
Di depan kami sudah ada sebuah taksi kami masuk dan menuju hotel yang sudah mas Ibra pesan sebelumnya, tak membutuhkan waktu lama kami sudah sampai di hotel. Mas Ibra menuju resepsionis aku hanya mengekor setelahnya kami menuju kamar yang sudha di reservasi.
Aku duduk di pingiran tempat tidur guna menghilangkan cape sebentar memandang laki-laki yang sudah hampir satu bulan menikahiku, dia menyeret koper dan memeindahkan ke samping nakas lalu duduk di sebelahku dan tersenyum laki-laki gagah ini ternyata memakai stelan nevy kesukaannya sama persis dengan warna baju yang aku gunakan mas Ibra menyadarkan lamunanku.
"Ada apa, Masih kepikiran sama Dimas?" sama sekali tidak dalam benakku hanya ada mas Ibra pria itu sudah lenyap sejak akad nikah belum dimulai itu aku menggeleng lalu menunduk.
"Mas boleh kah Inge meminta sesuatu?" Kataku malu-malu.
"Minta apa memang, heum? Mas Ibra menghujaniku dengan mesra di wajah ini.
"Gak jadi deh, takut Bunda sama Ayah marah sama Inge." ucapku lalu aku bangkit ingin ke kamar mandi karena geli.
"Heemmm... jadi gitu yah ngodenya, minta apapun akan mas kabulkan asal jangan minta pisah aja." sambil melingkarkan tangannya ke pinggangku ada gelenyar aneh kembali di tubuh ini.
"Pasti mas Ibra sudah tau kan apa yang menjadi keinginan Inge dan itu gak akan pernah terkabul, sudahlah mas aku mau mandi." Aku gak mau berharap terlalu berlebihan kata Mama ujian rumah tangga itu macam-macam.
"Gak boleh mandi sendiri, Neng aku kangen. Aku rindu banget sama kamu sayang." Duh aku jadi senyum-senyum sendiri mendengar ucapan mas Ibra seperti ini.
"Mas mandi dulu, aku mau diapkan air hangat buat kamu yah?" Aku berjalan ke kamar mandi menyiapkan air hangat oasti mas Ibra capek aku gak boleh minta yang aneh-aneh nanti saja ketika mas Ibra sudah tak merasa capek dibicarakan lagi.
Jangan sampai gagal ngotelnya karena ingin menyenangkan suami, ingetlah Inge suamimu baru sampai masih capek dan butuh istirahat, selesai menyiapkan semuanya lantas aku menyusrih suamiku mandi terlebih dahulu tapi ia menyeret ku untuk mandi bersama aku tak bisa nolak karena ingin menyenangkan nya. Tak terjsdi sesuatu apaoun diantara kami ketika sedang mandi tak butuh waktu lama juga kami selesai.
Suara pintu berbunyi ternyata pegawai hotel untuk mengantar makanan kebetulan sedang lapar juga kami makan lalu setelahnya tertidur pulas tak ada yang kami lajukan sepanjang sore menuju malam yang kami lakukan hanya tidur, hingga pukul dua puluh satu kami baru terbangun kedua mata kami sama-sama bertemu ada kerinduan di mata mas Ibra aku juga sangat merindukannya.
"Neng... laper lagi gak?"
"Belum. Mas laper lagi?" tanyaku membenarkan posisiku.
"Aku mau makan kamu aja." Mas Ibra langsung menindihku, menghuj eajah ini aku menikamti setiap sentuhan yang ia lakukan aku tak bisa menahan hasr*t ku kami sama-sama saling merindukan selama satu Minggu ini terhalan oleh jarak dan waktu. Kami saling berguling dengan hati-hati penuh kelembutan aroma parfum mas Ibra sangat memabukanku akhirnya kami saling mengh*jani dengan kering*t malam ini kami berhasil melakukan ibadah suami istri.
"Seriusan gak laper istriku sayang?" sambil berjalan kearahku sambil tersenyum menggoda. "Ini mas habis dari luar mau bangunin kamu kasian jadi mas bernagkat sendiri deh. Makan yuk." Aku megucek mataku ingin beranjak tanpa sadar aku tidak memakai apapun dan langsung lari naik kembali ke kasur. Mas Ibra terkekeh memunguti pakaianku dan menyerahkannya. "Sana ambil wudhu dulu, nanti kita makan bersama." Aku mengangguk menahan malu karena kejadian tadi.
