
Abah dan Ambu mengantarkanku dan Bi Mumun pulang. Mereka berpesan agar aku tidak banyak memikirkan kejadian beberapa saat yang lalu. Ambu dengan berlinang air mata memelukku erat setelah kepergian Mama dan Papa. Entah kenapa, aku merasakan kesedihan yang luar biasa. Walaupun diperlakukan tidak baik, sosok merekalah yang ada saat aku bertumbuh besar. Melepas mereka seperti melepaskan sebagian diriku yang selalu dituntut untuk berbakti dan menurut.
***
Akad nikah berjalan dengan lancar dan sakral. Keluarga besar Mas Utta bergantian memberikan kami selamat dan iringan doa semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Bertemu dengan mereka membuatku bersyukur. Kehangatan yang selama ini hanya bisa kubayangkan, berwujud nyata dalam perlakuan mereka.
Menjelang sore keluarga Mas Utta dari Abah dan Ambu pamit pulang. Kata Ambu, tidak semua anggota keluarga besar hadir karena akad nikah kami yang bertepatan dengan hari kerja.
***
Aku dan Mas Utta baru saja selesai melaksanakan sholat berjamaah saat Bi Mumun mengetuk pintu. Beliau mengatakan jika makan malam sudah siap dan kami ditunggu Abah serta Ambu di meja makan. Kami menikmati makan malam diselingi dengan obrolan ringan.
"Neng, ngga berniat kerja lagi?" Mas Utta membuka suara.
"Kalau Neng mau kerja lagi, Abah bisa merekomendasikan perusahaan yang cocok," Abah ikut menimpali.
"Untuk sementara belum dulu kayanya Mas, Abah. Neng mau istirahat dan menjalani peran baru Neng sebagai seorang istri," jawabku lirih. Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku, tapi sayangnya aku masih sulit untuk mengatakannya.
__ADS_1
Ambu yang peka dengan ucapanku meletakkan sendoknya, "Neng, bicarakan jika ada sesuatu yang mau Neng sampaikan. Ngga usah ragu-ragu lagi. Kami keluarga Neng juga sekarang."
Ucapan Ambu membuatku mengangkat wajah dan menatap beliau. Sosok Ambu yang lembut membuat pertahananku goyah. "Iya Ambu, sebenarnya ada yang Neng mau lakukan, tapi Neng perlu ijin dari Mas Utta sebagai suami."
"Ada apa Neng? Ngomong aja," Mas Utta tersenyum menatapku.
"Kalau Mas, Abah dan Ambu tidak keberatan, Neng mau ketemu sama ibu kandung Neng. Walaupun Neng baru mengetahui kenyataannya sekarang, Neng ingin berbakti pada beliau dan mengurusnya. Dari rahim beliaulah Neng terlahir."
Mas Utta kembali tersenyum, " Neng, Mas ngga akan menghalangi kamu untuk berbakti pada ibu. Silakan lakukan apa yang menjadi keinginan Neng, Mas hanya bisa mendukung."
"Betul kata Utta, Neng. Abah dan Ambu juga mendukung kalau Neng mau mencari ibu kandung Neng. Abah terharu, Neng tidak menyimpan ganjalan atas masa lalu Neng dan mengiklaskannya dengan hati yang lapang," Abah berkata lembut.
***
"Non Nona beneran mau bertemu ibu kandung Non?" tanya Bi Mumun.
"Iya Bi, walaupun saat bertemu nanti kami akan bersikap selayaknya orang asing, tapi masa lalu kami terikat dan jantung kami pernah bertaut saat sembilan bulan lebih Non berada dalam kandungan beliau."
__ADS_1
Bi Mumun menunduk dan menangis.
"Bi, sudah jangan menangis. Non ngomong ini ke Bibi bukan untuk mengingatkan Bibi pada peristiwa yang membuat Bibi merasa bersalah. Neng iklas Bi, ini udah menjadi takdir Non," aku merangkulnya.
"Sebenarnya, Neng harus berterima kasih pada semua. Pada ibu, karena dari rahimnya Non terlahir. Pada Mama dan Papa, karena sudah memberikan nama Shannon pada Non dan karena perlakuan mereka Non menjadi pribadi yang tegar. Pada Bibi yang sudah mengurus dan menyayangi Non, serta pada Abah dan Ambu yang menyayangi Non dengan tulus walaupun kami tidak ada ikatan darah. Tidak ada yang Non sesali. Non hanya mau berbakti pada ibu kandung Non, mumpung masih ada kesempatan."
Bi Mumun memelukku erat dan berkali-kali mengucapkan kata maaf.
***
Hampir dua bulan setelah pernikahanku, Mas Utta mendapat kesempatan untuk cuti selama tiga hari. Kesempatan ini digunakannya untuk mengantarkan aku dan Bi Mumun ke kampung halaman Bibi. Tekatku semakin kuat untuk menemui ibu kandung yang sudah melahirkan aku ke dunia. Dukungan dari orang sekitar seolah menjadi bahan bakar untuk tetap maju.
Kampung Bi Mumun berjarak lima jam perjalanan dengan mobil dari kota Bandung. Kami membawa beberapa lembar pakaian ganti karena berencana untuk menginap. Bi Mumun sendiri sudah mengabarkan keponakannya, satu-satunya keluarga beliau yang masih tinggal di kampung jika kami akan berkunjung.
***
Hawa segar cenderung dingin menyambutku begitu memasuki kota kecil ini. Kata Bibi, butuh sekitar satu jam lagi untuk sampai ke kampungnya. Kami melewati deretan kebun dan juga sawah di sepanjang jalan alternatif.
__ADS_1
Begitu melintasi tanda masuk ke desa tempat asal Bi Mumun, perasaanku seketika menjadi sedih. Di tempat inilah aku dilahirkan, di tempat inilah ibuku berada, dan di tempat inilah nenek serta ayahku yang tidak pernah kukenal seumur hidup dimakamkan.