
Mas sarapan dulu."
Kulihat ia berjalan dari atas tangga sudah rapi menggunakan baju kerjanya. Aku sendiri memang belum bersiap karena menyiapkan sarapan dulu.
"Oke." Ucapnya sambil tersenyum entah kenapa hari ini ia terlihat tampan.
"Serius mau berangkat kerja?" Tanyaku penasaran karena jelas salaman ia tidur di sofa dan mungkin bergadang.
Sejak kejadian kemarin aku mencoba berdamai dengan hatiku mungkin mas Ibra mencoba memberi pengertian kepada wanita yang mungkin itu adalah tunangannya. Ingin aku bertanya tapi aku tak berani biar nanti saja saat waktu yang tepat.
"Dek! Kemarin mas ketemu sama Rini." Ku palingkan wajahku padanya aku tersenyum menenangkan hatiku dan bersikap aku tak tau apa apa. "Ya tentu tahu mas aku juga melihatnya kalian nampak begitu mesra kemarin kan." Aku hanya bisa menjawab dalam hati saja.
"Tunangan mas yah?" Mataku berbinar sebisa mungkin aku bersikap ngasal saja.
"Kami sudah sepakat dek."
"Mau menikah?" Tanyaku spontan.
Mas Ibra malah ketawa cengengesan melihat ekspresi ku mungkin yah aku dapat terkejut sih. Siapa juga yang mau dimadu cobaemdimg pas acara kemarin gak usah nikahin aku kali.
"Emang boleh mas nikah lagi hem?"
"Gak mau lah mas." Spontan lagi ku jawab ini mulut sama hati kompak bener sih.
Dia terkekeh lagi apa nya sih yang lucu.
"Kamu lucu juga yah!"
"Dari lahir mas."
"Iya iya... Bahkan kamu hobi banget kan malakin aku cokelat saat mas masih SMA." Ucapnya sambil mengunyah nasi yang sudah ku ambilkan di piringnya.
Loh kok dia masih ingat yah jadi senyum senyum Sendiri nih.
"Itu kan dulu mas akunya masih kecil."
__ADS_1
"Iya masih imut dan lucu."
Apa? Dia serius bilang begitu duh makin merah nih wajah.
"Sekarang juga masih kan?" Ucapku lagi kali aja iya.
"Sekarang beda lah... Udah gak imut lagi dan semakin.... Hmmm."
Pasti jelek aku udah pastikan aku memang gak secantik wanitamu mas aku juga sadar diri kok.
Aku masih menatap suamiku untuk minta jawaban seperti dia mengerti tatapanku.
"Kamu semakin cantik dek." Ucapnya.
"Gombal!" Seruku.
Dia malah ketawa lucu juga sih ternyata mas Ibra ku ini.
"Sudah selesai kutunggu di mobil di depan. Gak usah dikunci rumahnya kata bunda bi Enah sudah kembali." Aku mengangguk dan segera ku bereskan sisa sarapan kami lalu ku ijin untuk mengganti pakaian.
"Oke."
Tak makan waktu lama akhirnya sampai di kantorku dan mas Ibra pun pergi tanpa kecupan hanya salim tangan saja. mungkin mas Ibra memang benar belum bisa menerimaku.
______________________________________________
Di tempat lain
"Rin! Ibra itu sudah punya istri jadi lo jangan berharap lagi, dan lo tau gak istrinya Ibra?" Rini menggeleng.
"Namanya Inge, mereka sepupuan Rin." Mata Rini semakin melebar yah ia terkejut.
"Astaga Ibra gak cerita ke gue Fir, dia bilang dijodohkan ayah dan bunda nya."
"Lo gak mau nyelidikin gitu?" ucap Firda Rini menggeleng ia tak sejahat itu.
__ADS_1
______________________________________________
"Ciyee yang dijemput lakinya."
"Apaan sih biasa aja Mawar, kan kamu juga punya laki."
"Hehehe gue duluan yah!" dianggurin Inge.
lalu Inge melangkahkan kaki menuju mobil suaminya.
"Assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam masuk dek. gimana kerjanya?"
"Baik mas, kita langsung pulang?"
"Mampir makan dulu yuk." Inge mengangguk
sesampai di tempat makan Ibra dikejutkan dengan kehadiran Rini dan sahabat nya Firda.
"Selamat sore.... " teriak Firda yang menyadari kedatangan pasangan baru itu Rini menoleh ada rasa kecewa pada Ibra bagaimana tidak ia sangat romantis dengan istrinya harusnya Rini lah yang berada di sisi Ibra sekarang.
Rini bangkit, tanpa pamit pada sahabatnya lalu Firda menyusulnya dengan cepat.
Kedua pasangan itu nampak saling memandang Inge sudah tahu hubungan suaminya dan Rini pasti karena dirinya mereka harus siap berpisah.
"Kamu duduk dulu aku kesana sebentar yah." Inge mengangguk ia mengerti perasaan keduanya selang beberapa menit suaminya tak juga kembali, semenit dua menit lima menit setengah jam satu jam Inge hanya menyantap makan sendiri untung saja ia selalu membawa uang. ia berpikir akan menyusul suaminya keluar tapi nampaknya mobilnya pun tak ada itu artinya sejam tadi ia pergi bersamaku mantan pacarnya eh bukan tapi masih pacarnya maaf. hati Inge sesak sesaat matanya berembun ia berjalan keluar rumah makan itu menyetop taksi untuk pulang.
Rasanya tak sanggup lagi untuk mempertahankan pernikahan ini inget sadar diri bahwa ia lah penyebab mereka berpisah. tak terasa bulir nya mengalir begitu saja tak makan waktu lama Inge sampai ke rumah tak ada tanda tanda mas Ibra sudah sampai. pasti masih bersama Rini biarkan saja jika memang keputusan mas Ibra ingin menikah lagi biar Inge yang mundur saja.
Hatinya hampa perempuan yang tak beruntung menurutnya memiliki suami tapi hatinya milik orang lain yang paling nyesek kenapa harus sepupunya sendiri.
aku menangis sejadi jadinya setelah menghempaskan dirinya ke kasur kebesaran mereka.
aku juga sudah menghubungi mas Ibra beberapa kali di rumah makan tadi tapi tidak di angkat bahkan sambungan terakhir di non aktifkan aku semakin kesal dan frustasi ku biarkan air mata ini mengalir deras. semoga tangisan ini untuk pertama dan terakhir hingga aku memejamkan mataku berat.
__ADS_1