"Tidak usah malu mas sudah tau semuanya kok." Wajahku pasti sudah memerah akibat kejadian ini aku berlari ke kamar mandi melakukan apa yang di suruh mas Ibra, ketika junub sebelum melakukan apapun harus dengan berwudhu terlebih dahulu sebelum mandi besar, aku sekalian mandi saja agar lebih segar dan wangi terasa nyaman kan jika sudah mandi mas Ibra juga pasti sudah mandi pikirku.
"Neng... Lama banget mandinya ini ayamnya keburu dingin loh." Teriak mas Ibra diluar.
"Iya mas aku sudah selesai." Aku membuka pintu dan mas Ibra tersenyum sambil mengangguk.
"Aku mandi sebentar yah nanti nyusul makan. Cup..." loh aku pikir sudah mandi aku berjalan menyiapkan makan malam yang sudah mas Ibra pesan diatas meja.
"Makan yang banyak biar tubuhmu sehat juga berlemak."
"Mas ihh, emang suka sama cewek gemuk yah." tiba-tiba saja mas Ibra sudah ada di belakangku.
__ADS_1
"Hahahah.. enggak juga habisnya ini bukan makan malam pada umumnya kan pasti masuknya ke lemak bukan daging lagi." Sambil mengelus perut rataku kami makan dengan lahap.
"Enak mas, mau lagi boleh." wajahku sengaja diimut-imutkan.
"Tumben suka dengan masakan orang lain!" Mas Ibra mengelus ouncaj rambutku yang basah.
"Lagi laper aja." Aku tersenyum manis padanya.
"Yaudah makan habiskan." titahnya mas Ibra berdiri menuju wastafel.
"Nanti mas makan apa, kalau aku makan." tanyaku penasaran.
"Sebetulnya mas sudah makan. jadi makan aja sama kamu Neng."
"Makasih Ayang cup..." Aku membalas kecupan tadi.
"Sekarang sudah nakal yah adikku ini," mas Ibra mencubit kedua pipiku dengan gemas.
"Ayang sakit, aku masih makan." Aku cemberut dan memonyongkan bibirku.
"Mas suka sekali kamu manggil Ayang. Awas yah ngambek-ngambek lagi." Mas Ibra menatapku gemas.
"Makan yang banyak biar cepat gemuk, dan b*hay." Godanya lagi lalu bangkit mengambil laptop sepertinya memeriksa pekerjaannya.
Ketika aku bangun aku mendengar suara lantunan adzan subuh lantai segera membangunkan suamiku karena takut tertinggal.
"Mas.. Ayang, bangun yuk sudah subuh kita salat berjamaah." Aku membangunkan tubuh mas Ibra yang masih pules.
"Heeummm... Aku laper mau makan?" suara khas bangun tidur dengan wajah bantal tapi tetap tamvan sejagat raya.
"Heeh wudhu dulu lalu jamaah subuh atau mau ke masjid?"
"Eungh... Astagfirullah jam berapa ini Neng." Mas Ibra masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukanku, aku tertawa melihat kelucuan sepupuku itu aku hanya bisa menggelengkan kepala bersiap untuk salat kobliah sambil menunggu mas Ibra selesai wudhu.
Setelah solat berjemaah subuh tadi aku dan mas mendapatkan kabar dari sang Bunda bahwa Nenek sakit akhirnya kami bergegas pulang, selama di perjalanan aku maupun Ibra tak membuka obrolan sama sekali aku paham jika suamiku sedang mengkhawatirkan sang Nenek begitu juga dengan ku, ditambah sejak Nenek datang mas Ibra belum bertemu malah pergi ngotel denganku. walau Nenek galak padaku tapi jika sakit seperti ini aku pun jelas ikut mengkhawatirkan.
Sesampainya dirumah keduanya segera berbondong masuk ke dalam mas Ibra yang terlalu khawatir akan keadaan sang Nenek segera masuk ke kamar Nenek, sedangkan aku merasa sakit perut aku pikir Indonesia karena semalam makan sambal banyak, tapi aku tak merasa mulas mungkin efek laper lagi karena sedari hotel sampai rumah aku maupun mas Ibra belum sarapan untuk mencari makanan pengganjal aku pergi ke dapur disana ada bi Enah yang sedang memasak.
"Non mau sarapan?" Akan mengangguk tapi aku berkata "Tidak." nunggu mas Ibra sama yang lain dulu aku membantu bibi menata sarapan ku dengar suara mas Ibra di kamar nenek yang tak jauh dari ruang makan.
"Assalamu'alaikum... semuanya. gimana keadaan Nenek bun."
"Jangan khawatir, demamnya sudah turun Bunda sudah kompres tadi nak." suara bunda terdengar parau seperti kurang istirahat.
