Doa Dari Tanah Kepada Langit

Doa Dari Tanah Kepada Langit
Episode 23


__ADS_3

Mataku terasa berat untuk dibuka, kepalaku pusing. Samar-samar aku bisa mengenali jika langit-langit di atasku terlihat asing.


"Alhamdulillah."


Suara Mas Utta semakin membuat kesadaranku bertambah. Aku menengok ke samping dan melihatnya sedang menangis.


"Mas, Neng kenapa?" tanyaku lirih.


Mas Utta menatapku dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Neng ngga kenapa-kenapa, cuma kecapean aja. Istirahat yang bener ya Neng?"


Aku mengangguk dan mengubah posisi badanku. Tidak berapa lama kemudian rasa kantuk menyerang dan aku mulai memejamkan mata.


***


Kondisiku sudah jauh lebih baik, tapi entah kenapa, Mas Utta belum mengijinkanku untuk pulang ke rumah. Insting yang sudah terasah semenjak menjadi istri seorang dokter membuatku merasa jika ada yang tidak beres.


"Mas, sini deh sebentar," panggilku.


Rumah sakit ini adalah rumah sakit di mana Mas Utta bekerja, dia bisa kapan saja mengunjungiku di sela-sela kesibukannya memeriksa pasien.


"Kenapa Neng?" tanyanya seraya memasukkan stetoskop ke saku Snelli (Jas dokter) yang sedang ia pakai.


"Masih visit pasien?" tanyaku balik.


Mas Utta menggeleng, "Ngga, ini lagi mau makan. Mas udah pesen ke kantin supaya nganter makanan Mas. Ada apa Neng?"


Aku menatap mata Mas Utta lekat, "Jujur sama Neng, kondisi Neng ngga baik-baik aja kan?"


Mas Utta mengalihkan matanya ke arah lain untuk menghindari pandangan mataku.

__ADS_1


"Jujur sama Neng, Mas. Bukannya pasien punya hak untuk mengetahui segala sesuatu tentang sakitnya?" tanyaku lirih.


"Neng mengalami gagal ginjal," Mas Utta juga menjawabku dengan lirih. Wajahnya menunduk dan aku bisa melihat jika bahunya bergetar. Suamiku menangis.


"Oke," sahutku pendek. "Seberapa parah, Mas?"


"Kronis stadium akhir," Mas Utta menatap wajahku.


"Oke, stadium akhir. Hemodialisa ( Cuci da*rah )?" tanyaku lagi.


"Untuk sementara," jawab Mas Utta.


"Karena?"


Mas Utta menghembuskan nafas panjang. "Karena ginjal yang satu lagi kondisinya juga sudah menurun."


"Tenang ya Neng, Mas akan usahakan transplantasi ginjal buat kamu. Rumah sakit ini sudah memiliki beberapa pendonor. Setelah menemukan yang cocok, transplantasi akan dilakukan."


Aku mengangguk pelan.


***


Bi Mumun datang dan membawakan beberapa barang yang kubutuhkan.


"Ibu gimana Bi?" tanyaku.


"Ibu berkali-kali nanyain Neng. Bibi ngga bisa bilang banyak. Bibi cuma bilang kalau Neng lagi ngga enak badan."


"Iya Bi, jangan sampai Ibu tau kalau Non sakit. Takut jadi pikiran," ucapku lirih.

__ADS_1


Sesudah jam makan siang, Mas Utta datang menjemputku lalu mengantarkan ke ruang Hemodialisa, tempat cuci da*rah akan dilakukan untuk yang pertama kali.


Mesin cuci da*rah berfungsi mirip dengan ginjal yang bertugas menyaring racun. Untuk prosesnya, da*rah penderita akan dipompa masuk ke dalam mesin untuk difilter atau disaring dari racun dalam darah. Darah yang sudah disaring kembali dialirkan ke dalam tubuh melalui selang yang lain. Terapi ini dilakukan jika ginjal sudah menurun kemampuannya.


Ginjal adalah dua organ yang berbentuk kacang yang terletak di bawah tulang rusuk sebelah kiri dan kanan mengarah ke tulang punggung. Ginjal berfungsi menyaring racun dalam da*rah yang lalu dikeluarkan dalam bentuk urine, feses dan keringat. Untuk pasien yang menderita gagal ginjal, ginjal tidak berfungsi dengan baik sehingga racun terus menumpuk di dalam tubuh. Hal ini membuat tubuh penderita gagal ginjal membengkak.


Aku melihat Mas Utta menatapku sendu, saat operator khusus Hemodialisa mulai menyalakan alat pencuci da*rah.


***


Setelah proses cuci darah selesai, aku kembali ke kamar dengan kondisi mengantuk. Mas Utta menungguku sampai aku tertidur lalu ia pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


***


Aku masih di rawat di rumah sakit karena dokter menjadwalkan untuk kembali melakukan proses cuci da*rah. Untuk selanjutnya pun, aku akan melakukan terapi ini sebanyak tiga kali dalam seminggu.


"Neng," suara seseorang yang sangat kurindukan terdengar.


Mataku nanar melihat ke arah pintu. Ibu sudah berdiri di sana dengan Bi Mumun dan Mas Utta. Aku bergegas bangkit dari posisi telentang, Mas Utta dengan sigap membantuku menaikan sandaran tempat tidur.


"Ibu, Neng kangen," aku mengulurkan tangan dan memeluk beliau dengan erat.


"Neng sakit apa? Mumun cuma bilang kalau Neng ngga enak badan, tapi ternyata Neng dirawat," ucap ibu pelan.


Aku tersenyum menatap ibu, "Neng kecapean aja Bu. Tapi ngga apa-apa kok. Ibu liat kan? Ini Neng baik-baik aja."


Ibu kembali mendekapku dalam pelukannya. "Jangan kenapa-kenapa Neng.. Ibu ngga sanggup kalau harus lihat Neng sampai kenapa-kenapa."


Aku merasakan tetesan air jatuh di pipiku. Saat mendongak, ternyata ibu menangis. Beliau terdiam menatapku sendu.

__ADS_1


__ADS_2