
Setelah tidur malam pertama pengantin aku dan mas Ibra masih belum melakukan malam pertama aneh sih! aku sendiri belum siap karena setatus suamiku itu adalah sepupuku sendiri terlebih mas Ibra juga belum meminta haknya padaku.
Aku berjalan ke kamar mandi hendak membersihkan badanku dan lekas salat subuh tak kulihat mas Ibra ternyata ja sudah bangun lebih dulu dan kenapa gak membangunkanku sebel.
"Neng, sudah bangun?" aku mengangguk.
"Mas kenapa gak bangunin aku."
"Heheh... mau mandi bareng?!" dengan wajah polosnya Ibra. "Mas juga baru bangun kesiangan ini."
"Yaudah mas dulu yang mandi kamu kan mau kerja aku nunggu mas selesai.." kini wajahku tambah merona saja.
"Kamu emangnya gak kerja?" Mas Ibra menyenderkan tubuhnya di pintu kamar mandi.
"Aku masih cuti mas, kemungkinan lusa baru masuk."
"Oh yaudah aku duluan." katanya langsung masuk, siang kemarin setelah aku tertidur ternyata mas Ibra bangun kembali dan mrlanjutkan pekerjaannya sampai sore aku hanya bertemu dia di saat makan malam saja entah pergi kemana pria itu semalaman saat bangun pagi ini kami sama smaa kesiangan.
Usai berjamaah aku tak langsung kebawah hendak menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah ini. ternyata bunda sudah bangun juga aku merasa malu pertama tidur di rumah mertua bangun sudah kesiangan.
"Bun aku bantu yah! maaf kesiangan." Bunda terseyum melirik rambut basah menantunya.
"Gak apa-apa namanya juga pengantin baru wajar dong sampai siang juga gak apa-apa lanjut kan heheh."
"Lanjutkan apa bun?" tanyaku polos aku tahu hanya berputar-putar tak mengerti aja, aku juga sengaja keramas pagi ini agar Bunda dan Ayah percaya kami sudah melakukan itu.
"Gak apa-pa sayang, yaudah siapin piring aja buat kita makan yah." Aku mengangguk dan menata piring di meja makan.
"Nak kalian masih free kan? tanya Ayah."
"Aku kembali kerja yah! kerjaan banyak banget gak mungkin kalau dibawa kerumah sama aja dong gak free." ucap mas Ibra kami sudah berkumpul di meja makan.
"Aku juga lusa sudah masuk lagi yah, banyak laporan sudah beberapa harikan Inge cuti." Aku memamg sudah mengambil cuti lebih awal tadinya hari ini aku akan kembali bekerja, tapi atasanku bilang nanti aja Senin.
"Kalian kan masih pengantin baru pasti boss kalian juga maklumin kok." Ayah terlihat tak senang.
"Kalau kemauan anak-anak ya gak apa-apa yah!" Bunda menengahi ia tak ingin dipagi buta sudah berdebat.
"Neng Inge, apa sebaiknya kamu tidak usah bekerja lagi, kamu fokus saja urus rumah tangga, sambil program hamil." Ayah sudah kepingin banget punya cucu.
"Ayah!" Bunda tak mau mengusik aku sebagai menantunya walaupun ucapan suaminya benar.
"Maaf Yah Inge belum bisa resign untuk saat ini." Aku menunduk mas Ibra tetap melanjutkan sarapannya ia hanya pokus mendengarkan obrolan yang ada di hadapannya.
Setelah selesai sarapan aku dan mas Ibra bergegas ke kamar untuk bersiap, sebagai istri aku harus siap melayani mas Ibra kapanpun.
"Neng kamu serius udah mau masuk kerja lagi?"
"Iya mas!" Aku mengangguk tanpa menolehkan pandanganku padanya.
"Bagaimana kalau mas menyuruhmu untuk resign saja, fokus dirumah yah. İtu kalau Neng mau."
"Maaf mas, untuk saat ini aku mau fokus kerja dulu lagian kan belum hamil eh." Mampus gue! Kayaknya mas Ibra gak seneng deh aku berkata demikian lagian untuk apa di rumah urusan perasaan aja masih belum ada kemajuan aku gak mau menanggung rasa sakit sendirian.
"Neng aku suami kamu ingat kan, aku gak ngijinin kamu kerja lagi aku masih mampu nafkahin kamu kok." Katanya dengan pendiriannya.
