
"Bu Nengsih perlu dibiasakan untuk bertemu dengan orang-orang di masa lalunya. Dalam hal ini peran sahabat beliau akan sangat menentukan. Kami akan membuat ibu Nengsih perlahan-lahan menerima kenyataan jika kejadian saat beliau kehilangan bayinya itu sudah lama terjadi. Walaupun beresiko untuk membuat beliau kehilangan kendali, cara yang paling tepat adalah mempertahankan kenyataan jika beliau memang sudah kehilangan bayinya. Jika lambat laun beliau sudah bisa menerima, kita akan lihat seberapa besar kesempatan untuk memperkenalkan Bu Shannon sebagai anaknya yang dulu hilang." Teman Mas Utta menjelaskan panjang lebar terapi yang akan dilakukan untuk menyembuhkan ibu.
"Walaupun dengan berat hati saya katakan, jika persentase kesembuhan Bu Nengsih tergantung pada dirinya sendiri."
"Apakah saya boleh sering menemuinya?" tanyaku lirih.
"Silakan Bu. Walau Bu Nengsih menderita depresi yang cukup parah, saya pribadi percaya bahwa ikatan batin antara ibu dan anak akan selalu ada. Ini bukan hal yang mudah untuk dijalani, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan."
***
"Mas keberatan kalau Neng sering mengunjungi ibu?" tanyaku pada Mas Utta begitu kami keluar dari ruang dokter.
"Ngga Neng, lahir batin Mas iklas, Mas ridho. Selagi ada kesempatan, pergunakanlah untuk merawat ibu," balas Mas Utta.
Aku bersyukur. Sangat bersyukur mendapatkan suami sebaik dan sepengertian Mas Utta.
***
"Ibu kenapa belum makan?" Aku berkunjung ke kamar perawatan ibu. Mas Utta sendiri sudah pergi untuk bekerja.
"Neng Nona?" tanyanya lirih.
"Iya Bu, saya Nona."
"Makanan di sini aneh Neng, saya ngga biasa makan nasi," ucap ibu.
__ADS_1
Aku meletakkan tasku di overbed table atau meja yang biasa digunakan untuk menaruh makanan para pasien rumah sakit tepat di sebelah makanan yang belum ibu sentuh sama sekali.
"Emang Ibu biasanya makan apa?" tanyaku setelah ikut duduk di tempat tidur.
"Saya mah makannya ubi, singkong atau sayuran rebus. Soalnya sering ngga punya uang buat beli beras."
'Astagfirullah,' batinku miris.
"Ya udah kalau ibu ngga mau makan nasi. Ini ada sayurnya nih, sama tempe tahu. Coba dimakan ya Bu? Ibu mau Nona suapin?"
Ibu terkekeh, "Ngga ah, malu atuh Neng, masa udah segede ini disuapin."
"Ya udah kalau Ibu malu, tapi Ibu cobain makanannya yah? Saya temenin Ibu makan." Aku beranjak bangun dari tempat tidur, menarik overtable bed sampai persis di depan Ibu dan kembali duduk di tempat tidur.
"Ini namanya salad Bu."
"Kaya karedok ya Neng? Sayurnya mentah gini, cuma ngga pake bumbu kacang aja," ucap beliau polos.
"Hahaha, iya Bu, semacam itulah."
Aku menatap ibu yang mulai menyuap makanannya. Ada sesuatu yang menggelitik hati dan membuatku ingin mengatakan sesuatu, tapi kuurungkan karena teringat penjelasan dokter sebelum aku mengunjungi ibu.
"Enak ngga Bu?" tanyaku pelan.
Beliau mengangguk, "Enak Neng, Emak pasti suka."
__ADS_1
"Emak?" tanyaku lagi.
"Iya Emaknya Ibu. Nini kalau kata orang sunda mah."
"Oh Nenek?"
Beliau kembali mengangguk dan meneruskan makan. Aku masih menatapnya saat tiba-tiba beliau berkata, "Aduh, gimana ini? S
aya ada di sini, kalau nanti Emak nyariin gimana ya Neng?"
Aku tertegun sejenak. Sepertinya Ibu merasa jika ia sedang berada di masa saat masih tinggal bersama Nenek. Itu menjelaskan kenapa dari awal ibu berbicara seakan-akan kami sepantaran.
"Kayanya ngga apa-apa deh Bu. Kan Ibu dateng ke sini sama Bu Mumun. Bu Mumun pasti udah minta ijin ke Emak kalau mau ke sini sama Ibu," aku memutar otakku untuk menemukan jawaban yang pas.
"Oh iya, saya teh kesini sama Mumun ya? Alhamdulillah kalau gitu, Emak mah percaya banget sama Mumun. Mumun sahabat saya yang paling dekat, baik pisan Neng. Nanti kalo Mumun udah dateng, saya kenalin ya?"
Aku mengangguk dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Jadi seperti itulah dulu ibu dan neneknya melihat Bi Mumun. Orang baik. Walau kenyataannya, sahabat ibu tersebut yang menciptakan luka sedalam ini.
"Ibu kalau di kampung kegiatannya apa?" aku bertanya untuk mengalihkan perasaan tidak nyaman yang secara tiba-tiba muncul.
"Saya mah kerja apa aja Neng. Emak kan udah sepuh, jadinya saya yang harus banyak bergerak untuk nyari makan. Nyabutin rumput, ikut panen di sawah atau di kebun, nyuciin baju juragan, beberes di rumah tetangga, pokoknya apa ajalah Neng.
Saya berhenti sekolah dari kelas lima SD, sejak saat itu saya mulai kerja yang ringan-ringan. Ngebantuin Emak karena Emak masih kuat kerja. Pas Emak udah semakin sepuh, saya sendiri yang kerja, Neng. Walaupun udah kerja dari subuh sampai sore, tetap aja ngga kebeli beras. Harga beras mahal. Uang yang di dapet sehari bisa habis cuma buat beli beras. Jadinya kalau untuk makan, saya dan Emak nanam singkong sama ubi di kebon belakang rumah."
Aku hampir saja tidak kuat untuk menahan tangis. Sebegitu menderitanya kehidupaan ibu dan nenek dulu, tapi beliau menceritakan kisahnya dengan ringan, seolah-olah jika beliau tidak keberatan untuk menjalani itu semua.
__ADS_1