Dinikahi Sepupuku

Dinikahi Sepupuku
Bagian 15


__ADS_3

Perempuan yang sedari tadi di tunggu-tunggu akhirnya muncul juga bergabung di meja kami dan lanjut memesan sarapan menu Indonesia tentunya. restauran ini cukup luas dan bersih membuat nyaman pengunjung lumayan ramai banyak tamu yang berdatangan untuk m nyantao menu sarapan.


Tak lama kemudian Bu Siska dan keluarganya juga sampai dan langsung bergabung dengan kami.


"Mba Inge kenal mba Rini kan?" tanya mba Mel aku m nggelengkan kepala karena aku m mang tak kenal hanya tau sedikit saja lalu aku melanjutkan makanku tak luput dari perhatian mas Ibra.


"Maaf semuanya kami telat lagi." ucapan tulus dari Bu Siska membuat kami tersenyum memaklumi.


"Kami juga telat, maaf yah semuanya." sambung Rini yang terus menatao suamiku sedari tadi.


Kami semua memakluminya tapi tidak untuk mba Mel dia mungkin sedikit kesal karena ada yang telat sarapan jadi terlambat.


"Sayang mas ke toilet bentar yah." bisik mas Ibra aku mengangguk tak masalah udara disini memang sedang dingin untuk kami orang Indonesia belum terbiasa aku melanjutkan sarapanku.


"Oh ya! kenalin aku Rini, kamu Inge kan istrinya Ibra." mba Rini tersenyum-senyum menatapku bergantian dengan yang lain. para lelaki sedang mengobrol sepertinya mereka lebih cepat ketika menyelesaikan makanan mas Ibra belum juga kembali ketika para suami oinfah temoat ke arah balkon menghadap laut mba Rini pergi tanpa pamit tak masalah mba Rini orangnya cuek menurutku.


"Gak banget deh sama pasangan itu, liat aja lakinya sombong bener gak mau kenalan sama kita." gerutu mba Mel.


Aku tersenyum menenangkan, kami sudah selesai sarapan tiba-tiba perutku mual aku sedikit pusing semakin ku tahan semakin ingin mengeluarkannya.


"Mba Inge sakit? pucet banget itu." mba Aida menghampiri ku bersama Farida. karena Bu Siska sedang bergabung dengan para suami.


"Mba aku mual aku ke toilet dulu..." Aku berlari tanpa menghiraukan teriakan mereka.


"Hoek... Hoek...Hoek... Astaghfirullah." seperti semua makanna tadi tak bisa ku cerna dengan baik, sampai lendirnya pun keluar kepalaju semakin pusing mas Ibra juga lama sekali, aku mengistirahatkan tubuhku dengan menyender ke dinding, setelah kuat akupun keluar tanpa ku duga sebelumnya kulihat dengan mata kepalaku sendiri mereka sedang berpelukan mesra sambil tertawa ria.


Ternyata sesakit ini, aku pikir mas Ibra benar-benar sudah move-on tapi ternyata dugaanku salah aku terlalu berharap padanya cinta mas Ibra tidak untuk aku, aku hanya sebagai adik yang kebetulan menjadi jodohnya atas permintaan Ayah dan Bunda kasih sayang mas Ibra hanya sebagai kakak yang melindungi adiknya.


"Mba Inge." mba Aida dan mba Mel menatapku iba aku segera tersenyum untuk menutupi kesedihan di hatiku, mereka juga tentu saja melihatnya dan segera menghiburku.


"Keterlaluan emang yah mereka, dasar gatel wanita itu kudu di kasih pelajaran." mba Mel benar-benar menunjukan kebenciannya.


"Sudah-sudah mba Mel, ini kondisinya mba Inge lebih penting dari mereka ayo kita ke dokter yah." mba Aida memang lebih dewasa pemikirannya tanpa persetujuan ku mereka membawaku ke klinik.


Diperjalanan kata mba Aida aku pingsan saat aku bangun kepalaku sudah agak baikan perut juga tidak mual lagi, dokter berkata aku harus istirahat sekitar dua jam untuk menguatkan tubuhku ada selang infus juga tertancap ditangan apa separah itu tidak mungkin aku merasa sehat saat ini.


Dokter datang sambil tersenyum,


"Selamat kamu akan menjadi calon ibu."

__ADS_1


Aku sangat terharu tidak bisa berkata-kata mengucao syukur dalam hati lalu m ngekus perut rataku, pantas saja kepalaju sering pusing dan mual.


"Jaga baik baik kandungan kamu hanya kurang vitamin saja aku resepkan antifolat yah." dokter perempuan berhijab itu berbicara Paseh bahasa Indonesia.


Aku mengangguk senang dna berterimakasih padanya.


"Kamu cari teman kamu yah?" budokter seperti tahu akan mencari sesuatu, bukan aku bukan mencari mereka tapi mencari mas Ibra kemana laki-laki itu.


