
"Ya Allah, jika hamba masih diperkenankan untuk diberi kesempatan supaya bisa mengurus ibu hamba, hamba mohon sembuhkan beliau. Hamba ingin sekali berbakti pada beliau. Hamba ingin membalas semua kasih sayang beliau yang singkat saat hamba masih bayi. Hamba ingin mengucapkan terima kasih karena sudah bahagia memiliki hamba. Hamba ingin berterima kasih sudah terlahir dari rahimnya. Dan hamba ingin berterima kasih karena sudah melakukan semua yang terbaik yang bisa beliau lakukan saat hamba masih dalam kandungannya. Mohon perkenankan hamba untuk mengurus beliau dengan baik. Limpahkan kasih sayang yang tidak terbatas untuk beliau. Aamiin.
***
Akhir-akhir ini aku semakin merasa kelelahan walaupun sudah banyak beristirahat. Sempat mengira jika hamil, aku mencoba menggunakan beberapa testpack. Hasil yang negatif membuatku kembali mengira jika ini adalah kelelahan biasa.
***
Hampir satu bulan dimana ibu belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Menunggu dalam kecemasan nyatanya ikut menyita pikiranku dan berimbas pada fisikku yang semakin lelah.
Mas Utta mendukungku dengan sangat luar biasa. Ia sering membawa pulang berbagai macam vitamin untuk membuatku kembali bugar. Selain itu, ia sangat menguatkanku di saat aku mulai lelah atau putus asa dengan kondisi ibu.
"Sabar Neng, semua ada prosesnya. Dijalani saja pelan-pelan," ucapnya padaku.
***
Aku dan Bi Mumun mengunjungi ibu hampir setiap hari. Mas Utta yang sudah mendengar laporan dari dokter yang merawat ibu, meminta Bi Mumun untuk selalu pergi denganku. Selama ini aku yang setiap hari mengunjungi ibu, Bi Mumun terkadang dua hari sekali karena beliau juga harus mengurus rumah.
***
"Bayi saya hilang!"
Teriakan ibu terdengar dari koridor tepat dimana kamar ibu berada. Dengan bergegas aku dan Bi Mumun berniat masuk untuk menghampirinya, namun dokter yang berdiri tepat di depan pintu menahan langkahku.
"Biar Bu Mumun ya masuk ya Bu?" katanya padaku.
"Mumun, bayi aku hilang! Tadi aku taruh di sini sebentar, pas aku keluar lagi udah ngga ada! Tolong! Tolong! Anak aku hilang!," ibu menjerit-jerit tidak terkontrol.
__ADS_1
Bi Mumun memeluk ibu erat, matanya mulai berkaca-kaca.
"Nengsih tenang," ucapnya parau.
Ibu masih berteriak-teriak jika anaknya hilang sampai akhirnya beliau pingsan.
***
Hampir satu jam kemudian sampai ibu siuman. Selama pingsan, Bi Mumun menunggui beliau tepat di sebelah tempat tidur. Saat ibu bangun dan melihatnya, ibu kembali terisak.
"Mumun, tolong aku! Anak aku hilang! Ini udah sebulan Mun, anak aku belum ketemu. Tolong bantu aku cari anak aku."
Bi Mumun kembali memeluk ibu. "Nengsih, bayi kamu ngga hilang, aku minta maaf. Aku yang udah ngambil bayi kamu."
Seketika ibu melepaskan pelukannya dan menatap Bi Mumun tajam. "Maksud kamu teh apa Mun?"
Tanpa di duga ibu memukuli lengan Bi Mumun, "Jahat kamu Mun! Tega kamu sama aku! Tega kamu ngambil satu-satunya hal yang berharga dalam hidup aku! Temen macam apa kamu Mun?! Jahat kamu! Jahat!"
"Maaf Nengsih, aku kepaksa. Aku kepaksa ngambil anak kamu karena majikan aku nyuruh aku nyari anak buat diadopsi."
"Tapi kenapa kamu ambil anak aku!? Walaupun aku hidup susah, ngga pernah kepikiran untuk ngebiarin anak aku menderita!! Ngga akn aku biarin ada orang yang mau adopsi dia! Tapi kamu? Kamu malah ngambil anak aku tanpa ijin! Kamu jahat Mun! Kamu tega!" Ibu histeris dan masih memukuli lengan Bi Mumun. Emosi yang seketika keluar membuat tubuhnya lemas dan kembali pingsan.
***
Dokter menyuruhku dan Bi Mumun untuk pulang terlebih dahulu dan kembali lagi besok. Dokter akan melakukan pendekatan secara pribadi pada ibu dan menguatkan mentalnya. Kami mengangguk mengerti dan berpamitan pulang.
***
__ADS_1
Sesudah subuh, aku dan Bi Mumun menumpang pada Mas Utta yang akan berangkat ke rumah sakit. Kami bermaksud mengunjungi ibu kembali setelah Mas Utta mengabarkan jika dokter yang merawat ibu berkata bahwa ibu dalam kondisi yang baik. Ingatan beliau masih tetap pada kejadian dimana Bi Mumun mengaku jika beliaulah yang mengambil bayi ibu. Dokter juga berpesan pada Mas Utta untuk kemudian disampaikan pada Bibi jika inilah saat yang tepat untuk membicarakan hal ini lebih dalam dengan ibu.
***
"Mana anak aku Mumun!" ibu berkata tajam sesaat setelah Bi Mumun masuk ke kamar perawatan untuk menemuinya.
"Nengsih...,"
"Di mana anak aku?! Kamu bawa dia ke mana?! Masih hidup atau sudah ma*ti?! Cepet kasih tau aku, Mumun!" bentak ibu.
"Tenang Nengsih. Aku ceritain semuanya. Anak kamu masih hidup dan sehat. Maaf, aku salah udah ngambil anak kamu diem-diem. Setelah aku ngambil anak kamu, aku bawa anak itu ke kota, ke rumah majikan aku. Aku yang ngurus anak kamu sampai anak kamu besar," kata Bi Mumun.
"Besar? Anak aku sudah besar?" tanya ibu bingung.
Bi Mumun mengangguk. "Kamu inget tahun berapa kamu ngelahirin anak kamu? Kalau ngga salah, ngga lama setelah suami kamu meninggal."
Ibu terlihat berpikir sejenak, "Sekarang tahun berapa?"
"Tahun 2022."
"Jadi udah lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu?" tanya ibu lirih.
Bi Mumun kembali mengangguk, "Anak kamu sudah sebesar itu sekarang."
Ibu terdiam sejenak sebelum kembali bersuara. "Di mana anak aku, Mun?! Aku mau ketemu anak aku! Aku ngga akan maafin kamu sebelum aku ketemu anak aku!"
"Iya Mun, aku ke sini dengan anak kamu. Non Nona...," panggil Bi Mumun.
__ADS_1
Aku memasuki kamar dan melihat jika mata ibu yang menatapku membelalak sesaat untuk kemudian berkaca-kaca .