
Setelah menunggu beberapa hari, hasil tes ibu sudah keluar dan dinyatakan cocok denganku. Proses operasi tidak akan langsung dilakukan karena kondisiku yang belum stabil. Ibu semakin sering berkunjung ke kamarku. Bersama dengan Bi Mumun, kami sering bertukar cerita lama yang terlewat.
***
Setelah hampir dua minggu, operasi transplantasi dijadwalkan akan dilakukan pada esok hari pada waktu yang bersamaan dengan operasi pemindahan ginjal dari tubuh ibu ke tubuhku. Delapan jam sebelumnya, kami diminta puasa sebagai prosedur untuk menjalani operasi.
***
Aku dan ibu berada di kamar persiapan khusus operasi. Tempat tidur kami yang berdampingan membuat tangan kami saling bertaut. Ibu berkali-kali menatapku dan tersenyum.
Tidak terlalu lama menunggu, beberapa tenaga kesehatan datang dan mendorong ibu masuk ke kamar operasi.
Mas Utta yang sudah menggunakan seragam scrub menjelaskan singkat padaku jika operasi akan berlangsung sekitar empat sampai lima jam. Ia memintaku untuk membaca shalawat tanpa henti. Saat beberapa tenaga medis berseragam serupa menghampiri kami, aku sudah tau, sekaranglah giliranku.
Tidak banyak yang bisa kuingat dari suasana kamar operasi selain rasa dingin yang begitu menggigit. Dokter yang menanganiku mengajak berbincang sejenak dengan ramah. Beliau menyuruhku untuk mulai mengitung angka dari satu sampai sepuluh. Saat baru sampai di hitungan ke tiga, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.
***
Aku berusaha membuka mataku beberapa kali namun rasa kantuk kembali menyerang. Seseorang mengusap pipiku pelan tapi aku kesulitan membuka mata.
"Neng, bangun yuk? Udah tidurnya, bangun dulu yuk?"
Suara samar Mas Utta memasuki telingaku. Setelah berjuang melawan kantuk, dengan susah payah aku membuka mata. Mas Utta tersenyum melihatku.
"Alhamdulillah," ucapnya pelan.
Ia menggenggam tangaku yang masih terasa kaku. Beberapa tenaga kesehatan bergantian datang untuk memantau keadaanku. Setelah dirasa cukup stabil, aku dipindahkan dari ruang pemulihan atau PACU ( Post Anesthesia Care Unit ) ini ke ruang perawatan.
***
"Ibu gimana Mas?" tanyaku pada Mas Utta yang baru saja memasuki kamar.
"Ibu baik Neng. Jangan banyak pikiran dulu ya? Pulihin dulu kesehatan Neng," jawabnya pelan.
Aku mengangguk mengiyakan.
***
Dalam pantauan beberapa dokter, keadaanku dinyatakan sudah stabil dan ginjal baru di dalam tubuhku merespon dengan sangat baik. Aku belajar bangun sendiri dan juga mulai berjalan secara perlahan. Berkali-kali aku menengok ke arah pintu dan berharap ibu mengunjungiku. Namun, sampai seminggu lebih, ibu belum saja muncul.
***
"Cerita sama Neng, apa yang terjadi waktu operasi? Kenapa ibu ngga ke sini buat nengokin Neng? Dan kenapa Neng ngga diijinkan untuk ngeliat ibu?"
Abah dan Ambu yang sedang menengokku bangkit berdiri, mereka keluar dari ruangan setelah sebelumnya mengusap pundak Mas Utta.
__ADS_1
"Mas?" panggilku.
Mas Utta duduk tepat di depanku, ia menatapku lekat. "Apa yang mau Neng tanyain?"
"Ibu sekarang ada di mana?"
"Ibu ada di rumah sakit ini," Mas Utta menghela nafas panjang.
"Sesaat setelah pengambilan ginjal, tekanan darah ibu mendadak tinggi dan membuat ibu terkena serangan jantung. Sekarang beliau dirawat di ICU karena koma."
Perkataan Mas Utta seperti petir yang ku dengar di hari yang cerah.
"Astagfirullah...," aku merintih. Air mataku turun tanpa bisa kutahan. Dengan bergegas aku turun dari tempat tidur dan berdiri.
Mas Utta menggenggam tanganku, "Pelan-pelan Neng. Ayo kita lihat ibu tapi pelan-pelan."
