
Sensasi menggelitik menguasaiku saat melihat Jeni melongo saat mendengar semua ceritaku.
"Pantesan aja mereka kaya gitu, bukan orang tua kandung toh," ucap gadis itu lirih. "Sekarang alasan kamu untuk melawan mereka lebih kuat Non. Mereka sama sekali ngga ada hubungan darah denganmu. Kamu bisa dengan lebih tegas menolak keinginan mereka yang semakin lama semakin tidak masuk akal."
Aku mengangguk, "Aku berpikir untuk secepatnya pindah ke Bandung. Tapi kan kamu tau sendiri, proses resign ngga secepat yang diinginkan. Paling ngga aku harus banyak ngajarin orang baru yang mau ngegantiin aku di kantor."
"Kapan rencana kamu mau menyerahkan surat pengunduran diri secara resmi?" tanya Jeni.
"Besok deh, aku nanti langsung menghadap Bu Dinda."
Jeni menganggukan kepalanya, "Aku bakalan kangen kamu banget Non. Jangan lupa undang aku ya pas nikah."
"Iya, Insya Allah," jawabku tersenyum.
Jeni mendekatiku dan memelukku erat. "Setelah sekian lama kamu menderita, akhirnya sekarang jalan menuju kebahagiaan sudah terlihat. Bahagia selalu ya Non," ucapnya tulus.
Aku menangis dalam pelukannya. Tidak banyak manusia yang memperlakukanku dengan baik.
"Eh, kan besok kamu mau ngasih surat pengunduran diri, gimana kalau sampai kamu pindah ke Bandung, kamu tinggal di sini? Aku ngeri kalau sampai orang tua angkat kamu itu ke kost terus bikin gara-gara."
Aku terdiam sejenak untuk memikirkan saran Jeni. Seolah tau jalan pikiranku, Jeni kembali membuka suara.
__ADS_1
"Udah, ngga usah banyak mikir. Aku kan sendirian di sini. Kamu ngga pernah dan ngga akan pernah bikin aku kerepotan."
Pada akhirnya aku kembali tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya," ucapku pendek.
"Besok pulang kerja, kita ambil barang-barang kamu yang masih di kost. Barang yang sekiranya ngga dipakai, tinggalin aja," kata Jeni menutup pembicaraan.
***
Aku menjelaskan situasiku pada atasanku, Bu Dinda, sekaligus memberikan surat pengunduran diri. Beliau menatapku iba dari pertama kali aku memasuki ruang kerjanya. Kurasa, kejadian waktu Mama datang ke kantor membuatnya menjatuhkan iba akan nasibku.
"Jadi saya akan bertahan beberapa hari untuk mengajarkan calon pengganti saya, Bu."
Bu Dinda mengangguk, "Saya doakan kamu selalu bahagia, Non. Sehat, selamat dan berkah di kota yang baru. Kantor ini dengan senang hati jika suatu hari nanti kamu memutuskan untuk kembali bergabung."
***
"Non, tadi Papa kamu sama istrinya ke sini nyariin. Mereka belum lama pergi, ayo cepet ke rumah ibu aja. Perasaan ibu, mereka mau bikin ulah seperti Mamamu."
Aku dan Jeni berpandangan sejenak sebelum akhirnya buru-buru menuju ke rumah ibu kost.
"Bu, saya berniat pindah hari ini. Maafin kalau terkesan mendadak," ucapku lirih.
__ADS_1
Ibu kost menatapku lekat, "Ibu rasa untuk saat ini, itu adalah keputusan yang terbaik Non. Maafin ibu untuk kejadian tempo hari."
"Ayo Non, cepet kemas barang kamu. Takutnya Papa kamu balik lagi ke sini," ajak Jeni.
Aku mengangguk dan keluar menuju ke kamarku.
***
Selama beberapa hari setelah kepindahanku ke apartemen milik Jeni, hidupku terasa tenang tanpa gangguan apapun. Di kantor pun aku sebisa mungkin secara cepat mengajarkan pekerjaan harianku pada gadis yang akan menggantikan posisiku. Butuh satu minggu lebih sampai akhirnya tugas terakhirku di perusahaan ini selesai.
Aku menceritakan kepindahanku pada Ambu dan Abah. Seperti biasa, mereka mendukung atas semua keputusan yang ku ambil. Aku juga sudah memesan tiket kereta menuju Bandung untuk besok siang.
***
"Hati-hati ya, kabarin kalau udah sampe," Jeni memelukku erat dan menangis. "Mulai sekarang kamu harus selalu bahagia Non. Jangan lupa undang aku ya pas kamu nikah."
Aku mengangguk pelan dan menatap Jeni lekat. Tidak mau larut dalam kesedihan yang lebih dalam, aku mengusap punggungnya lembut dan mengangkat tasku untuk bersiap memasuki kereta.
Cuaca mendung ibukota seolah melepas kepergianku dengan sedih. Dalam waktu singkat, banyak kenyataan yang harus kuterima. Takdir. Ya, lagi-lagi takdir yang menuntunku kembali ke jalan yang seharusnya.
***
__ADS_1
Mas Utta menyempatkan untuk menjemputku disela-sela kegiatannya yang padat. Kami menuju rumah yang sudah ia beli untuk kami tempati kelak setelah menikah. Ambu, Abah dan Bi Mumun sudah menunggu di sana.
Rencana pernikahanku dibicarakan pada malam harinya setelah Mas Utta pulang dari rumah sakit. Paling cepat minggu depan, kami akan melangsungkan akad nikah terlebih dahulu. Untuk resepsi, bisa menyusul kemudian di saat Mas Utta sudah mendapatkan waktu yang tepat. Sedikit banyak, aku mulai mengerti akan profesi Mas Utta. Jam kerjanya yang tidak terbatas menuntutku untuk mengerti jika ia harus lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit daripada di rumah.