
Menjalani proses cuci da*rah tidak semudah yang aku pikirkan. Rasanya tubuhku sudah tidak lagi kuat menahan aktifitas baru yang menjadi rutinitasku.
***
Ibu dan Bi Mumun sering sekali datang untuk menjenguk. Beliau menyuapiku, mengajak berbicara atau hanya memandangiku dalam diam. Aku pernah menanyakan pada Mas Utta kondisi ibu secara keseluruhan.
"Karena ibu sudah stabil, maka dokter mengijinkan beliau buat menengok kamu, Neng. Selain itu, Mas juga menjamin jika semua situasi yang mungkin terjadi akan sebisanya Mas kendalikan. Dalam artian, jika sewaktu-waktu ibu histeris, beliau berada di tempat yang semestinya. Rumah sakit ini kan emang tempatnya para dokter," jelas Mas Utta.
Aku mengangguk dan berucap hamdalah. Melihat kondisi ibu kian pulih semakin menguatkan semangatku untuk sembuh. Aku ingin bersama dengan beliau.
***
Kondisiku dengan cepat menurun dan Mas Utta berusaha keras untuk mencari pendonor yang cocok untukku. Sayangnya, sejauh ini orang-orang yang sudah terdaftar sebagai pendonor tidak ada yang lulus tes.
***
Mas Utta terdiam dari sejak selesai bekerja dan menemaniku di kamar perawatan.
"Kenapa Mas?" tanyaku langsung. Instingku lagi-lagi mengatakan jika ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Mas Utta menatapku lekat dan mengambil tanganku. "Mas minta maaf Neng," ucapnya parau.
__ADS_1
Aku tercekat dan menatapnya tidak mengerti. "Maksudnya gimana Mas? Minta maaf buat apa?"
"Ibu mendesak Mas untuk memberitahukan kondisi Neng."
Aku menghela nafas lega, "Oh itu. Ya ngga apa-apa kalau itu mah. Kenapa Mas minta maaf?"
Mas Utta terdiam selama beberapa saat, "Karena ibu menawarkan diri untuk menjadi pendonor ginjal buatmu Neng."
Aku tersentak. "Ngga Mas, ngga bisa. Ibu udah cukup menderita, dan Neng ngga mau beliau menderita lagi karena hidup dengan hanya satu ginjal."
"Mas sependapat dengan kamu, itu kenapa, Mas juga menolak."
Aku tersenyum mendengar jawabannya. "Terima kasih Mas, terima kasih buat segalanya."
***
Mata ibu menatapku lembut, dengan satu tangan beliau mengusap kepalaku. "Neng, ibu baru ketemu sama Neng lagi setelah sekian puluh tahun. Tolong ijinin Ibu ngelakuin hal-hal yang belum sempet Ibu lakuin buat Neng."
Tenggorokanku tercekat dan mataku memanas, dengan pelan aku menganggukkan kepala.
"Ibu kehilangan waktu buat ngurus Neng. Ibu kehilangan kesempatan buat memperlakukan Neng sebagai anak. Sekarang, kesempatan itu udah ada, Ibu mau ngelakuin semuanya buat Neng."
__ADS_1
"Iya Bu," sahutku lirih.
"Selain itu ada satu hal yang mau Ibu lakuin buat Neng. Ibu udah mutusin untuk ngasih satu ginjal ibu ke Neng. Ibu harap Neng bisa ngerti."
"Ngga, jangan Bu. Jangan lakuin itu," potongku cepat.
"Neng, dengerin Ibu yah? Ibu belum ngerasa jadi orang tua yang baik buat Neng. Yang namanya Ibu, ngga akan tega ngeliat anaknya menderita di depan mata. Apapun akan ibu lakuin supaya Neng bisa kembali sehat. Takdir membuat Ibu selama dua puluh lima tahun lebih ngga bisa berbuat apa-apa buat Neng. Saat kesempatan untuk berkorban buat anak ada, Ibu ngga akan berpikir panjang lagi. Ini permintaan terakhir dari seorang ibu kandung yang selama dua puluh lima tahun ngga ngelakuin apa-apa buat Neng. Ijinin Ibu, untuk nunjukin rasa sayang Ibu ke Neng dengan cara seperti ini. Mohon jangan ditolak, Ibu juga pengen seperti ibu-ibu lain yang akan selalu berkorban buat anaknya.
Aku hanya bisa menangis tergugu mendengar perkataan Ibu.
***
Setelah menanyakan pada Mas Utta bagaimana prosedur transplantasi ginjal berlangsung, aku memutuskan untuk menerima donor dari ibuku sendiri.
"Tenang ya Neng? Persentase keberhasilannya Insya Allah tinggi. Selain itu, setelah melakukan serangkaian tes pada Ibu, kondisi Ibu secara keseluruhan sehat. Pada umumnya, manusia bisa bertahan hidup lama hanya dengan satu ginjal yang sehat."
Perkataan Mas Utta semakin meyakinkanku untuk dengan segera melakukan proses operasi.
***
Aku melepas kepergian ibu yang akan melakukan serangkaian tes. Tes yang dilakukan adalah tes untuk melihat golongan darah, tes untuk melihat kecocokan jaringan dan terakhir tes untuk melihat kecocokan darah karena walaupun golongan darah kami sama, ada kemungkinan terdapat perbedaan dari segi Rhesus.
__ADS_1
***
"Ya Allah, lancarkanlah semua perkara yang menyangkut hamba dan Ibu. Berilah hamba kesembuhan dan umur panjang. Sehatkanlah juga ibu hamba, berkahi beliau dengan kebahagiaan dan umur yang juga panjang. Jagalah selalu dimanapun ibu berada. Sayangilah ibu hamba sebagaimana beliau menyayangiku ketika bayi. Aamiin."