagi pas di masjid aku aja kamu makan di warung Ibu Deden disana menyediakan khusus makanan kita."
"Lain kali deh mampir yah mas."
"Boleh, ini minum teh nya enak banget loh."
Aku mengambil dan meminumnya terasa hangat dan nikmat, setelah makan aku mulai mengantuk.
"Jangan dulu tidur dong sayang tunggu 15 menit baru boleh biar tercerna dulu makananya."
Aku mengangguk, dan bersandar di kepala ranjang diikuti mas Ibra.
"Sayang pulang dari sini kita harus menghasilkan bibit unggul yah."
Aku menatapnya dan tertawa
"Bibit apa sih anggur? atau sejenis buah lainnya." Mas Ibra malah terbahak dan mengecek email masuk dari gawainya.
Sudah lewat lima belas menit aku terkantuk dan tidur entahlah mas Ibra masih betah saja duduk di sofa menatap layar telepisi, kurasa kantuku memang benar-benar sudah menerjang sampai tak sadar jika aku memang sudah tertidur.
__ADS_1
Pagi harinya aku terus muntah dan perutku terasa mual sebelum subuh ini yang kurasakan sebelum berangkat kesini pun.
"Dek, masih mual ini minum teh jahe."
Aku muntah tapi hanya cairan bening saja yang keluar bening dan kekuningan.
"Kedokter oke?"
"Aku menggeleng, salat subuh dulu yuk."
"Sudah baikan?" aku mengangguk lagi setelah itu kami mengambil wudhu dan pergi ke masjid. ternyata di masjid sudah banyak jamaah kulihat banyak beberapa rombongan jamaah dari Indonesia kami berbaris sebelum itu aku sudah janjian sama mas ketika hendak pulang nanti siapa yang duluan kita harus nunggu di serambi masjid.
Setelah selesai akupun bertemu kembali dengan mas Ibra kami memutuskan untuk tidak kembali ke penginapan mas berjanji akan bertemu dengan kawan kawannya dan pemandu wisata kemarin karena kami memisahkan diri dari rombongan.
Percakapan yang kudengar sih kami akan ke Cappadocia tapi aku rasa kurang setuju dengan kondisiku seperti ini mas berjanji katanya mau bawa aku periksa ke dokter terlebih dahulu.
"Mba Inge kenalan dong, aku Melly istrinya Rudi kita kan satu pesawat kemarin maaf yah bekum sempat kenalan." katanya wanita anggun nan cantik ini tersenyum manis akupun mengangguk dan tersenyum.
"Aku Aida kamu pasti masih muda dibawa usiaku yah, aku istrinya Iskan ini anakku Farida." mba Aida mngenalkanku pada putrinya yang cantik jelita aku kembali mengangguk.
"Mba Eca sedang tidak enak badan, jadi gak dateng kayaknya." ucap Melly yang kutaksir usianya sama denganku.
"Katanya Bu Siska juga mau nyusul sama Anka dan suaminya kita kenalan yah aku belum kenalan sama mereka loh." ujar Mba Aida.
"Mama aku laper pengen makan, beli roti bulat besar yuk." Farida menunjuk ke arah pedagang simit yang kutahu dari mas Ibra semalam.
"Kakak mau beli itu, yuk sama Tante aja." ajakku akuoun pergi bergandengan kedua wanita di depanku malah tersenyum manis mereka mengekor kami.
Para suami kita sedang kumpul tak jauh dari amang amang penjual simit itu mas Ibra tersenyum manis padaku disela obrolannya masih demoat aja ngelirik lirik.
"Sayang kenalin ini pak Iskan dan pak Rudi rekna kerja mas." aku mengangguk begitu juga dengan mereka.
"Lebih baik kita sarapan bareng aja yuk gimana?" usul pak Iskan kamipun n setuju setelah membeli kue simit yang Farida mau kami segera mencari restoran yang menjual makanan kita.
"Mba Rini kenapa belum sampe yah?"
"Biasa orang pengantin baru mah."
"Mba Inge sama mas Ibra juga pengantin baru tapi tepat waktu kan, dari awal bersama aku gak sreg sama mba Rini."
"Gak boleh gitu mba Mel, kita tunggu aja mungkin sebentar lagi." ucap mba Aida, Aida itu memang terlihat keibuan.
setelah pesanan datang kami makan bersama dengan khidmat, mas ibra terus melayaniku terus memberikan perhatian hingga kedua temannya cengengesan menggoda.
"Enak banget yah nikah sama adik sendiri romantis amat elu."
__ADS_1
"Aku tersipu wanita di hadapanku menatapku kami saling menatap muka ada tanda tanya besar di dalam kepala mereka.