Aku mengangguk dan menunduk nanti aku pikirkan lagi gimana baiknya, semalam aku juga lupa untuk meminta ijin padanya perihal aku masih kerja karena aku ketiduran.
"Maaf mas. Aku masih ingin kembali bekerja." rengekku.
"Untuk kali ini mas ijinin sekalian pamit sama atasan kamu, kamu sekarang sudah menjadi seorang istri bukan berarti lupa tugasmu."
"Iya, makasih mas." Aku tersenyum lebar aku dan mas turun bersama.
"Loh ayah bunda mana mas?"
__ADS_1
"Jam segini mereka sudah berangkat kei Toko."
"Benar benar luar biasa."
"Begitulah mereka biar gak bosen katanya mending pergi pagi-pagi." mas Ibra terkekeh.
"Mas aku mau ke supermarket, bolehkan?"
"Mau bareng?"
"Kita gak searah kan?!"
"Gak apa apa aku antar."
"Baiklah."
Sesampai di depan Supermarke aku turun denga cepat karena takut mas Ibra kesiangan.
"Cepat pulang dan jangan keluturan, aku ada meeting sampai sore. " teriak mas Ibra seperti peringatan aku segera menganggukan kepalaku. İa melajukan mobilnya memutar arah.
Aku masuk ke dalam supermarket memilih belanja kebutuhanku, setelah selesai aku pergi ke butik tak membeli beberapa pakaian dan mampir ke toko underwear setelah itu pulang dengan selamat sesampai dirumah aku bingung masih pagi belum terlalu siang aku menelpon atasanku saja jika aku masuk jam segini nanti pulang agak malaman gak masalah inin bisa di kantor sama mas Ibra nanti. Akupun berdandan alakadarnya dan mengganti pakaianku lalu bergrgas pergi ke kantor tempat kerjaku.
Tak lupa aku mengabari mas Ibra, meminta maaf karena hari ini aku benar-benar sudah kembali bekerja. Belum ada balasan darinya.
Di tempat lain
"Ibra kamu jahat, kenapa tega kenapa aku kurang pantaskah untuk mu mana janji kamu Ibra?" Rini kecewa karena mengetahui kekasihnya sudah menikah yang membuat ia shock istrinya adalah sepupunya sendiri.
"Maaf aku gak bermaksud menghianatimu tapi mungkin ini sebuah takdir untuk kita Rin kamu masih punya banyak cita cita kan? sekarang aku membebaskanmu Rin kamu bilang ingin berkaierkan?"
Saat ini kedua pasangan yang gagal itu telah singgah di Cafered membicarakan masalahnya dari hati kehati namun ada sepasang mata yang menyoroti keduanya dengan wajah ditekuk dan merasa kecewa.
Ibra terus menggenggam punggung tangan Rini menguatkan agar ia melepaskan hubungan ini. Rini masih diam dan sesegukan tak ingin bicara banyak saat ini.
"Ibra kamu gak pernah melakukan apapaun menyangkut fisikku jadi tidak masalah, tapi hatiku sakit Ibrahim sakit." Rini terus saja histeris Ibra memeluknya menenangkan Rini.
"Kita bisa jadi sahabat atau teman yah boleh yah, karena sekarang aku sudah menikah rasanya tak pantas jika kita masih seperti ini." ucap Ibra hati-hati ia tak ingin melukai mantan kekasihnya itu.
"Baik aku tidak akan mengganggumu lagi," Rini hendak bangkit tapi tangannya di cekal oleh Ibra ia memeluk kembali Ibra juga merasa kandas ia sedih sekali dengan keputusannya.
"Terimakasih Rin sudah memaafkan aku."
Disisi lain....
Aku pulang dengan hati yang kacau entah rasa apa ini ketika suamiku dekat degan wanita lain aku merasa ingin disamakan apakah ini cemburu? tidak mungkin aku belum punya perasaan mengarah ke sana tapi kenapa sesakit ini.
Hari sudah malam aku masih tak bisa terpejam aku terus terbayang-bayang saat mas Ibra memeluk wanita itu, kenapa pula aku sampai ke tempat cafered sedangkan tempat itu jauh dari tempat kerjaku semua karena atasannku m ngajak kami untuk merayakan keberhasilan pencapaian target di bulan ini aku sempat menolak karena di bulan ini absenku bermasalah dengan kemurahatian mereka terus mendesak mengajaku kebetulan katanya cafered sedang mencari ngadakan diskon karyawan aku menurut saja dengan sangat kebetulan aku melihat sepasang kekasih itu tampak sedang terluka.
