
Abah dan Ambu menyambut niat baikku untuk bertemu dengan ibu kandung. Bersama dengan mereka dan Utta, kami merencanakan langkah yang harus diambil kedepannya.
***
"Neng, makasi ya udah mau jadi istri Mas," ucapnya kaku saat sedang dalam perjalanan mengantarkanku kembali ke Jakarta. Bi Mumun sendiri seperti biasa sudah tertidur dengan nyenyaknya di kursi belakang.
Aku terkekeh pelan, jadi inilah alasan kenapa Utta berkali-kali menatap Bi Mumun lewat kaca spion. Lelaki itu tidak mau Bi Mumun mendengar perkataannya. Selain itu, mendengarnya memanggilku dengan sebutan Neng menimbulkan sensasi geli di hati.
"Hahaha," aku tidak bisa menahan tawaku.
"Maaf Mas, lucu aja pas Mas manggil Non dengan sebutan Neng. Non juga geli nih, belajar manggil Mas," ucapku masih tertawa.
Utta yang tadinya heran pun ikut tertawa.
"Dibiasain ya Neng, ngga lucu kan kalo nanti udah nikah masih manggil nama," dia menatapku sekilas.
"Iya Mas, iya. Tenang, Neng cepet memyesuaikan diri kok," aku nyengir.
***
Kepulanganku ke Jakarta kali ini adalah untuk yang terakhir kalinya. Aku akan mengajukan pengunduran diri di perusahaan tempatku bekerja. Setelah itu, aku akan pindah ke Bandung dan menikah dengan Mas Utta.
__ADS_1
Mas Utta sudah membeli sebuah rumah minimalis di sebuah komplek perumahan yang lumayan jauh dari tempat tinggal Abah dan Ambu. Sekembalinya aku ke Bandung nanti, Ambu memintaku untuk tinggal bersama Bi Mumun di rumah itu sembari mempersiapkan pernikahan.
***
"Non, kemarin ada ibu-ibu ke sini nanyain Non. Katanya, beliau Mamanya Non," ibu pemilik kost berkata padaku saat aku sedang membuka sepatu di teras.
Keningku berkerut, Utta dan Bi Mumun sudah meninggalkanku untuk kembali ke Bandung.
"Orangnya ini bukan Bu?" ucapku seraya menunjukkan foto Mama di ponsel.
"Iya betul Non, ini orangnya. Ibu kaget karena Mamanya Non datang tiba-tiba pas Non ngga ada di tempat."
"Maaf Bu, emang Mama saya ke sini mau ngapain?" aku penasaran.
Nafasku tercekat, dengan tergesa-gesa aku membuka pintu dan terpana melihat isi kamar kostku yang sudah berantakan.
"Bu, saya ngga berniat pindah," ucapku lemas.
Perkataanku membuat ibu kost heran, "Maksudnya gimana?"
"Saya ngga ada niat pindah dari sini, seenggaknya untuk sekarang. Mama saya tidak membawa semua perabotan saya, hanya barang-barang bernilai jual."
__ADS_1
"Astagfirullah, maaf Non, Ibu ngga tau. Harusnya Ibu konfirmasi dulu ke Non," ucap Ibu Kost lirih.
Aku memeriksa dengan detail keadaan kamarku. Ibu kost yang mengikutiku masuk berkali-kali mengucap istigfar. Bagaimana tidak? Kondisi kamarku lumayan kacau dengan bajuku yang berserakan di mana-mana.
Mama membawa televisi, kulkas, peralatan elektronik untuk memasak, tas dan juga kotak perhiasan. Berbagai alat make up sudah hancur tergeletak di lantai. Baju yang tersisa di lemari juga sudah tidak berbentuk. Mama mengguntingnya menjadi potongan kecil-kecil. Yang paling mengejutkan, di ujung dapur dekat kamar mandi, ada sisa pembakaran kertas. Karena penasaran aku memeriksanya dan kembali terhenyak. Semua ijasah sekolahku habis dibakar.
"Astagfirullah, bisa-bisanya seorang ibu ngelakuin ini ke anaknya," ucap spontan ibu kost. Ia melihatku dengan tatapan kasihan
***
Tidak butuh waktu lama untuk membereskan kekacauan yang diperbuat Mama. Banyaknya barang yang beliau bawa membuatku dengan cepat bisa merapikan tempat tinggalku ini walaupun hasil akhirnya terlihat menyedihkan karena lowong oleh barang yang sebelumnya ada.
Dulu, aku akan merasa sakit hati dan sedih dengan perlakuan Mama yang semena-mena dan sesukanya. Namun sekarang, setelah mengetahui kenyataan yang terjadi, melihat kelakuan Mama pun aku sudah tidak merasa berat hati. Aku bukanlah anak kandung Mama, dan aku tidak akan menahan diri lagi jika beliau melakukan sesuatu dengan seenaknya.
***
"Non, barangkali Non ngerasa ngga nyaman, Non bisa pindah ke kamar yang di dalam," Ibu kost memberiku penawaran.
Aku tersenyum menatap wanita yang baik hati ini, "Ngga usah Bu, saya kayanya mempercepat kepindahan saya. Saya was-was kalau sewaktu-waktu Mama kembali datang dan membuat kericuhan di sini."
"Maafin ibu ya Non, ibu nyesel kenapa waktu itu percaya aja sama omongan Mama Non. Seharusnya Ibu nelpon Non dulu," nada penyesalan terdengar jelas dalam suara beliau.
__ADS_1
"Ngga apa-apa Bu, bukan salah Ibu. Emang jalan saya aja yang harus begini," ucapku pelan.