
Entin merasakan sakit di kepalanya berangsur menghilang. Dengan lemas, dipaksakan badannya untuk bangun, dan duduk menyandar di tembok. Ketiga anaknya masih terlelap tepat disisi kasur bagian dalam. Ingatannya kembali ke kejadian beberapa saat yang lalu saat ia pingsan. Orang-orang yang sudah menuduhnya mencuri berseru kaget dan berlarian menolong. Beberapa tetangga pulang untuk kemudian kembali lagi membawa berbagai macam bahan makanan untuk dirinya. Tidak sedikit pula yang memberikan amplop berisi uang. Semua diletakkan tepat di bawah bantal Entin.
Suara Pak RT masih terdengar dari tempat Entin bersandar. Dia sengaja tidak bersuara agar tidak ada yang tau jika dirinya sudah sadar.
" Pak Sugus, tolong. Lain kali dengarkan dulu penjelasan dari Bu Entin. Sebagai suami seharusnya bapak mendengar cerita dari dua sisi. Untung bidan Nana berkata jika kondisi bu Entin tidak perlu dikhawatirkan. Jika sampai terjadi apa-apa, bapak bisa ditindak secara hukum"
Pak Sugus hanya terdiam menunduk. Raut penuh penyesalan tergambar di wajahnya.
"Saya khilaf Pak RT. Saya salah, lain kali saya akan mendengar apa saran Pak RT. Saya bodoh sudah menampar istri saya hingga telinganya berdarah"
Pak RT tersenyum seraya berdiri. "Saya mengerti Pak Sugus. Lain kali mohon lebih sabar menahan amarah. Karena semua masalah sudah selesai, saya pamit pulang"
Pak RT meninggalkan rumah Entin dengan diikuti beberapa tetangga lain. Kini, tidak ada siapapun selain keluarga mereka.
__ADS_1
Pak Sugus mengunci pintu dan menuju ke kamar. Disibaknya horden dan terlihat Entin sedang menatap dirinya lekat. Ia berjalan pelan mendekati tempat tidur dan duduk di sisi Entin. Tangannya mengelus lembut wajah istrinya yang sudah ia tampar.
"Maafkan aku..." pria itu menunduk dan menangis.
"Maafkan aku memukulmu terlalu keras. Seharusnya aku memukulmu di tangan, bukan di pipi"
Entin tersenyum menatap suaminya.
"Tidak apa-apa. Buktinya warga percaya jika kamu memang benar-benar marah. Itu membuat mereka bertambah menyesal karena sudah menghasutmu"
"Berapa banyak yang kita dapat?" tanya Entin berbisik.
Pak Sugus melepaskan pelukannya dan tersenyum. "Cukup banyak sehingga selama sebulan kita bisa diam bersantai saja di rumah. Beras, sembako, bahan pangan, buah-buahan, makanan kemasan dan juga makanan ringan untuk anak-anak"
__ADS_1
"Bu Susi juga memberikan uang dan meminta maaf. dia memintaku tidak meributkan lagi hal ini..."
Entin menatap mata suaminya, ekspresi terkejut tergambar jelas di wajahnya.
"Sebanyak itu?? Dan berapa banyak uang dari Bu Susi?"
Pak Sugus tersenyum. "10 juta. Kita bisa berfoya-foya dengan uang itu. Belum lagi uang didalam amplop pemberian penduduk"
Wajah Entin seketika menjadi cerah. Dirogohnya amplop di bawah bantal dengan mata berbinar.
"Sudah kubilang cara ini akan berhasil. Kita tidak perlu bekerja selama beberapa saat. Setelah semua mereda, kita ulangi lagi seperti ini. Target kita selanjutnya adalah Bu Haji. dia lebih kaya dari Bu Susi"
Keduanya kembali berpelukan untuk merayakan keberhasilan mereka membodohi penduduk kampung. Sejak pagi, keduanya sudah merencanakan hal ini. Bebek yang disangka hilang pun sebenarnya disembunyikan oleh Pak Sugus. Pria itu melepaskan bebek yang ia sembunyikan didekat kandang, sehingga Ujang yang sedang berjaga segera menyadari bahwa tidak ada bebek satupun yang hilang.
__ADS_1
'Benar kan... Kami tidak mencuri. Kami hanya menyembunyikan' ucap Entin di dalam hati sambil tersenyum.