Doa Dari Tanah Kepada Langit

Doa Dari Tanah Kepada Langit
Episode 7


__ADS_3

• 25 Tahun Yang Lalu •


Mumun pulang ke kampung untuk melepas rindu pada keluarga. Tidak lupa juga, ia mengunjungi sahabat baiknya, Nengsih.


Nengsih sang sahabat berasal dari keluarga yang tidak mampu seperti dirinya. Bedanya, jika Mumun bertekat untuk mengubah nasib dengan bekerja ke luar kampung, Nengsih memutuskan untuk menikah muda dengan seorang pemuda dari kampung yang sama.


Nengsih tinggal berdua dengan neneknya yang sudah renta. Untuk makan sehari-hari, gadis itu membantu di kebun atau sawah penduduk. Membersihkan rumput sampai ikut memanen hasil kebun, semua dilakukan agar bisa tetap makan.


Setelah menikah, kehidupan Nengsih bertambah susah. Ia mendapatkan suami yang baik dan pekerja keras. Sayangnya, ibu mertua Nengsih bukanlah seorang mertua yang baik. Dia seringkali memarahi bahkan memaki Nengsih jika ada pekerjaan rumah yang tidak beres. Semakin lama, tekanan yang Nengsih dapat semakin besar.


Berita duka menimpa Nengsih tepat setahun setelah menikah. Neneknya meninggal dunia karena sakit. Kesedihan Nengsih semakin menjadi karena ia tidak bisa menemani sang nenek yang sudah mengurusnya dari kecil di saat-saat terakhir sebelum meninggal. Ibu mertua yang memperlakukan Nengsih seperti pembantu membuatnya susah keluar rumah walaupun sekedar untuk menengok sang nenek.

__ADS_1


***


Di tahun ketiga pernikahan, Nengsih belum juga hamil. Hal ini membuat dirinya menjadi gunjingan wanita-wanita di kampungnya. Ternyata, biang kerok dari ini semua tidak lain adalah mertuanya sendiri yang sedari awal tidak menyukai Nengsih. Bahkan, Mumun yang saat itu baru menikah satu tahun, langsung memiliki anak. Mumun berhenti kerja karena kehamilannya dan untuk sementara hanya berdiam diri di rumah.


Setelah anak Mumun berumur satu tahun, wanita itu kembali mencari pekerjaan sebagai Asisten Rumah Tangga di kota. Tuntutan hidup yang semakin tinggi membuat Mumun memutuskan meninggalkan sang anak untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari. Suami Mumun adalah seorang pekerja serabutan yang berpenghasilan seadanya.


***


Dua tahun bekerja di kota, Mumun kembali ke kampung untuk menengok anaknya. Kali ini ia membawa misi khusus dari sang majikan yaitu Bu Ratih. Bu Ratih menjanjikan komisi yang besar jika kali ini ia bisa memenuhi keinginan majikannya tersebut. Karena desakan ekonomi dan permintaan dari sang suami yang ingin membuka bengkel kecil, Mumun pun menyanggupi perintah majikannya.


***

__ADS_1


Sore itu ia mengunjungi rumah Nengsih dan melihat jika sahabatnya itu sedang duduk di teras.


"Assalamualaikum, Nengsih? Alhamdulillah, kamu lagi hamil," ucap Mumun tulus seraya memeluk Nengsih.


Nengsih tersenyum melihat kedatangan Mumun, dan mempersilakan sahabatnya itu untuk duduk.


"Ikut berduka cita ya, aku baru tau kemarin kalau suami kamu meninggal. Yang sabar ya?" ucap Mumun.


"Makasi banyak ya Mun, Insya Allah aku sabar," jawab Nengsih pelan.


Keduanya lalu berbincang tentang banyak hal. Ternyata waktu perkiraan Nengsih melahirkan sudah dekat. Menurut bidan yang rutin memeriksa, dalam hitungan hari diperkirakan Nengsih akan melahirkan. Mendengar hal itu, Mumun memberikan beberapa lembar uang kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Buat nambah-nambah beli baju bayi. Kayanya nanti pas kamu lahiran, aku udah keburu kembali ke kota."


Pemberian Mumun diterima dengan linangan air mata, sambil memeluk Mumun, Nengsih berkali-kali mengucapkan terima kasih.


__ADS_2