
"Balasan terbaik untuk orang-orang yang sudah berbuat jahat adalah ingatan yang menimbulkan rasa bersalah dan penyesalan. Kedua hal itu akan terbawa hingga tutup usia." - Author
***
Keponakan Bi Mumun menyambut kami dengan ramah. Kami dijamu dengan suguhan yang luar biasa.
"Ron, gimana kabarnya Nengsih?" tanya Bibi pada keponakannya.
Aku dan Mas Utta diam menyimak pembicaraan Bibi.
"Bi Nengsih sudah mulai sakit-sakitan Bi. Beberapa waktu lalu, Bu Rt membawanya ke dokter," jawab Pak Roni.
Pak Roni baru saja lulus SMA saat Bi Mumun membawaku pergi diam-diam. Oleh karena itu, beliau cukup mengerti akan kondisi dan situasi yang waktu itu terjadi.
Menurut ceritanya pada kami, semua warga kampung menjadi heboh dan ikut mencari bayi Nengsih, sampai akhirnya Nengsihmenjadi depresi berat dan warga memutuskan untuk mengurungnya. Selama Pak Roni bercerita, Bi Mumun menundukkan wajah.
***
Setelah makan siang, Bi Mumun mengajakku dan Mas Utta menemui ibu kandungku. Pak Roni yang merupakan penduduk asli, meminta kunci rumah tempat ibuku dikurung ke Bu Rt.
Rumah itu ternyata adalah rumah nenek dari ibu. Rumah tempat tinggal ibu setelah ayah meninggal, dan rumah dimana aku dipisahkan dari beliau secara paksa.
***
Netraku memanas melihat sosok yang duduk di lantai. Sekilas melihat, orang akan mengatakan jika aku memiliki garis wajah yang sama dengan sosok itu. Seluruh tubuhku membeku dan mataku mulai mengabur.
"Dek, tumbuhlah besar, tumbuhlah kuat. Jadilah anak sholehah yang memiliki hati lembut," ucapnya pada sebuah guling kecil lusuh di pangkuannya.
__ADS_1
"Nengsih!" Bi Mumun menghampiri sosok tersebut dan memeluknya erat.
"Nengsih, ini Mumun," ucap Bi Mumun menangis.
"Maapin aku Nengsih, maapin aku...."
Wanita itu memalingkan wajahnya menghadap Bi Mumun. "Mun, kamu pulang? Gimana kerjaan kamu? Lihat ini, anakku cantik kan?"
Pertanyaan itu semakin membuat Bi Mumun tersedu-sedu. Mas Utta merangkulku dan membawaku menghampiri ibu.
"Nengsih, maapin aku. Aku yang dulu mengambil bayi kamu diem-diem. Aku yang membawa pergi bayi kamu. Aku yang memisahkan kalian...."
"Anak aku hilang Mun, mereka bilang kalau anakku sudah ma*ti. Tapi aku ngga percaya, anakku masih hidup," ucap ibu pelan. Air mata sudah mengalir deras di pipinya.
"Iya Nengsih, anak kamu masih hidup. Aku dateng sama anak kamu. Anak yang dulu aku bawa kabur dari kami," Bi Mumun berkata parau.
Mata ibu beralih menatapku, "Siapa gadis itu Mun, dia terlihat seperti aku."
Tangan ibu menyentuh wajahku. Sekilas aku bisa melihat kelegaan dalam matanya. "Anak aku?" tanyanya lirih.
Aku mengangguk. "Iya, saya anak ibu..."
"Tapi anak ibu masih bayi," katanya seraya menunjukkan guling kecil yang ia letakkan di lantai.
"Nengsih, ini Neng Nona. Ini bayi kamu yang dulu aku ambil, sekarang bayi kamu sudah besar," kata Bi Mumun.
Mendengar perkataan Bi Mumun, Ibu langsung memelukku erat. Air mata tidak bisa kutahan dan mengalir dengan derasnya. Dalam dekapan wanita inilah aku berada saat bayi.
__ADS_1
"Nama kamu siapa?" tanyanya lirih.
"Nona. Nama saya Nona, Bu."
"Nama kamu bagus. Lihat anak saya tuh, saya belum ngasi dia nama. Boleh saya kasih nama Nona juga?" ucapnya lagi.
Aku menatap ibu sesaat sebelum berbalik menatap Mas Utta. Dengan samar aku bisa melihat jika suamiku mengangguk.
"Iya Bu, boleh. Nama anak ibu sekarang Nona ya? Karena nama saya dan nama anak ibu sama, anggap saya anak ibu juga ya?" suaraku parau dan tercekat.
"Iya, kamu juga anak saya." Ibu melepas pelukannya dan mulai menimang guling kecil lusuh dalam dekapan.
***
Jauh-jauh hari sebelum pergi ke kampung Bi Mumun, Mas Utta sudah memberi gambaran padaku. Tidak akan mudah masuk ke dalam ingatan seseorang yang mengalami depresi. Butuh kesabaran dan penanganan yang berbeda. Apalagi untuk kasus ibu diperparah oleh Post Partum Sindrom. Mas Utta mengira demikian karena peristiwa saat aku dipisahkan dengan ibu terjadi hanya beberapa saat setelah beliau melahirkan. Tapi untuk lebih jelasnya, kami harus bertemu dengan dokter ahli kejiwaan. Itulah kenapa, aku menahan diri saat berbicara dengan ibu. Karena jika aku memaksanya untuk menerima kenyataan bahwa aku adalah bayinya yang sudah tumbuh besar, kemungkinan, hanya penolakan yang akan kuterima.
***
"Gimana kalau ibu kita bawa aja ke Bandung, Neng?" tanya Mas Utta saat kami sudah merebahkan diri di atas kasur.
"Emang ngga apa-apa Mas?" aku membalikkan badan untuk menatapnya.
"Astagfirullah, malah nanya kaya gitu. Ya ngga apa-apa. Ibu Neng itu ibu Mas juga hei," ucapnya gemas.
Aku tertawa tertahan lalu terdiam, "Neng pengen ibu sembuh dan menerima kenyataan kalau Neng adalah bayinya yang dulu hilang."
"Insya Allah kalau terapinya tepat, bisa Neng. Bantu doa ya? Tapi kalaupun Ibu di bawa ke Bandung, untuk sementara beliau akan ditempatkan di rumah sakit. Bukannya Mas gimana-gimana, tapi penanganan untuk pasien depresi itu lumayan rumit. Depresi memang ngga terlihat seperti sakit yang menyerang fisik. Tapi ya sama bahayanya, jadi jangan sekali-kali disepelekan."
__ADS_1
Aku memeluk Mas Utta perlahan, "Untuk masalah terapi dan pengobatan Ibu, Neng serahin sama Mas ya. Mas kan dokter, pasti lebih tau daripada Neng."
"Iya Neng, Mas akan ngelakuin semua yang terbaik untuk ibu."