"Mereka bilang mereka menunggu di luar, kamu istirahat dulu nanti setelah dua jam boleh pulang." aku pun mengangguk suster memeriksa cairan infus dan memebrriku antifolat dan membantu meminumkannya. setelah itu mengekor dokter kembaki keluar.


"Kamu sakit apa mba?" tiba-tiba mba Mel sedikit panik langsung masuk dan bertanya diikuti mba Aida.


"Hanya maag aja kok, jangan khawatir." ucapku menenangkan mereka.


"Gimana mau tenang aku mba, ini di negara orang untung mba Aida sigap membawa kita kesini."


"Alhamdulillah Allah masih melindungi kita semua."


"Assalamualaikum..." Ucap lelaki yang sudah memporak-porandakan hatiku mba Aida dan mba Mel mengerti dan bergegas keluar setelah menjawab salam mas Ibra.


"Sayang kamu sehat kan? baik-baik aja kan gimana keadaan kamu hemm." mas Ibra memberikan kecupan di wajahku bertubi-tubi mungkin ia merasa bersalah sudah mengabaikan ku atau hanya pura-pura saja İts oke.


"Alhamdulillah, aku seneng dengarnya aku panik banget nyari kamu dek, untung mba Aida nelpon suaminya dan nggah tau mas.


"İya mas gak usah khawatir, aku juga sangat berterima kasih sama mba Aida sudah khawatir sama aku dan membawa kesini."


"Maafin mas yah tadi ada keperluan mendadak sayang." ucapnya bersalah hatiku sakit mendengarnya keperluan apa? keperluan bertemu mantan astaghfirullah.


Aku hanya diam dan menelan ludahku sendiri, kepalaku yang sudah sembuh mendadak kembali pening ada rasa kantuk menyerang mungkin efek obat yang di berikan suster tadi.


"Mas aku ngantuk, kalau kamu mau lanjut jalan jalan tidak apa-apa gak enak sama yang lain." aku memiringkan badanku ke arah lain tanoa menatap mas Ibra lalu kupejamkan mata ini tak terasa air beningku mengalir seketika.


"Dek, sayang. kamu sudah tidur?" kudengar mas Ibra memanggilku tapi aku tak menghiraukannya.


*


Setelah dua jam dan aku merasa pulih total aku terbangun lalu mencabut jarum infus yang hanya sedikit lagi, rasanya aku ingin ke toilet. saat ku hendak berdiri aku lepas kendali hendak terpeleset ada tangan kekar yang melindungiku.


"Astaghfirullah dek, pelan-pelan dong buru buru amat mau kemana?"

__ADS_1


"Toilet..." ketusku aku melepaskan pelukan mas Ibra dan berlalu.


Didalam toilet aku tergugu mengingat kejadian pagi tadi mas Ibra sangat meresapi pelukan mba Rini mereka seperti saling merindukan, aku tumpahkan air mataku ini. di luar terdengar ketukan pintu seseorang sudah memanggilku aku tak hiraukan hanya terdengar gemercik air keran saja.


Tok... tok...


"Dek, masih lama gak? kamu baik baik aja kan?"


Klek...


"Dek kenapa lama aku khawatir, kita makan dulu yuk lalu pulang mas sudah ijin dokter." Aku mengangguk dan memilih diam saja.


"Semuanya sudah berangkat kita akan nyusul kalau adek sudah baikan dan fit kembali gimana?" ucap mas Ibra antusias aku hanya diam mencerna perkataannya.


"Mas masih mau disini?"


"A-aku mau pulang ke Indonesia." ucapku sambil menerima suapan demi suapan.


"Oh! gitu. Ok."


"Mas gak seneng?"


"Gak kok sayang, tapi kamu beneran mau pulang? kita belum bulan madu beneran loh dek." ucapnya merajuk.


"Terserah mas deh," aku tak mau kalah sebetulnya aku masih menikmati liburan ini tapi kalau ada bibit pelakor jadi gak nafsu nerusin bulan madunya.


Kami pulang ke hotel dan yang lain lanjut ke Cappadocia aku juga sudah tak minat kemanapun ingin istirahat barang sehari padahal belum ada dua hari kami disini.


"Mas tadi kenapa lama ke toiletnya?" Aku tak ingin berprasangka yang tidak-tidak biarlah dia berkata jujur sendiri.


"Ada uruasan sebentar ketemu temen lama." ucapnya sambil menyiapkan makanan di meja aku hanya duduk manis tak boleh bergerak barang sedikitpun.


"Ketemu mantan?" ucapku langsung.


Mas Ibra malah terkekeh mungkin merasa lucu atau menganggap aku cemburu.


"Apaan sih dek, mikir kesitu Rini udah ada suami juga kan kamu liat sendiri tadi."


"İya aku liat mas oekukan lama banget sama Rini." Aku bangkir dari kursi pergi ke kamar moodku sudah buruk sejak tadi mungkin bawaan bayi, pergi tanpa menghiraukan panggilan mas Ibra aku membanting pintu kamar keras.

__ADS_1


__ADS_2