***
Air mataku kembali turun saat melihat sesosok tubuh terbaring dengan banyak alat disekelilingnya. Di sebelah tempat tidur ibu terlihat ada Bi Mumun sedang duduk dan membaca sesuatu.
"Neng mau masuk, Mas," ucapku pelan.
Mas Utta mengangguk dan memberi tanda pada salah satu perawat. Dengan sigap perawat tersebut membawaku ke suatu ruangan untuk dipakaikan baju khusus.
Bi Mumun tersentak melihatku menghampiri tempat tidur ibu. Beliau berdiri dan menyentuh tanganku sebentar sebelum akhirnya keluar. Air mataku tidak bisa lagi kukendalikan. Ada rasa sakit di dalam sini yang membuatku sesak nafas. Rasa sakit ini berkali lipat dibandingkan rasa sakit yang diakibatkan orang tua angkatku dulu. Dengan pelan aku duduk di kursi tempat Bi Mumun sebelumnya duduk dan menyentuh tangan ibu yang terasa dingin.
"Ibu bangun... Liat ini, Neng udah sehat berkat Ibu... Neng udah kuat karena Ibu... Dan Neng mau bahagia hidup sama ibu. Jadi, Ibu bangun ya? Ibu... Bangun Bu...."
Mata ibu terlihat bergerak dan terbuka sedikit, aku terkesiap melihatnya. "Ibu? Ibu ini Neng... Ini Nona Bu. Ibu bangun, ini lihat Neng dateng Bu..."
Piiiiiiip!
Suara nyaring itu terdengar stagnan diikuti dengan garis lurus yang terpampang pada monitor persis di sisi kanan belakang ibu. Aku berdiri dan mundur saat beberapa tenaga kesehatan berlari menghampiri kami dan memberikan tindakan pada ibu.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Ibu Nengsih, jam 13:21."
Suara seseorang yang kuperkirakan adalah dokter memasuki telingaku dan menciptakan pukulan keras di dada. Aku luruh di lantai.
***
Mataku nanar melihat nisan yang bertuliskan nama ibu. Ini sangat berat, sungguh berat. Duniaku hancur sehancur-hancurnya. Aku sedikitnya jadi merasakan, mungkin seperti inilah rasanya jadi ibu saat mengetahui jika aku hilang.
***
"Non, Bibi siapin makan ya?"
__ADS_1
Aku menggeleng pelan, "Non belum lapar Bi."
Mata Bi Mumun berkaca-kaca melihatku. Beliau keluar dari kamar dan tidak lama kemudian kembali lagi dengan secarik kertas.
Aku mengerutkan kening ketika Bi Mumun menyodorkan kertas tersebut padaku. "Ini surat terakhir dari Nengsih buat Non," ucapnya lirih.
Aku menerima kertas itu dengan tangan bergetar. Butuh beberapa saat untuk menenangkan diri sebelum akhirnya aku mulai membaca.
...◦•●◉✿•✿◉●•◦•◦•●◉✿l✿◉●•◦...
Teruntuk Nona, bayi kecil ibu yang cantik.
Ibu bahagia pada akhirnya Allah masih memberi kesempatan untuk bertemu dengan bayi kecil ibu.
Ibu juga bahagia, bayi kecil ibu sudah tumbuh menjadi gadis yang tegar.
Ibu berharap bayi kecil ibu akan selalu kuat dalam menjalani hidup.
Ibu minta maaf karena ngga bisa membahagiakan bayi kecil ibu seperti ibu lainnya.
Ibu minta maaf karena ngga bisa memberi pelukan disaat bayi kecil ibu sedih.
Dan ibu minta maaf karena tidak bisa mengurus bayi kecil ibu selama ini.
Doa ibu akan selalu ada buat bayi kecil ibu.
Ibu berharap agar bayi kecil ibu selalu sehat dan bahagia.
Impian ibu adalah bisa melihat bayi kecil ibu setiap hari.
Jadilah sosok yang selalu tegar ya, bayi kecil ibu?
Jadilah sosok yang penuh belas kasih pada sesama.
Jadilah sosok istri yang baik untuk Mas Utta.
Ibu sayang sama bayi kecil ibu, selalu. Dari dulu, sekarang dan juga nanti.
Ibu.
...◦•●◉✿•✿◉●•◦•◦•●◉✿l✿◉●•◦...
"Ibu...," aku kembali merintih sembari memeluk Bi Mumun yang juga menangis.
***
__ADS_1
"Patah hati terhebatku adalah saat menyadari jika aku tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Ibu di dunia ini." - Nona