
Aku cukup sibuk mempersiapkan pernikahan. Dari mulai mencari kebaya, dan juga perias. Bukannya apa-apa, aku tidak mau merepotkan Ambu dan membuat beliau lelah. Bi Mumun dengan sigap selalu mendampingi dan memberikan bantuan.
***
Sehari sebelum pernikahanku, Ambu menelepon dengan suara panik, "Nak Non, Papa dan Mamamu ada di sini."
Aku segera menuju ke rumah Abah dan Ambu dengan Bi Mumun. Dari teras sudah terdengar jika orang yang berada di dalam rumah terlibat perdebatan yang sengit.
"Itu dia si anak durhaka!" teriak Mama. Beliau menghampiriku dan mulai mengangkat tangannya. Karena merasa sepertinya ia akan menamparku, aku segera mundur untuk menghindar. Melihat aku menghindar, Mama menarik tanganku keras ke hadapan Abah, Ambu, dan Papa.
"Kenapa kamu ngga bilang kalau berhenti kerja?! Bikin malu! Mama kemarin ke kantor kamu untuk minta uang, bukan uang yang Mama dapat, malah ancaman dari atasan kamu!" teriaknya tepat di depan wajahku.
Aku memejamkan mata sejenak untuk mengontrol emosi. "Salah Mama sendiri kan? Kenapa berbohong tentang keadaan Nona. Mama juga mendapat keuntungan dari membohongi orang-orang sekantor," ucapku pelan.
"Anak dur*haka! Mama mengijinkan kamu menikah dengan Pak Wito, tapi bukan berarti kamu bisa berhenti bekerja! Jangan lepas tangan! Kamu anak Mama dan sudah berkewajiban memenuhi semua kebutuhan Mama!"
Dari sudut mata aku melihat jika Papa berdiri dan menghadapku, "Ingat Nona, perkataan Papa terakhir kali. Papa ngga akan merestui pernikahan kamu, apalagi menjadi wali nikah kamu jika kamu tidak bisa menerima syarat dari Papa!"
__ADS_1
Emosiku semakin naik, seharusnya mereka tau diri untuk tidak meminta apa-apa dariku. Mereka tidak pernah mengurusku, hanya memberikan status anak yang bahkan tanpa kekuatan hukum.
Aku hampir meledak saat tiba-tiba mengingat kutipan yang pernah kubaca dalam sebuah buku.
"Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun, jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782)
Karena mengingat hal itu, aku beranjak pelan menuju sofa dan duduk di sebelah Ambu.
"Sebelum kalian memarahi dan memaki Nona, coba lihat wanita yang berdiri di belakang kalian?" aku berusaha menekan suaraku.
Papa dan Mama membalikkan badan memandang ke arah Bi Mumun.
Pertanyaan Mama sontak membuatku terkekeh. Beliau bersikap seolah tidak mengenali Bi Mumun, padahal dari matanya yang sempat beberapa saat membelalak menunjukkan bahwa beliau ingat dengan jelas.
"Yakin Mama ngga inget? Kalau gitu biar Nona ingetin Mama. Beliau adalah Bi Mumun, mantan ART kita dulu Ma. ART yang sudah mengurus Nona dengan baik dari kecil. ART yang sudah menggantikan tugas Mama dan Papa untuk mendidik dan menyayangi Nona."
Mama mendengus keras, "Apa urusannya hal ini sama Bi Mumun. Dia cuma mantan ART!"
__ADS_1
"Wah, Mama masih belum ngerti ya? Mama ngga kepikiran satu hal gitu?" tanyaku santai.
"Kepikiran apa?!"
"Kepikiran kalau bisa saja Bi Mumun sudah menceritakan asal usul Nona yang sebenarnya pada Nona," aku tersenyum simpul.
Seperti dugaanku, wajah Mama dan Papa berubah pias. Tidak lagi terlihat kegarangan yang mereka tampakkan sebelumnya.
"Ternyata kalian merahasiakan kalau Nona bukanlah anak kandung kalian sampai selama ini. Biar apa? Biar kalian bisa terus menekan Nona untuk memberikan uang sebagai bentuk bakti anak kepada orang tuanya?"
"Terus kenapa?!" bentak Papa. "Kamu tetap harus membalas budi karena kami sudah memungutmu dan mengurusmu sampai sebesar ini!"
"Ngga salah? Kalian cuma memungut Nona tanpa mau mengurus. Hanya sebatas status di mata masyarakat dan keluarga besar jika kalian memiliki anak. Kalaupun Nona harus membalas budi, Bi Mumun yang paling berhak, karena dia yang sudah mengurus Nona dari bayi sepenuh hati," aku berkata tajam.
"Sampai saat-saat terakhir pun Mama seolah menjual Nona pada Abah Wito, dan Papa menuntut biaya bulanan jika Nona ingin beliau menjadi wali nikah. Apakah Papa memikirkan dampaknya? Tidak. Karena yang Papa pikirkan hanya bagaimana cara terjaminnya hidup setiap bulan. Jika sampai Papa menjadi wali nikah, pernikahan Nona tidak akan pernah sah, karena Papa bukan nasab Nona," aku berkata terengah-engah karena emosi yang kembali menguasaiku.
Wajah Mama dan Papa memerah mendengar semua perkataanku. Mereka diam karena apa yang kubicarakan semua adalah kebenaran.
__ADS_1
"Jika kalian bisa lebih berbelas kasih pada Nona, tanpa berpikirpun Nona akan membalas kebaikan kalian berkali lipat. Tapi sayang, yang Nona terima hanya kepahitan. Sudah cukup semua yang Nona berikan untuk Mama dan Papa. Anggap itu sebagai rasa terima kasih karena sudah memungut Nona walaupun perlakuan yang kalian berikan tidak bisa dibilang menyenangkan. Terima kasih banyak. Untuk ke depannya, Nona mohon, jangan pernah ganggu Nona lagi. Jika tidak, Nona bisa mengambil tindakan tegas, kali ini Nona tidak akan menahan diri lagi."