Doa Dari Tanah Kepada Langit

Doa Dari Tanah Kepada Langit
Episode 8


__ADS_3

Majikan Mumun berkali-kali menelepon untuk memastikan jika wanita itu bisa melakukan tugas khusus dari mereka. Lambat laun Mumun mulai merasakan banyaknya tekanan. Dari majikan, dari suami yang selalu meminta modal, serta anak semata wayangnya yang selalu meminta mainan mahal.


***


Mumun mengunjungi beberapa kampung terdekat dalam rangka menunaikan tugas dari sang majikan. Apa yang ia cari, tidak ia dapatkan. Sedangkan tekanan dari sang suami semakin gencar. Saat ia melewati rumah Nengsih untuk pulang ke rumah, tanpa sengaja ia melihat jika di halaman rumah Nengsih banyak jemuran baju bayi. Dengan segera, ia mengurungkan niat untuk pulang dan berkunjung ke rumah Nengsih.


Sahabatnya itu baru melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik tiga hari yang lalu. Di tengah kekalutan Mumun, ia mendapat ide saat melihat bayi Nengsih. Setelah memberikan beberapa lembar uang merah, ia pamit pulang.


***


Selama beberapa hari ini, Mumun memantau aktifitas Nengsih dari jauh. Berkali-kali ia hampir mengurungkan niatnya, namun sikap suaminya yang selalu merengek saat meminta modal membuatnya mu*ak dan memutuskan akan melakukan hal ini.


***


Mumun membawa tas berisi beberapa baju miliknya. Ia akan kembali ke kota hari ini. Saat tiba di depan rumah Nengsih, dengan mengendap-endap ia masuk ke samping rumah yang berbatasan dengan kebun pisang dan bersembunyi sambil melihat situasi.

__ADS_1


Tidak lama, Nengsih keluar dengan membawa bayinya. Setelah meletakkan bayi kecil tersebut di atas bale-bale, Nengsih masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu. Saat seperti ini yang Mumun tunggu, dengan cepat ia menghampiri bayi itu dan membungkusnya asal menggunakan kain alas tidur. Secepat yang ia bisa, ia berlari meninggalkan rumah Nengsih dengan seorang bayi yang kini sudah dalam dekapannya.


Majikan Mumun meminta wanita tersebut untuk mencarikan anak yang sudah tidak memiliki keluarga untuk diadopsi. Pasangan itu sudah lama menikah namun belum juga diberi kepercayaan untuk memiliki seorang anak. Selain itu, mereka juga punya niat lain. Dengan memiliki anak, kelak anak yang diadopsi bisa menjamin kehidupan masa tua mereka. Karena niat yang tidak tulus itulah, kedua majikan Mumun bersikap abai pada bayi kecil yang Mumun bawa dan menyerahkan sepenuhnya pada Mumun untuk diurus.


***


Rasa bersalah Mumun terhadap sahabatnya Nengsih membuat wanita itu mengurus bayi perempuan yang kemudian diberi nama Shannon oleh sang majikan dengan sepenuh hati. Kabar terakhir yang Mumun dengar, mental Nengsih menjadi terganggu karena harus kehilangan bayinya.


Beratnya hidup karena ditinggal suami saat hamil serta kehilangan bayi membuat Nengsih terpuruk dalam sebuah lubang tak berdasar. Tidak banyak yang bisa ia ingat kecuali bayi mungilnya yang menghilang secara tiba-tiba. Setiap hari dihabiskannya dengan berkeliling mencari sang bayi. Mirisnya, sahabat dekatnya sendiri yang sudah mengambil bayi itu untuk kepentingan pribadi.


***


"Ma, hari Kamis Shannon bagi rapot, Mama bisa datang kan?"


Mumun yang sedang sibuk di dapur mendengar ucapan Shannon kecil pada majikannya.

__ADS_1


"Ngga bisa! Mama sibuk, minta aja Bi Mumun datang. Ngerepotin banget deh."


Shannon kecil mengangguk pelan dan melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Batin Mumun terenyuh melihat kesedihan anak kecil itu. Penyesalan dalam hatinya semakin menjadi-jadi. Keputusannya membawa kabur anak Nengsih membuatnya bersalah setiap saat, bukan nasib baik yang di temui Shannon di rumah ini.


Dengan langkah pelan Mumun menuju ke kamar Shannon. Dilihatnya anak kecil berusia delapan tahun itu sedang menenggelamkan kepalanya diantara kedua lutut. Bahu kecilnya bergetar pelan.


"Non, mau ambil rapot? Bibi aja yang datang ke sekolah ya?" ucap Mumun lembut seraya mengelus kepala Shannon.


Sepasang mata di depannya menatap penuh harap, "Bibi bisa ke sekolah? Maaf ya Bi, Nona ngerepotin Bibi. Padahal kerjaan Bibi di rumah banyak banget."


Perkataan Shannon sontak bertransformasi seperti belati yang meni*kamnya tepat di hati. Anak yang tidak bersalah ini masih berbicara padanya dengan kata-kata yang santun. Ini membuat Mumun semakin tenggelam dalam rasa bersalahnya.


***


Saat Shannon berumur sepuluh tahun, Mumun meminta ijin untuk pulang kampung. Walaupun ia sudah bercerai dengan suaminya, keluarga Mumun masih tetap tinggal di kampung.

__ADS_1


Berita yang Mumun dengar terkait kondisi Nengsih semakin membuat dadanya sesak. Gangguan mental yang dialami sahabatnya itu semakin parah. Ia sering terlihat sedang berbicara sendiri pada guling kecil yang dianggap bayinya yang hilang. Sampai pada puncaknya, Nengsih nekat membawa kabur anak tetangganya yang masih kecil. Warga yang cemas akan keselamatan anak-anak mereka memutuskan untuk mengurung Nengsih. Namun, mereka tetap bergantian untuk memberi makan wanita itu dan mengurusnya. Mereka terpaksa mengurungnya bukan karena rasa benci, melainkan untuk mengamankan anak-anak mereka. Ditakutkan, Nengsih akan kembali membawa anak kecil dan kabur ke luar kampung.


__ADS_2