
Utta dan Bi Mumun menjemputku untuk ke Bandung saat akhir pekan. Rencananya, aku akan menyampaikan keputusanku mengenai pernikahan dengan Utta.
"Dokter emang ngga sibuk kalau akhir pekan?" tanyaku pada Utta yang sedang mengemudi, sedangkan Bi Mumun tertidur sendiri di kursi belakang.
"Sebetulnya ngga ada dokter yang ngga sibuk. Apalagi aku sekarang sedang bertugas di IGD."
"Tapi?" tanyaku lagi.
"Tapi ngga jadi masalah kok. Menjemput kamu adalah prioritas Non. Walaupun setelah sampai Bandung, aku harus segera kembali ke rumah sakit," Utta menoleh dan tersenyum.
Mendapat perlakuan baik dan menyenangkan terasa sangat berharga. Wajar saja, aku tidak mendapatkan hal itu dari keluargaku sendiri.
"Tidur aja dulu, satu jam lagi kita nyampe."
"Iya deh." Aku mencari posisi yang nyaman dan menyelimuti tubuhku dengan jaket yang kubawa.
***
Abah dan Ambu menyambutku di teras. Melihat mereka, hatiku merasa hangat.
'Jadi seperti inilah rasanya disambut oleh orang tua saat pulang ke rumah...,' ucapku dalam hati.
Bukan apa-apa, seingatku Papa dan Mama tidak pernah ada di rumah saat aku pulang sekolah. Aku terbiasa menghabiskan waktu bersama para ART ataupun sendiri. Perlakuan Papa Mama kepadaku sesaat membuatku berpikir jika aku bukanlah anak kandung mereka.
***
"Saya bersedia menerima niat baik Utta," ucapku pada Abah dan Ambu sesaat setelah makan bersama. Utta sendiri sudah kembali ke rumah sakit.
__ADS_1
"Alhamdulillah," Ambu memelukku erat dan berlinang air mata. Bi Mumun yang membawakan kami teh pun meneteskan air mata.
"Tapi ada satu hal yang harus Abah dan Ambu tau," aku menunduk dan berkata lirih.
Abah dan Ambu saling berpandangan, dan aku memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada mereka berdua.
"Astagfirullah, bisa-bisanya Papamu melakukan itu. Menukarmu dengan uang 100 juta oleh Mamamu saja sudah sangat mengherankan untuk Abah, kali ini Papamu ingin Nak Nona menafkahi mereka seumur hidup. Tidak bisa dimengerti bagaimana cara mereka berpikir," Abah menatapku sedih.
Bruk!
Suara berdebum membuat kami menoleh. Bi Mumun sudah terduduk di lantai dan menangis tersedu-sedu.
"Maafkan Bibi, Non. Tolong, ampuni Bibi," ucapnya parau.
Aku memandang ke arah Abah dan Ambu yang sama tidak mengertinya denganku.
"Ada apa Bi?" Pertanyaan selanjutnya dari Abah pun diabaikan.
"Bi? Bi Mumun kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ampuni Bibi, Non. Bibi yang salah. Bibi sudah berdosa sama Non Nona," ucap Bi Mumun di sela-sela tangisannya yang semakin tidak terkontrol.
Aku ikut menghampiri beliau dan memeluknya, "Kalau Bibi ngga cerita, Non ngga akan tau. Cerita sama Non, Bibi kenapa?"
Bi Mumun menatapku lekat, sedetik kemudian ia bersujud ke arahku dan masih mengucapkan permintaan maaf.
"Bi Mumun!" Abah mengeraskan suaranya.
__ADS_1
Ajaib, tangisan Bi Mumun berhenti dan beliau mengangkat wajahnya.
"Istigfar Bi! Tenangkan diri Bibi!"
Bi Mumun mengucap istigfar berulang kali dengan bibir gemetar. Aku bisa menangkap adanya tekanan kuat dalam mata beliau.
"Kalau sudah tenang, bangun dan duduk bersama kami di sini. Jelaskan kenapa tiba-tiba Bibi bisa histeris seperti tadi," ucap Abah.
Saat itu juga kekagumanku terhadap Abah bertambah besar. Walaupun berbicara dengan suara keras, sifat bijaksana Abah terlihat jelas.
Bi Mumun mengikuti perkataan Abah. Sesekali beliau menghapus air mata di pipi dengan telapak tangannya sendiri. Ambu memberikan secangkir teh yang kemudia diminumnya perlahan. Setelah beberapa saat, Bi Mumun jauh terlihat lebih tenang.
"Bibi kenapa bisa sampai kaya tadi? Kasihan sama Nak Nona? Saya dan ambu juga, tapi kami menahan diri untuk tidak sampai hilang kendali," Abah kembali berkata dengan suara lembut.
"Maafkan saya Abah, saya sedih mendengar cerita Non Nona. Saya merasa bersalah," ucapnya lirih.
"Bersalah kenapa?"
"Karena gara-gara saya, Non Nona ternyata menjadi semenderita ini," Bi Mumun mengangkat wajahnya dan mantapku.
"Ada apa Bi? Apa maksud Bibi?" tanyaku dengan dahi berkerut.
Bi Mumun mengambil tanganku dan menggenggamnya erat, "Bibi menyesal Non. Bibi sangat-sangat menyesal."
Aku mengusap pundaknya pelan, "Cerita sama Non, apa yang bikin Bibi merasa bersalah?"
Bi Mumun menatap mataku lekat sebelum menjawab, "Ini cerita dari masa lalu. Kurang lebih hampir dua puluh lima tahun yang lalu...."
__ADS_1