Klerk....
Bersama dengan bunyi itu aku memejamkan mataku lebar-lebar h baik berpura-pura tidur saja aku tak ingat n membuat mas curiga.
"Neng, sudah tidur?" bisik mas Ibra mencium dahiku.
"Kamu baru pulang mas? Aku siapin air hangat yah buat mandi." Aku tak bisa berbohong jadi aku bangun segera sebelum mas Ibra mengiyakan aku lekas masuk ke kamar mandi tak menunggu lama.
"Sudah aku siapkan," Aku masih menundukan kepala lekas turun ke bawah menyiapkan makan malam untuknya, semuanya tampak selesai aku kembali ke kamar menyiapkan pakaian sepupuku itu aku bahkan tak tahu selera dia seperti apa dalam berpakaian biarkan saja lah toh ini sudah mau tidur kan kusiapkan kaus dan celana pendek serta underwear nya sambil menunggu ia selesai mandi aku menunggu sambil memainkan gawaiku tapi mas Ibra lama sekali aku kembali ke bawah membantu Bunda.
"Neng kok cemberut aja? Ibra gak galakin kamu kan? Kalian gak lagi berantem kan?"
"Tidak bun lagi banyak kerjaan aja akunya heheh." Bohongku ağar bunda tidak curiga.
Bunda hanya ber oh ria aja begitupun dengan tatapan Ayah ia menyiratkan sesuatu yang tak bisa ku tebak.
"Oh ya! Neng, Ayah ingin secepatnya punya cucu pintanya lagi sudah dua kali Uwakku meminta kenginan yang sama.
__ADS_1
Uhuk... Uhuk...
Aku tersedak saat minum mendengar permintaan Ayah jadi tatapan misterius itu yang Ayah inginkan.
"Pelan-pelan dong Neng." Entah sejak kapan mas Ibra sudah ada disampingku ia memberikan tissue padaku.
"Gimana kalian tidak mau kah memberikan aku cucu yang banyak." Ulangnya lagi. Mas Ibra hanya garuk-garuk kepala tak gatal.
Bukan nya tidak mau aku tuh kalau suaminya dimas mungkin aku oke oke aja, secara dia orang lain bukan seperti mas Ibra yang Kakak aku sendiri batinku lagi bahkan mas Ibra sendiri tak meminta haknya padaku.
"Jangan bilang karena kalian adik kakak menunda punya momongan." sambung Bunda yang membawa sepiring puding untuk hidangan penutup makan malam kami.
"Bukan begitu Bun, aku hanya belum terbiasa kami nanti pacaran dulu aja." Jawab mas Ibra sambil mengambil piring tapi aku tahan aku rebut piringnya aku tak ingin menjadi istri durhaka tidak melayani suami apalagi di depan mertua.
Alasan ayah memang masuk akal dan itu yang aku takutkan masa adik kakak melakukan asusila seperti itu yang ku dengar nanti keturunannya bakal cacat amit-amit.
"Kalian itu bukan adik kakak kandung kalian beda benih, sebelum menikah kalian bukan mahram jadi sah jika menikah apa yang ditakutkan? Jika rumit adik dan kakak berhubungan badan terus melahirkan dan anaknya cacat itu namanya perkawinan sedarah kalau kalian gak sedarah. Banyak hadist yang memaparkan perihal ini jika tak percaya nanti bunda ajak deh temen bunda buat jelasin ke kalian." Bunda tak kalah memberikan argumen dan penjelasan.
Aku hanya menunduk wejangan dari Bunda benar-benar membuatku sedikit lega jika pemaparan nya seperti itu aku pun siap, tidak tahu dengan mas Ibra pasti dia akan menolak dan tidak akan menyentuhku bahkan sampai saat ini, Aru mungkin belum.
"Mas buat apa kamu nikahin neng Inge kalau ujungnya tidak seperti yang kami inginkan."
