
Keluarga Entin sudah dikenal di kampung ini sebagai keluarga yang kurang mampu. Suaminya bekerja serabutan. Setiap pagi, beliau berkeliling dari rumah satu ke rumah lainnya untuk mencari pekerjaan. Hampir semua dilakoni. Mencabut rumput, memangkas ranting pohon, mengecat rumah dan banyak lagi. Entin sendiri adalah ibu rumah tangga dengan 3 orang anak. Jika suaminya setiap hari berkeliling mencari pekerjaan, Entin pun melakukan hal yang sama. Bedanya, ia berkeliling kampung untuk mencari bahan makanan.
Penduduk yang merasa kasihan membiarkan Entin mengambil beberapa hasil kebun mereka. Tapi, Entin cukup tau diri. Dirinya merasa tidak enak hati jika hampir setiap hari mengandalkan kemurahan hati penduduk desa. Oleh karena itu, ia lebih suka mencari bahan makanan di lahan kosong yang tidak ditanami langsung oleh pemiliknya.
Sudah dari semalam Entin dan keluarganya belum makan. Beras satu cangkir yang sudah menjadi bubur telah habis masuk ke perut mereka tanpa meninggalkan rasa kenyang. Anak bungsu Entin, bayi berusia satu tahun berulang kali mengecap jarinya tanda lapar. Setelah membereskan pekerjaan rumah, Entin membawa ketiga anaknya untuk mencari bahan makanan. Anak sulung yang berusia 7 tahun dan Anak tengah 5 tahun membawa kantung plastik kosong ditangan masing-masing. Walaupun lapar, keduanya bersemangat membantu Entin mencari bahan makanan. Apalagi jika ada penduduk yang memberikan sesuatu kepada mereka. bukan main bahagianya. Bukan makanan enak atau mewah yang mereka cari. Cukuplah makanan yang bisa memberikan rasa kenyang, agar tubuh mereka tidak kedinginan menahan lapar sepanjang malam.
Entin berjalan menuju ke ujung kampung. Disana terhampar sawah luas milik para penduduk desa. Biasanya di tepi sawah tumbuh tanaman bayam liar. Entin berniat mengambil tumbuhan itu untuk makan siang mereka sekeluarga.
Mujur bagi Entin, tumbuhan bayam tumbuh subur di sisi sawah milik Bu Susi. Sejenak wanita itu melihat ke sekeliling. Dilihatnya beberapa orang sedang bekerja memanen padi. Entin berjalan menghampiri kerumunan itu setelah sebelumnya memindahkan anak bungsu ke punggung. Diikatnya kain jarik lusuh kuat-kuat agar bayinya tidak terjatuh saat ia harus berjongkok mengambil bayam.
"Permisi bu, bayam-bayam yang disebelah sana apakah ada yang punya? Bolehkah saya meminta sedikit untuk makan?" Entin berucap sambil menunjuk ke arah tumbuhnya bayam. Kedua anaknya berdiri disana dengan kantong plastik di tangan masing-masing.
Salah satu ibu yang mengenal Entin berkata,
"Bayam-bayam itu tidak ada yang punya Entin, ambil saja sana. Bawa pulang untuk makan anak-anakmu. Setelah itu kembali kemari, ini ada beras satu kilo, bawa juga sekalian"
Entin tersenyum dan berterima kasih. Hatinya bersyukur, anak-anaknya siang ini bisa makan. Dielusnya kepala si bungsu yang menyandar di bahunya.
Dibawah panas matahari yang mulai terik karena sudah beranjak siang, Entin berjongkok dengan anak-anaknya. Bertiga mereka memilih pucuk daun bayam yang muda. Anak tengah tiba-tiba melihat ke arah parit dan berteriak senang kepada kakaknya.
"Aa, liat ada keong. Ayo tangkap A, bawa pulang. Minta emak masak keong"
Si sulung yang mendengar itu bergegas menghampiri adiknya. Karena semua kantong plastik yang mereka bawa sudah penuh, keduanya menaruh keong hasil tangkapan menggunakan kaos mereka. Entin tersenyum melihat anak-anaknya, sekaligus luar biasa sedih. Batinnya menjerit, merasa tidak berguna karena membuat anak-anaknya merasakan kesulitan hidup.
Keduanya masih mengumpulkan keong, sesekali si anak tengah berdiri dan mengejar beberapa bebek yang sedang mencari makan didekat situ. Bebek-bebek itu milik Bu Susi, pemilik sawah. Bocah kecil itu tertawa kegirangan. Setelah dirasa cukup, mereka semua kembali ke rumah setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu yang masih memanen padi. Dan mengambil beras yang diberikan padanya.
Entin menumis keong, membuat sayur bayam dan menanak nasi. Setelah selesai, ia memandikan ketiga anaknya. Mereka tengah makan saat terdengar suara gaduh dari depan rumah.
"Entin, keluar kamu!" seseorang berteriak dengan sangat kencang. ketiga anak Entin diam ketakutan. Dengan penuh tanda tanya Entin keluar menghampiri orang yang memanggilnya.
__ADS_1
Dahi Entin berkerut ketika melihat Bu Susi dengan wajah marah. Mendadak, hatinya diliputi kecemasan.
"Bu Susi ada perlu dengan saya?" tanyanya takut-takut.
"Ini dia ibu-ibu, pencuri bebek saya. Dipanggil-panggil ngga langsung keluar!" teriak Bu Susi
Entin yang merasa tidak mengerti arah pembicaraan Bu Susi pun bersuara.