__ADS_1
"Syukurlah aku khawatir banget saat tadi Bunda telpon. kenapa gak di bawa kedokter aja Bun." terdengar mas Ibra berkata lagi Bunda menghela nafas berat seperti hafal tabiat sang ibu.
"Mana mau Nenekmu ini. kalau sakit aja dia selalu ingat kalau gak mau di bawa ke dokter." Ucap Bunda.
"Hmmm semoga lekas sembuh deh. Kabar Bundaku bagaimana,di mana Ayahku?" Ucap mas Ibra lembut.
"Kabar Bunda baik nak, Ayahmu lagi ngontrol ke beberapa toko dan butik katanya ada interview karyawan baru mau nyari yang akan di percaya untuk menghendle pekerjaannya, biarlah Ayahmu istirahat Ayahmu sudah tua." Ucap Bunda penuh harapan, tak kudengar suara Nenek karena mungkin masih tertidur.
"Alhamdulillah kalau Bunda baik, maaf Ibra belum bisa jadi anak yang Bunda harapkan kehadiran Ibra justru membuat Bunda sulit." Ucap mas Ibra parau usaha Ayah dan Bunda sangat banyak menurutku tapi mas Ibra sama sekali tak tertarik dia lebih memilih bekerja di luar usaha orangtuanya agar lebih mandiri katanya.
"Gak lah nak, Bunda bersukur kamu hadir di dunia ini sayang. dan bersyukur karena kamu mau menikahi Neng Inge." Maa Ibra sadar dengan kehadiran ku.
"Ehh nak mana istrimu." Tanya Bunda.
"Hahh... istriku... Inge.. tadi di belakang sini." Bunda cengengesan mana ada istrimu di belakang nak ucap Bunda daritadi kau sendirian.
"Kamu sudah makan?"
"Belum tiba-tiba hilang selera makan setelah dapet kabar Nenek sakit."
"Makan dulu lah biar Bunda suruh bibi siapin makan untuk kalian."
"Gak perlu bun nanti kami juga makan, kan bukan tamu hehehe."
"Ya tapi kan kalian baru saja habis kelelahan kan? " goda bunda, mas Ibra semakin salah tingkah di goda ibunya.
"Yuk keluar Nenek juga sudah mendingan dan butuh istirahat semoga saja cepat sembuhnya." Bunda membawa baskom kecil dan handuk kecil mengekor mas Ibra keluar menuju dapur.
Ketika mereka keluar kamar aku sudah berada di tangga, untuk istirahat kepalaku mendadak pusing dan perutku mual sekali aku ingin beristirahat saja, didapur tadi aku sudah mengganjal perutku dengan roti yang bi Enah sediakan dengan teh manis hangat. Akupun sudah menyiapkan sarapan di meja makan hanya membantu bibi aja sih aku sangat kepikiran pada orang tua itu, pasti Nenek sakit karena diriku apa betul Nenek menginginkan kami berpisah batinku, tak terasa kristal bening keluar dari netraku. setelah memikirkan itu tanpa sadar ia merasa lelah dan akhirnya tertidur karena selera makan pun sudah hilang.
Di dapur....
"Bi mana menantuku?" tanya bunda.
"Tadi bukannya ke kamar nyonya besar untuk menyusul. bibi tunggu juga belum balik lagi nyah." tutur bibi. bibi merasa bersalah karena sudah mengatakan yang sebenarnya padaku bukan apa-apa bibi sudah geram dengan ocehan orang tua itu tentang ku.
"Mungkin ke kamar aku susul deh Bun, bunda sarapan aja duluan." Kata mas Ibra, mas Ilham bra menyusulku kekamar aku sudah pulas karena tiba-tiba aku merasa lelah dan mual sebelum tertidur aku membakurkan minyak kayu putih di bagian yang membutuhkan agar nyaman.
Clekkkk....
"Ayang... tidur lagi tah? Sarapan dulu yuk." Mas Ibra mengelus kepala sepupunya ini, namun aku tak ada pergerakan sama sekali mataku terasa berat dan lelah. Tak lama kudengar Bunda berteriak-teriak memanggil mas Ibra.
"Ibra.... nak tolong Bunda.. Nenek kamu nak Nenek. " Teriaknya lagi histeris aku membuka mataku seketika antara terkejut dan bingung.
__ADS_1
Teriakan bunda membangunkan tidurku, setelah Ibra keluar kamar mereka semua panik, Bunda sudah menelpon Ayah namun tak diangkat akuoun ikut berlari tetao hati-hati saat turun ikut panik badanku sedikit lemah aku memegang perutku yang tiba-tiba kembali sakit dan aku meringis ketika sampai di bawah tangga. Mas Ibra sigap menyiapkan mobil untuk membawa Nenek kerumah sakit.