
"Anak aku? Itu anak aku Mun? Anak yang kamu bawa pergi dari aku?"
Bi Mumun mengangguk pelan. Wajah keduanya sudah bersimbah air mata.
Aku berjalan perlahan mendekati ibu. Mata beliau yang dihiasi air mata menatapku lekat. Aku melihat rasa rindu yang dalam di sana.
"Iya, Nona anak ibu...," ucapku tercekat sembari bersimpun di pangkuan beliau.
Ibu memelukku erat dan menangis tersedu-sedu. "Anak aku... Anak aku sayang... Anak aku...." ibu terus mengulang kata-kata tersebut.
"Bayi ibu sudah sebesar ini... Maafin ibu ya Nak, maafin ibu yang ngga punya kesempatan ngerawat kamu...."
"Ibu...," ucapku tersedu-sedu. Alhamdulillah, doaku terjawab sudah, ibu sudah tau siapa aku dan bisa menerimaku dengan baik.
Kami berdua masih berpelukan erat. Ibu berkali-kali mengusap kepalaku dan menciuminya penuh sayang.
***
"Ya Allah terima kasih banyak. Terima kasih banyak sudah memberikan takdir yang indah untuk hamba dan ibu hamba. Terima kasih sudah memberikan kesembuhan atas ibu hamba. Terima kasih sudah mengirimkan banyak orang-orang baik di sekeliling hamba. Dan terima kasih sudah memberikan ujian yang bertujuan untuk menguatkan hamba. Ampunilah hamba jika masih belum menjadi anak yang berbakti kepada ibu kandung dan juga orang tua angkat hamba. Berkahi hidup mereka semua dengan kebahagiaan. Lindungilah mereka semua dimanapun mereka berada. Ampuni segala khilaf dan kesalahannya. Sayangilah mereka di dunia dan di akhirat kelak. Aamiin." Aku mengusapkan kedua tanganku ke wajah yang sudah dipenuhi air mata.
***
Semakin hari kondisi mental ibu semakin membaik. Beliau menunjukkan interaksi positif dengan dokter dan para perawat yang merawatnya. Aku dan Mas Utta membicarakan kemungkinan untuk membawa ibu pulang ke rumah.
"Nanti kita lihat lagi ya Bu. Kalau keadaan Bu Nengsih terus stabil seperti ini, Insya Allah paling cepat bulan depan beliau sudah bisa dibawa pulang. Dengan catatan, beliau masih harus terus meminum obat yang saya resepkan," ucap dokter sambil tersenyum.
__ADS_1
Mendengar perkataannya, aku dan Mas Utta serempak mengucapkan hamdalah.
***
"Ibu," aku berseru memanggil ibu yang sedang sarapan.
"Eh anak ibu udah dateng. Kesini sama siapa Neng?" tanya ibu tersenyum.
"Sama suami Neng, Bu," aku mengalihkan pandangan ke belakang tubuhku dan melihat Mas Utta masuk ke kamar perawatan ibu. Dengan pelan ia menghampiri ibu dan mencium tangan beliau.
"Ini teh minantu ibu?" tanya ibu lagi.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Alhamdulillah Neng, ibu ngga nyangka kalau udah punya menantu. Coba sini cerita sama Ibu, apa aja yang udah Neng alami."
***
Mas Utta dinas sore dan aku sedang membeli buah di pasar yang tidak jauh dari rumah sakit jiwa tempat ibu dirawat. Bi Mumun sudah datang dan sedang menemani ibu. Setelah membeli apa yang kubutuhkan, aku kembali melangkah menuju rumah sakit.
"Makasi pisan ya Mun, kamu teh udah ngurus anak Nengsih dengan baik. Si Neng bisa tumbuh jadi anak yang sholehah gitu," ucap ibu.
"Aku harusnya minta maaf Nengsih, sampai detik ini aku nyesel udah bawa kabur Non Nona dari kamu. Aku beneran nyesel," Bi Mumun terisak.
Pembicaraan mereka berdua yang terdengar karena pintu yang sedikit terbuka membuatku urung masuk. Aku menyandarkan diri di sebelah pintu.
__ADS_1
"Aku teh sedih Mun, panik nyariin anak aku. Aku takut kalau ternyata mertua aku yang udah ngambil anak aku diem-diem. Aku takut kalau anak aku kenapa-kenapa, makanya siang malem aku nyariin dia. Aku inget jelas, pas aku masuk buat ngambil handuk sebentar, pas balik ke depan, bayi aku udah ngga ada."
Diam-diam aku menangis mendengar perkataan ibu.
"Maaf Nengsih, aku khilaf. Aku jahat," ucap Bi Mumun lirih.
"Udah Mumun, yang penting sekarang mah Nengsih bisa ketemu sama anak Nengsih. Nengsih udah iklas nerima. Nengsih juga ngga akan nyalahin Mumun," balas ibu.
Aku membalikkan badan dan melihat jika mereka berdua sedang berpelukan dalam tangis.
***
Bi Mumun sudah tidur sepulangnya kami dari menjenguk ibu. Aku menunggu Mas Utta yang belum pulang karena harus melakukan operasi dadakan sampai akhirnya pukul sebelas lebih, mobil suamiku memasuki halaman.
"Bersih-bersih dulu Mas, Neng siapin makan," ucapku yang langsung bergegas menuju ke dapur.
"Tadi ada kasus gawat Neng, makanya Mas ngga sempet ngabarin, maaf ya?" ucapnya sambil mulai makan.
"Ngga apa-apa Mas, udah jadi resiko istri dokter. Neng ngerti kok, tenang aja," jawabku.
Kami membicarakan hal-hal yang ringan. Termasuk kabar Abah dan Ambu yang sedang berada di tanah suci untuk ibadah umroh.
"Papa Mama masih suka ngegangguin kamu, Neng?" tanya Mas Utta.
"Sesekali masih sih Mas, cuma Neng sekarang ngga mau ambil pusing. Biarin ajalah. Bukannya Neng ngga tau terima kasih, tapi prioritas Neng sekarang kan ke Mas sama ke Ibu."
__ADS_1
Mas Utta mengangguk, "Iya, kamu udah ngelakuin banyak hal diluar kewajiban kamu. Mas rasa malah itu lebih dari sekedar balas budi karena mereka udah ngangkat kamu jadi anak."
Aku mengangguk mengiyakan. Mas Utta menyelesaikan makan malamnya dan berlalu ke ruang keluarga. Aku bermaksud untuk membereskan meja makan saat tiba-tiba sensasi pusing menyerang. Merasa badanku limbung, aku mencengkram ujung meja dengan kuat. Detik berikutnya tubuhku luruh ke lantai dan semua gelap.