Doa Dari Tanah Kepada Langit

Doa Dari Tanah Kepada Langit
Episode 11


__ADS_3

Kejutan lain ternyata menantiku di kantor. Beberapa pasang mata melihatku dengan pandangan heran.


"Non, udah sehat?"


"Maaf Non belum sempet nengokin."


"Non, kamu ngga apa-apa kan?"


Banyaknya pertanyaan yang tidak kumengerti membuatku tidak nyaman dan bergegas melangkahkan kaki ke ruang kerjaku. Saat masih dalam kebingungan yang amat sangat, teman sekantorku masuk.


"Nona! Kamu ngga kenapa-kenapa?!" tanyanya seraya membuatku berdiri dan memeriksa tubuhku dengan seksama.


"Ada apaan sih Jen?" tanyaku penasaran.


Mata Jeni terlihat membola, "Kok malah nanya ada apaan? Kan kamu kecelakaan, malah katanya patah tulang sampai harus ijin sebulan."


"Hah! Siapa yang bilang?" Entah kenapa perasaanku mulai tidak enak. Sebelum Jeni sempat menjawab, pintu ruanganku terbuka dan Bu Dinda yang merupakan atasanku masuk.


"Loh Non, udah sehat kamu?" tanyanya terkejut. "Tadi anak-anak bilang kamu udah mulai kerja. Saya kira bercanda makanya ngecek kesini, taunya kamu beneran masuk kerja."


Kepalaku semakin pusing memikirkan apa yang terjadi, "Silakan duduk dulu Bu, kalau boleh tau, ada kejadian apa ya?"


Bu Dinda dan Jeni saling berpandangan setelah mereka berdua duduk.


"Dua hari yang lalu, Mama kamu dateng ke sini dan mengabarkan jika kamu mengalami kecelakaan parah. Katanya, kamu perlu ijin sebulan untuk memulihkan kondisi."

__ADS_1


Tanpa sadar aku menganga, "Saya sehat-sehat aja Bu."


Kini giliran Bu Dinda dan Jeni yang menganga, "Bener loh, Mama kamu datang dan bicara secara pribadi ke saya. Anak-anak juga pada tau dan heboh banget waktu tau kabar kalau kamu kecelakaan. Karena hal itu pula, saya memberikan gaji kamu lebih awal kepada Mama kamu Non. Karena katanya, dia butuh banyak biaya untuk keperluan kamu di rumah sakit. Selain itu juga, saya atas nama perusahaan memberikan biaya tambahan sebagai tanda prihatin."


Aku kaget dan hanya bisa terdiam sampai akhirnya Jeni bersuara, "Kayanya Mama kamu nipu kami semua dengan memalsukan kondisi kamu deh Non. Aku juga ngga berani ngehubungin kamu karena kata Mama kamu, kamu sempet koma. Tadinya aku sama anak-anak mau langsung nengok aja ke rumah sakit. Mama kamu bilang nanti mau ngasi tau rumah sakitnya lewat WA. Eh, sampai sekarang belum juga kirim pesen ke aku. Ternyata ini karangan Mama kamu aja." Jeni memang banyak tau cerita tentang keluargaku, dia sahabat baikku di kantor.


"Jadi bulan ini saya ngga akan dapat gaji, Bu?" tanyaku lemas.


Bu Dinda menggeleng, "Maaf ya Non, kan gaji kamu bulan ini udah diambil Mama kamu."


Aku menghembuskan nafas pelan, kepalaku sakit.


***


"Aku udah transfer ke kamu ya Non, di cek," kata Jeni lirih saat kami sedang makan siang di kantin.


"Ya uang lah, masa lemak," jawabnya sambil memicingkan mata.


"Iya maksud aku itu buat apa?"


"Kamu kan ngga dapet gaji bulan ini, nah kamu bisa pake dulu uang aku."


Aku tersentak dan dalam seketika mataku berembun, "Kok gitu Jen?"


"Lah, kamu kan ngga ada uang sampai gajian berikutnya. Pake aja dulu, bayarnya kapan-kapan aja. Maaf nih ya, aku kesel banget sama Mama kamu. Setelah selama ini kamu jadi sapi perahnya, sekarang bikin berita ngada-ngada biar dapet duit. Ngga mikir apa kalau ucapan seorang ibu itu doa. Kalo kamu kenapa-napa beneran gimana?!"

__ADS_1


Aku menatap mata Jeni lekat, "Mama juga dateng ke tempat kost aku."


"Ngapain?"


"Ngambilin barang-barang di sana. Katanya ke Ibu kost, aku berniat pindah."


"Astagfirullah! Mama kamu ya bener-bener bikin heran! Ibu kandung kok kelakuan lebih kejam daripada ibu tiri. Terus gimana ceritanya lengkapnya?" tanya Jeni.


Aku menceritakan semua yang kualami kemarin saat baru tiba dari Bandung.


"Kayanya kamu harus pindah kost deh, bahaya kalo di situ terus. Mama kamu bisa dateng kapan aja."


"Aku emang berniat pindah, resign juga sekalian?" aku berkata lirih.


"Hah? Serius dong Non, jangan bercanda."


"Serius, aku niat pindah dari kota ini," jelasku.


"Kayanya ada hal yang belum kamu ceritain ke aku. Gimana kalau nanti malem, kamu nginep di tempatku aja?" Ucapnya menawarkan.


Setelah berpikir sejenak, aku mengangguk.


"Kalau gitu nanti pas pulang, aku anterin dulu ke kost kamu buat ngambil baju ganti buat besok ngantor. Abis itu baru ke tempat aku," ucapnya menutup pembicaraan.


***

__ADS_1


Aku sudah berada di apartemen milik Jeni. Dari jendela, aku bisa melihat gemerlapnya lampu yang menghiasi jalanan ibukota. Saat sedang mengobrol dengan Jeni beberapa saat lalu, Mas Utta menelepon. Dia seolah tau jika aku sedang dalam masalah. Setelah menceritakan semuanya dan menutup sambungan, tidak lama kemudian Ambu menelepon. Aku bisa mendengar suara samar Abah yang memintaku untuk segera mempercepat kepindahan ke kota Bandung.


__ADS_2