"Maaf Bu Susi, maksudnya apa ya? Bebek apa?"
Bu Susi mendelik marah melihat Entin dengan wajah polosnya.
"Banyak mulut! Tadi kamu mengambil bayam di dekat sawah saya kan? Pekerja saya bilang, saat tadi waktunya memasukkan bebek ke kandang, bebek saya berkurang satu! Pasti kamu yang mengambilnya!"
Entin luar biasa kaget mendapat tuduhan itu. Tanpa bisa ia cegah, air mata mulai membayang dimatanya. Tubuhnya terjatuh ke tanah. Dan ketiga anaknya menyusul ke luar rumah karena penasaran.
Melihat ibu mereka menangis, ketiga anak Entin berlari menghampiri dan memeluk. Sedangkan Bu Susi masih saja menuduh Entin dan anak-anaknya pencuri. Beberapa penduduk yang terhasut ikut berkata kasar. Hingga akhirnya suami Entin pulang dan mendapati keluarganya terduduk di tanah diiringi cacian penduduk.
"Ada apa ini bapak-bapak dan ibu-ibu?" suami Entin menatap kerumunan penduduk dengan was-was.
Bu Susi mengadukan jika Entin mencuri bebeknya. Sedangkan Entin masih menyangkal. Cacian dan hasutan dari Bu Susi dan penduduk membuat suami Entin gelap mata. Ia mengira Entin sanggup berbuat hal yang tercela itu. Dijambaknya rambut Entin dan dipaksanya wanita itu berdiri. Dengan sekuat tenaga ditamparnya pipi wanita yang berstatus istrinya tersebut.
"Wanita kurang ajar! Pembawa sial! Setelah kemiskinan ini, kamu juga berani melempar kotoran ke mukaku dengan mencuri! Wanita hina!" suami Entin berteriak.
Entin kembali jatuh terduduk diiringi tangis ketiga anaknya. Telinganya nyeri dan berdenging. Tanpa ia sadari, darah sudah menetes di bahunya.
"Demi Tuhan... Saya dan anak-anak tidak mencuri. Kami hanya makan bayam liar dan kerang sawang yang orang-orang anggap hama. Kami hanya memakan itu. Bahkan, aku lebih rela memberikan makanan dari tempat sampah untuk anak-anakku daripada harus memberikan mereka makanan enak dari hasil mencuri"
Suami Entin meludah tepat di depan Entin. Sedangkan Bu Susi masih saja memaki-makinya.
__ADS_1
"Buktikan!" teriak wanita itu.
"Buktikan jika kamu memang tidak mencuri bebekku dan telah habis memakannya! Buktikan jika kamu memang hanya makan bayam dan keong!"
Entin menatap ke arah Bu Susi nanar.
"Aku akan mengambilkan sisa makanan kami di dalam" ucapnya sambil berusaha berdiri.
Tanpa banyak kata Bu Susi maju dan mendorong Entin hingga terjengkang.
"Jangan coba-coba beranjak dari tempatmu. Kamu bisa saja menyembunyikan sisa bebek itu. Atau mungkin sudah kalian makan habis?!"
Air mata Entin kembali mengalir. Pandangannya langsung beralih pada suaminya.
"Kang, kami tidak mencuri..." ucapnya lirih. Tapi bahkan suami Entin memalingkan muka.
Ditengah keputusasaan diperlakukan sebagai pesakitan tanpa diberi kesempatan membela diri, Entin memeluk ketiga anaknya. Mereka menangis berpelukan, namun bukan simpati yang mereka dapat. Hanya cacian dan makian. Waktu terasa berhenti bagi Entin. Dengan pelan, dirogoh mulut anaknya satu persatu hingga ketiganya muntah. Terakhir ia merogoh mulutnya sendiri. Penghakiman dari sesama manusia terasa menyakitkan. Entin berharap penghakiman dari Tuhan akan menunjukkan jika ia dan anak-anaknya tidak bersalah.
Setelah memuntahkan seluruh isi lambungnya, Entin memandang satu persatu penduduk termasuk suaminya dan Bu Susi.
"Lihat, tidak ada daging bebek disana. Hanya ada nasi, bayam dan keong. Lihat dengan mata kepala kalian sebelum kalian menjatuhkan prasangka dan fitnah"
Semua orang yang ada disitu terdiam. Beberapa mulai menatap Entin dan anak-anaknya dengan iba. Sampai akhirnya seseorang datang dan mencari Bu Susi.
"Bu Susi, bebeknya sudah ada. Maaf tadi saya salah hitung waktu memasukkan semua ke kandang" Ujang yang merupakan pekerja Bu Susi berkata dengan cukup keras.
Semua orang yang hadir kembali terdiam. Rasa penyesalan dan bersalah terbit di hati mereka masing-masing. Suami Entin tertunduk malu. Bu Susi juga tidak berani mengangkat dagunya. Semua penduduk yg ikut menghakimi Entin dan anak-anaknya kehilangan muka. Inilah penghakiman dan pertolongan langsung dari Tuhan. Dia mengganjar semua orang yang sudah memfitnah dan berburuk sangka pada Entin dengan rasa penyesalan yang menyesakkan. Entin tersenyum samar. Kepalanya luar biasa sakit. Ia jatuh tergeletak dikelilingi ketiga anaknya.
"Sudah kubilang.. Kami tidak mencuri..."
__ADS_1