"Ini kan keinginan Ayah dan Bunda." Ucapnya ceplos. Ku tatap satu persatu diantara mereka ya aku tau ini bukan keinginan mas Ibra sendiri tentu saja aku paham dan ini alasannya dia tak mau menyentuhku oh aku harus sadar diri Inge kamu itu perempuan yang selalu gagal nikah, yang gak diinginkan yang hanya alesan agar orangtuanya bahagia.
"Ibra gak perlu bahas itu," Kini Bunda menatap putranya dan menatapku sendu.
"Maaf."
Mas Ibra melanjutkan makannya aku sudah tak berselera jika tak ada orang ingin rasanya aku menangis sekarang juga bulir di mataku sudah tak tertahan tapi kutahan untuk menguatkan diriku ini. Suasana makan yang hening tak ada obrolan setelah ucapan tadi.
Setelah selesai makan ku bersihkan semuanya dibantu Bunda.
"Sayang maaf yah bukan maksud seperti itu kamu harus sabar ya nak menghadapi suamimu." Aku hanya mengangguk setelah selesai aku kembali ke kamar ku tak mendapati sepupuku di kamar biarlah biar ia tak melihat kesedihan ku. Aku tak merasa dibohongi oleh suamiku sendiri ia menikahi ku karena terpaksa biarlah aku lelah aku ingin tidur selamanya jika bisa.
Samar-samar kudengar mas Ibra berbisik tapi mataku sudah mengantuk rasanya tak mungkin membuka mata bengkakku ini aku tidur saja.
Paginya ku tak mendapati mas Ibra di sampingku pasti dia sudah berangkat duluan sepagi ini bahkan masih subuh. Ku segera mandi dan menunaikan kewajiban subuh.
Lekas turun kebawah kudapati mas Ibra di ruang keluarga dengan berkas berkas masih berhamburan jadi dia disini pekerjaan lebih menarik daripada aku? batinku sesak.
Hari ini weedend aku lupa jika ini libur kerja, Ayah dan Bunda pasti sudah pergi ke toko di hari libur begini biasanya toko dan butiknya ramai, saat aku sedang fokus memasak tiba-tiba ada tangan melingkar di perutku.
"Pagi cantik."
"Pa_ pagi mas." ketusku.
"Masak apa sepertinya enak."
"Gak liat? Nasi goreng mas. Sebaiknya kamu salat dulu aja."
"Baiklah.. Cup." Lalu ia pergi keatas.
Sepeti banyak kupu-kupu terbang dalam perutku apa baru saja mas Ibra bangun dari mimpinya? Entahlah. Yang pasti pagi ini aku senang dan bahagia. Aku kembali teringat saat kemarin mas Ibra memeluk wanita itu dan perkataannya semaleman membuatku sakit hati. Aku harus konsisten saat ini aku sednag marah pada pria itu aku ingin tahu bagaimana ia menjelaskan pertemuannya dengan wanita itu, aku tidak boleh terpengaruh dengan tingkahnya hari ini mungkin saja itu hanya rayuan gombalnya agar aku tak marah padanya ingat Inge, kamu bukan perempuan murahan.
"Neng tolong siapkan bajuku dong." Mas Ibra berteriak sampai terdengar kebawah akupun segera menghampirinya bukan luluuh tapi aku hanya menjalankan kewajibanku saja sebagai seorang istri.
Saat sedang mengambil pakaian dalam lemari tiba-tiba mas keluar kamar mandi hanya memakai handuk yang dililitkan dari pinggul saja astaga mataku ternodai.
"Mana bajuku Neng ia membuka handuknya di depanku aku menjerit karena terkejut.
"Astaghfirullah mas... " Kututupi wajahku dengan kedua tanganku agar tak melihat sesuatu yang membuat gairah bangkit seketika. Mas Ibra hanya terkekeh, melihat tingkahku yang katanya pemalu.
"Buka matanya ini sudah selesia ayo kita sarapan mas udah laper." katanya masih terkekeh sambil menyisir rambutnya aku berlari terlebih dahulu ke bawah aku dengar mas masih saja tertawa melihat tingkahku yang lucu ini menurut dia.
Tak menunggu lama kami pun sarapan bersama Smartphone mas Ibra berbunyi panggilan dari wanita itu terlihat dari layar smartphone mahal mas Ibra, aku kembali cemberut masalah kemarin saja belum selesai masalah apalagi sih. Mas Ibra menghiraukan panggilan masuk itu melwnjutkan sarapannya.
__ADS_1