Dinikahi Sepupuku

Dinikahi Sepupuku
Bagian 15


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan pria itu aku segera menyelesaikan transaksi dan pulang tak sampai 1 jam aku pergi. kantukku kembali menyerang di setiap pagi.


"Nak sarapan dulu sini."


"Assalamu'alaikum semua.. "


"Waalaikumsalam... " semuanya menjawab tapi tidak dengan mas Ibra. dia tetap menunduk tanpa menoleh padaku sakit batinku.


"Iya bun nanti aku keatas dulu deh." kataku sopan. aku sebetulnya males bertemu mas apalagi dengan nenek wajahnya masih saja di tekuk.


"Jangan lama lama mas mu mau pergi katanya." ucap bunda lagi.


"Heem. sebentar kok." Haduh aku males banget kalau udah naik terus turun lagi sebenarnya.


kulihat sekilas mas Ibra melirik tapi keburu aku liat jadi gitu deh. huh kalau mau liat mah gak usah malu malu kali sebel.


Setelah masuk kamar aku merebahkan badanku sebentar meregangkan otot otot. sebenarnya aku punya karyawan cuma karena kemarin kemarin aku gak buka orderan jadi ia tak masuk hari ini biarkan dia bahagia dengan keluarga nya dulu.


Tiba-tiba perutku bergejolak nah ini pasti masuk angin karena tadi berangkat kedinginan, cepat cepat aku lari kekamar mandi.


"Hoek.... hoekk hoekk... astagfirullah kenapa yang keluar cairan asam dan pahit sekali." badanku juga jadi lemes lima belas menit aku mual muntah kuambil segelas air dinakas lalu ku teguk habis.


Kubaringkan tubuhku ini sangat lemas dan lelah sekali. mataku juga mendukung untuk kembali tidur tapi aku ingat bahwa aku belum salat duha lantas aku kembali berwudu dan bermunajat di pagi ini mataku sudah tak kuat lagi sampai aku tertidur.


Kejadian semalam aku alami kembali posisiku sudah agak enak terlentang di pembaringan aku ingat kenapa aku berada di ranjang saat kubuka mata ini.


"Yaallah jam berapa ini." perutku sudah keroncongan minta diisi. aku berusaha bangun namun badanku tak seimbang saat menopang ahirnya aku pun tumbang tapi kok gak sakit yah.


"Hati hati kalau jalan." Suara yang aku rindukan dari semalam. huss apa sih aku sedang dalam mode ngambek.

__ADS_1


"Ini makan kamu pasti laperkan? oh ya! kalau tidur jangan sambil pake mukena tidur asal aja masuk angin baru tau rasa."


"Oh jadi mas sedang menghawatirkan aku nih! jangan geer Inge dia gak mungkin begitu kalau lagi ngambek. tau dah marah yang gak tau sebabnya dari semalam gak ngomel sekarang kok bawel yak."


"Iya maaf, makasih udah pindahin aku."


"Heem.. " mas Ibra cuma bilang hmmm doang tanpa menoleh sedikitpun saat tadi mengambil laprltopnya sekarang ia sedang asik di depan layar monitor itu.


"Mas A-aku makan yah."


"Hmm... "


sepertinya aku memang sedang lapar ini kenapa cepat sekali sih habisnya.


"Laper apa doyan?" Mas Ibra mulai mengejek yang pasti laper dong sayang tapi sayang cuma dalam hati doang.


"Mas... boleh gak aku minta sesuatu?"


"Apa tuh." biasa tanpa melirik


"Mas Inge disini bukan di laptop." aku pun mulai jengkel ingin rasanya terisak entah lah kenapa suasana hati aku mudah sekali berubah rubah.


Mas menatapku penuh arti,


"Ada apa?" ia bertanya tegas.


"Gak jadi gak usah." aku beranjak kekamar mandi lalu aku terisak sejadi jadinya tak lupa kunyalakan air agar tak terdengar oleh suamiku.


"Kenapa sih dengan diri ini kenapa mudah sekali menangis." kausap air mataku dan ku basuh dengan air lalu aku keluar aku tak mendapati mas Ibra beserta piring kotor bekas makanku tadi.

__ADS_1


Yang ku temukan hanya laptop yang menyala, iseng dan mulai menarik perhatianku aku ingin sekali melihat apa sih yang ia kerjakan. kumulai menyentuh bagian qursor hmmm ternyata kerjaan kantor.


Kulihat beberapa e-mail masuk kulihat notifikasi bernama rinidamayanti@.gmail.com


Tak sengaja pula aku mengklik kotak masuk nya. Owh daritadi memang bukan mengerjakan pekerjaan kantor tapi memang sedang chating. rasa sesak di dada membuatku ingin kembali menangis. pernikahan macam apa sih ini ya Tuhan aku merusak hubungan mereka walau mas Ibra mencoba ikhlas tapi hanya di mulut saja. salahkah aku di posisi ini.


Kudengar langkah kaki dan aku membenarkan posisiku untung saja sudah ku kembalikan sejak tadi lebih baik tak tahu saja ya Allah ya tuhanku kenapa aku sesenitif Ini sih dari awal kan emang aku yang menjadi orang ketiga bagi mereka.


"Ini makan, kamu butuh gizi yang banyak." Mas memberikan sepiring potongan buah reflek aku menerimanya entahlah sarapku kurang konsentrasi.


"Nanti sore kita kedokter aku khawatir maag kamu sakit." ujarnya.


Perhatian juga akhirnya tapi aku tak ingin pergi hatiku sedang galau aku sedang tak ingin berdekatan dengannya. aku pergi ke balkon membawa sepiring buah potong.


"Aku gak sakit."


"Gak sakit tapi nangis bermenit menit, pake acara nyalain keran."


Issshh kenapa sih dia selalu tau dasar sepupu gak ada ahlak. ehh suami inget nge dia sekarang suami kamu loh.


"Aku ada urusan sebentar kamu jangan pergi lagi tanpa ijinku." Lalu mas melangkah menuju lemari pakaian dan menggantinya.


Aku hanya diam, siapa bilang nggak ijin aku kamu ijin sama bunda, batinku.


Tidak sampai lima belas menit buah potong sudah habis aku berniat untuk menyimpan piring kotor itu, pas sekali ada sesuatu yang jatuh dalam lemari saat mas Ibra ingin menutup pintunya.


Segera ku ambil, Kutatap wajah mas Ibra biasa aja tapi bagiku aku merasakan kesakitan di dalam dada ini. lalu ku serahkan selembar kertas bergambar seorang perempuan yang sedang ia peluk dan cium pipi mesra sekali mereka.


Aku melangkah dengan rasa kecewa ternyata perasaan yang ia ungkapkan kemarin hanya kebohongan. sesak dadaku mak...

__ADS_1


__ADS_2