Doa Dari Tanah Kepada Langit

Doa Dari Tanah Kepada Langit
Episode 9


__ADS_3

"Maafin Bibi Non Nona, Bibi berdosa pada Non," lirih Bi Mumun.


Aku mematung dan berusaha mencerna satu persatu cerita yang baru saja kudengar. Jujur, aku tidak merasakan apapun selain rasa pusing yang tiba-tiba menyerang. Kepalaku berkali-kali memutar ucapan Bi Mumun tapi tetap saja, aku masih kesulitan untuk memahami.


Abah dan Ambu menatapku dengan wajah pias. Kurasa mereka juga sama terkejutnya dengan aku. Perlahan aku membalikkan badan dan berjalan menuju tangga yang mengarah ke kamar.


***


Aku bermimpi buruk. Dalam mimpiku, aku melihat seorang wanita muda berteriak mencari anaknya. Ia terlihat begitu sedih dan putus asa. Aku ikut sesak melihatnya luntang lantung di bawah terik matahari untuk bertanya pada setiap orang yang ditemuinya, apakah mereka melihat bayi kecilnya.


***


Sesuatu yang hangat menyentuh keningku dan membuat kesadaranku muncul ke permukaan. Netraku jelas menangkap sosok Ambu yang duduk di sebuah kursi, tepat di samping tempat tidurku.


"Nak, bangun dulu yuk? Makan sedikit dan minum obat."


Aku memang merasa tidak enak badan. Kepalaku berat dan mataku sakit. Ambu berusaha membangunkan dan membantuku duduk bersandar.


"Biar Ambu suapin," ucapnya lembut.

__ADS_1


Perlakuan Ambu tidak bisa mengalihkan pikiranku dari cerita Bi Mumun serta mimpi yang kualami. Kepalaku masih berdenyut karena memikirkan hal ini.


"Mana Bi Mumun, Ambu?" ucapku pelan.


Gerakan tangan Ambu yang sedang menyuapiku terhenti. "Nak, sehatkan dulu badanmu. Setelah itu nanti kita sama-sama bicara lagi dengan Bi Mumun."


Aku mengangguk mengiyakan.


***


Bi Mumun menjatuhkan badannya dan bersimpuh di kakiku saat melihatku duduk di kursi makan. Melihatnya seperti itu, air mataku mulai membayang.


"Maafin Bibi Non, Bibi bersalah. Mohon maafkan Bibi," Bi Mumun mulai menangis.


Aku mendongakkan kepala untuk menahan air mata agar tidak terjatuh. "Iya, Non maafin Bibi. Tolong jangan begini."


Bi Mumun mengangkat wajahnya dan menatapku, "Non beneran maafin Bibi?"


Aku mengangguk, "Selama beberapa hari Non sudah mencerna semua cerita Bibi. Pada awalnya Non kecewa karena Bibi merahasiakan semua ini. Terlebih lagi, Bibi memisahkan Non secara paksa dari ibu kandung Non."

__ADS_1


Air mata Bi Mumun mengalir semakin deras.


"Tapi Bibi jangan lupa, Non tumbuh dengan kasih sayang Bibi. Bibi mungkin melakukan itu untuk menebus rasa bersalah Bibi pada ibu kandung Non. Tapi untuk Non pribadi, sosok Bibi menggantikan sosok ibu yang selama ini Non idamkan. Berat mengetahui kenyataan ini, tapi Non bisa apa? Ini bukan sesuatu yang bisa Non kendalikan."


Di belakang Bi Mumun, aku melihat Ambu menitikkan air mata.


"Sedih rasanya membayangkan penderitaan Ibu kandung Non. Tapi terlepas dari semua itu, terima kasih Bi. Terima kasih banyak sudah mengurus dan menyayangi Non selama ini. Lahir batin Non maafin Bibi," aku mengangkat tubuh Bi Mumun dan memeluknya erat.


"Terima kasih Bi selalu melindungi Non dari orang-orang yang Non anggap orang tua. Terima kasih sudah merelakan punggung Bibi saat Papa bermaksud memukul Non karena nakal. Terima kasih sudah memeluk Non dengan erat saat Mama menampar Non karena tidak sengaja menjatuhkan gelas."


Suasana hari itu terasa berbeda. Aku menumpahkan semua kesedihanku di pangkuan Bi Mumun. Walaupun ia bersalah karena sudah memisahkan aku dengan ibu kandungku, beliau sudah menebusnya dengan memgurus dan melindungiku dengan baik.


***


"Bi, ibu kandung Non apakah masih hidup? Bagaimana nasibnya sekarang?" tanyaku penasaran.


"Ibu kandung Non masih hidup. Sekarang beliau diurus oleh warga kampung. Dulu, Nenek ibu kandung Non orang yang sangat baik dan banyak membantu warga. Oleh karena itu sebagai bentuk balas budi, warga bergantian mengurus ibu Non."


Aku diam mendengar perkataan Bi Mumun. Kesedihan mulai terbit di hatiku. Membayangkan ada seorang perempuan yang selalu ditempa kesulitan, mulai dari kemiskinan yang mencekik, kehilangan suami di saat hamil dan pada akhirnya kehilangan anak membuatku sangat iba. Dan perempuan itu adalah ibu kandungku.

__ADS_1


__ADS_2