Doa Dari Tanah Kepada Langit

Doa Dari Tanah Kepada Langit
Episode 16


__ADS_3

Aku dan Mas Utta membawa ibu pergi menemui dokter spesialis ahli kejiwaan di Rumah Sakit Umum Daerah sebelum pulang ke Bandung.


Sehari sebelum membawa ibu, kami menemui Pak Rt dan juga para tetua kampung. Bi Mumun mengakui perbuatannya di masa lalu. Beliau juga memperkenalkan aku sebagai anak Nengsih. Bayi yang dulu menghebohkan satu kampung karena hilang secara tiba-tiba.


Hanya beberapa tetua dan Pak Rt yang masih mengingat kejadian waktu itu. Pak Rt yang merupakan anak dari salah satu tetua menatap Bi Mumun dengan lekat. Beliau berkata jika saat itu ia masih seorang murid SD saat ikut membantu ayahnya mencari bayi Nengsih.


Kejadian yang sudah cukup lama, ditambah dengan sudah tidak banyak penduduk yang mengetahui kejadian waktu itu membuat para tetua kampung memilih untuk tidak memperkarakan Bi Mumun. Apalagi sekarang aku sudah bisa kembali bertemu dengan ibu kandungku.


Aku juga memberi kesaksian pada mereka jika selama ini Bi Mumun merawatku dengan sangat baik. Kejadian ini dianggap bisa diselesaikan secara kekeluargaan mengingat jika Bi Mumun bersahabat baik dengan ibuku.


***


"Ibu Nengsih mengalami shock berat yang berujung pada depresi. Ingatannya tentang kejadian yang tidak menyenangkan, khususnya yang terjadi tepat setelah beliau melahirkan membuatnya semakin depresi.


Penyangkalan atas apa yang beliau alami membuatnya kehilangan ingatan untuk sementara. Itu merupakan cara beliau untuk bertahan hidup untuk melupakan momen terburuk dalam hidupnya. Itulah kenapa, ingatan beliau masih tertinggal beberapa puluh tahun yang lalu. Saat beliau kehilangan bayi," jelas dokter panjang lebar.


"Simpelnya begini, saat pikiran sedang stres kita akan lebih mudah melupakan sesuatu bukan?"


"Iya, saya suka tiba-tiba jadi pelupa saat sedang stres," jawabku.


"Nah, itu salah satu dampak atau efek untuk mengalihkan ingatan dari hal yang membuat stres."

__ADS_1


Aku mengangguk mengiyakan.


"Dan untuk Bu Nengsih sendiri, terdapat dua fase. Fase pertama adalah pada saat beliau sadar jika bayinya sudah hilang. Dan fase kedua adalah pada saat beliau menganggap jika bayinya masih ada bersamanya.


Saat fase pertama muncul dan membuatnya mulai histeris dan kehilangan pengendalian diri, fase kedua juga muncul untuk menggantikan fase pertama. Itu menjelaskan kenapa beliau menganggap guling sebagai perwujudan dari bayinya. Dan dengan ingatan yang seperti itu, beliau mendapatkan kembali ketenangan."


Aku tertegun mendengar penjelasan dokter. Itulah kenapa dari cerita yang kudengar, terkadang ibu terlihat berkeliling kampung untuk menanyakan keberadaan bayinya pada setiap penduduk dan terkadang hanya duduk diam dan memeluk sebuah guling seolah-olah guling itu adalah bayinya.


***


"Kita mau kemana Non?" tanya ibu padaku saat aku membantunya mengemas barang sepulangnya dari rumah sakit.


"Sama bayi Ibu juga kan?" tanyanya lagi.


"Iya, sama bayi Ibu," jawabku lirih.


"Kalau gitu Ibu harus nyiapin peralatan bayi Ibu dulu ya Non?"


Aku mengangguk pelan. Ibu berlalu ke kamar dan kembali dengan membawa beberapa baju bayi, kain flanel serta perlengkapan mandi yang walaupun terlihat baru karena masih ada labelnya tapi tampak usang. Netraku memanas membayangkan jika itu adalah milikku saat bayi dulu. Aku bisa merasakan kesakitan ibu, menahan rindu pada bayi kecilnya yang hilang dan mengobati diri sendiri dengan barang-barang milik bayinya yang masih tersisa.


***

__ADS_1


Sebelum berangkat, Mas Utta memberikan ibu sebutir obat tidur. Itu akan membantu menenangkan beliau di jalan nanti. Pasien depresi yang terjebak pada dua fase tidak bisa diprediksi. Ada kalanya bisa tenang saat berada di fase kedua dan sesaat kemudian bisa kembali histeris. Perubahan fase ini tergantung dari apa yang pasien lihat. Garis besarnya, jika pasien melihat sesuatu yang membuatnya trauma, fase pertama akan muncul disertai dengan hilangnya pengendalian diri.


Mas Utta juga sudah memesan kamar di salah satu rumah sakit jiwa di kota Bandung. Ibu akan ditangani oleh teman Mas Utta yang berprofesi sebagai dokter ahli kejiwaan untuk memudahkan pengawasan.


***


"Ini rumah siapa Mun?" tanya ibu saat kami sudah sampai di rumah sakit jiwa. Raut ketakutan terlihat jelas di wajah beliau. Guling kecil lusuh yang dari awal berangkat tidak pernah lepas dari dekapan, semakin erat dipeluknya. Aku hampir meneteskan air mata kembali saat Mas Utta merangkul pundakku.


"Kamu harus kuat Neng, jangan lemah. Ini adalah situasi yang harus kita hadapi. Tegarkan dan kuatkan hatimu. Jangan ikut terpuruk melihat kondisi ibu."


Aku mengangguk dan mengerjapkan mataku beberapa kali.


***


Teman Mas Utta menyambut kami walaupun waktu kerjanya sudah berakhir. Pria itu menjelaskan bahwa ia harus melakukan observasi terlebih dahulu untuk menentukan terapi yang akan diberikan pada ibu.


Ibu hampir kehilangan ketenangannya saat kami akan beranjak pergi. Ia memohon pada Bi Mumun agar membawanya pulang ke rumah.


"Mun, bawa aku pulang Mun. Nanti kalau bayiku ketemu terus aku ngga ada di rumah gimana?" ucapnya tersedu-sedu.


Butuh waktu beberapa saat untuk kembali menenangkan beliau sebelum pada akhirnya beliau mengamuk dan menjerit-jerit. Teman Mas Utta yang masih mendampingi kami memerintahkan perawat untuk menyuntikan sesuatu yang kemudian ku tau dari Mas Utta adalah obat penenang. Tidak lama efek obat tersebut sudah terlihat, ibu mulai tenang dan para perawat membantunya untuk tidur. Setelah memastikan ibu sudah tidur dengan pulas, kami berpamitan untuk kemudian pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2