
"Ibu mau jalan-jalan ke taman ngga?" tanyaku yang baru saja datang.
Ibu menoleh dan memndangku dengan tatapan heran. "Maaf, Neng siapa ya?"
Pertanyaan yang kudengar membuat jantungku serasa berhenti. Ada apa ini? Kemarin kami baru saja mengobrol panjang lebar membicarakan kelakuan nenekku. Aku hampir mengingatkan beliau tentang pembicaraan kami kemarin saat tiba-tiba teringat pesan dokter yang merawat ibu untuk selalu mengikuti alur pembicaraan beliau.
"Eh Maaf Bu, saya lupa ngenalin diri. Nama saya Nona. Saya kerja di sini."
Ibu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Saya Nengsih, Neng. Datang kesini sama Mumun. Ini hari pertama saya mulai bekerja di rumah ini sebagai pembantu, sama seperti Mumun."
Aku memutar otakku dengan cepat, sepertinya Ibu dulu memendam keinginan untuk bekerja ke kota mengikuti jejak Bi Mumun.
"Kalau Neng, di sini kerjanya jadi apa? Saya keterima kerja di sini tapi belum pernah ketemu sama majikan," ucap Ibu membuyarkan lamunanku.
"Saya? Saya tukang kebun, Bu. Makanya tadi saya ngajak ibu main ke taman."
__ADS_1
"Aduh, jangan panggil Ibu atuh Neng. Kayanya saya belum tua-tua banget. Panggil aja Teteh," pinta beliau.
Aku mengangguk mengiyakan, "Iya Teteh. Teteh mau liat-liat taman ngga?" tanyaku lagi.
"Ngga ah Neng, nanti kalau Mumun nyariin gimana? Saya tuh lagi nungguin dia, mau nanya kerjaan saya di rumah ini teh apa."
"Oh iya, kalau gitu saya nemenin Teteh di sini ya? Sambil nunggu Bi Mumun dateng," ucapku pelan.
Berat. Kondisi seperti ini sungguh berat untuk dijalani tapi aku harus tetap bertahan.
"Kalau kasus Ibu itu gini Neng. Karena banyaknya kejadian beruntun yang bikin shock terjadi dalam waktu berdekatan, beliau kesulitan memilah mana yang nyata, mana yang khayalan. Inget ngga pembicaraan kita sama dokter yang memeriksa Ibu sebelum kita pulang ke Bandung?" tanya Mas Utta.
Aku mengangguk. Kami berdiskusi tentang keadaan ibu sesaat setelah makan malam.
"Nah di antara dua fase itu, ada yang namanya fase khayalan. Biasanya khayalan ini terbentuk dari keinginan yang tidak terpenuhi. Contohnya gini, ada orang yang mengkhayalkan punya uang banyak. Kalau untuk orang normal, orang itu tau jika itu hanya sebatas khayalan aja.
__ADS_1
Tapi untuk seorang penderita gangguan mental, khayalan itu seolah berwujud menjadi nyata. Dan penderita gangguan mental ini ngga punya kemampuan untuk memilah mana yang beneran nyata dan mana yang hanya khayalan. Itulah kenapa, waktu ibu berada di fase khayalan, dia melupakan banyak orang. Yang diingat hanyalah orang-orang yang bersangkutan dengan khayalannya tersebut," Jelas Mas Utta panjang lebar.
"Fase khayalan itu bakal lama ngga Mas?" tanyaku penasaran.
"Biasanya ngga Neng. Fase khayalan itu muncul sebagai perwujudan atau refleksi akan keinginan dan emosi yang terpendam. Setelah emosi atau keinginan itu keluar, selesai juga si fase khayalan ini. Sebetulnya ini kemajuan yang bagus, karena temen Mas berusaha untuk mengeluarkan semua emosi terpendam Ibu. Menahan emosi dan keinginan tanpa sama sekali diutarakan pada orang terdekat, biasanya akan menjadi b*om waktu. Tingga akhirnya nanti bagaimana, akan meledak keluar atau justru tertahan dan menggerogoti dari dalam."
"Neng pernah denger ngga kalau ada yang bilang bahwa orang pendiam itu marahnya lebih dahsyat?" tanya Mas Utta.
"Iya, Neng sering denger banyak orang bilang gitu," jawabku.
"Nah itu adalah dampak dari akumulasi emosi yang tertahan sekian lama. Sebenernya itu malah bagus, karena walaupun terlambat, emosi itu bisa disalurkan keluar. Kalau untuk Ibu, sebisa mungkin menahannya terus. Sampai pada akhirnya ada kejadian dimana beliau tidak bisa lagi menahan dan justru mengunci emosi itu di dalam. Akibatnya, mental ibu yang kena.
Itu juga kenapa, teman Mas menyuruh untuk memperhatikan sejenak perilaku Ibu, agar kita bisa tau beliau sedang di fase apa dan juga mengikuti alur bicara beliau supaya kita sebagai lawan bicaranya bisa menyesuaikan diri. Ditakutkan kalau kita semakin keukeuh memberitahu beliau akan situasi yang sebenarnya, bukannya mengerti, ibu malah beresiko tinggi untuk menyangkal."
Aku menghembuskan nafas panjang dan membuang pandangan ke arah lain. Seolah mengerti perasaanku, Mas Utta mengusap rambutku lembut dan berkata pelan, "Kuat ya Neng. Yang sabar, yang iklas. Ngga ada yang mudah dari mengurus orang tua, terlebih orang tua yang sedang sakit. Tapi inilah saat dimana kamu bisa membaktikan diri pada ibu kandung kamu walaupun baru pertama kali bertemu. Jangan sedih, harus kuat ya? Ada Mas yang akan selalu mendampingi Neng."
__ADS_1
Aku meneteskan air mata dan berbalik memeluk tubuh Mas Utta erat.