Doa Dari Tanah Kepada Langit

Doa Dari Tanah Kepada Langit
Episode 20


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini aku mengalami kelelahan yang amat sangat. Aku juga sering mengalami kram otot dan kaki bengkak. Sepertinya ini dikarenakan aku seringkali bolak balik ke rumah sakit untuk mengunjungi ibu.


***


Dokter berkata jika sebentar lagi Ibu akan sampai di masa beliau kehilangan suami. Momen ini akan digunakan untuk kembali memancing emosi ibu keluar. Semua terapi menunjukkan kemajuan yang positif. Ibu lebih sering berada di fase pertama, dengan kata lain, beliau tetap berada di masa yang nyata.


Emosi ibu harus dikeluarkan terlebih dahulu agar beliau kuat dalam menghadapi emosi selanjutnya yang akan timbul. Perumpamaannya, seperti gelas yang sudah terisi penuh dengan air. Air lama yang tidak dibuang akan membuat air yang baru saja dituang menjadi luber dan tumpah ke luar gelas. Seharusnya, air yang berada di dalam gelas dibuang terlebih dahulu, untuk kemudian dapat menerima tuangan air yang baru. Kejadian berikutnya diprediksi akan menjadi titik balik seorang Nengsih. Kejadian disaat beliau kehilangan bayinya.


***


Bi Mumun semakin sering berkunjung ke rumah sakit untuk menemani ibu. Dari cerita beliau, ibu menceritakan bagaimana sedihnya ditinggal suami pada saat hamil.


Ternyata, sesaat setelah ayah meninggal, ibu di usir oleh nenekku dari rumah. Tanpa bisa melawan, ibu kembali ke rumah neneknya dan mulai hidup seorang diri. Perjuangan ibu yang harus mencari makan seorang diri disaat hamil membuatnya luar biasa tertekan.


Bi Mumun bercerita, jika ada beberapa tetangga yang masih suka membicarakan keburukan ibu. Mereka sempat menuduh jika ibu hamil anak dari pria lain karena sikap mertua ibu yang langsung mengusir beliau sesaat setelah anaknya meninggal dunia.


Kehidupan yang ibu jalani sungguh berat. Dalam kondisi lemah karena hamil, beliau tetap menerima pekerjaan serabutan dari tetangga. Semua beliau lakukan agar bisa cukup makan dan memiliki sedikit uang untuk memeriksakan kandungan.


Aku yang mendengar cerita dari Bi Mumun menangis tersedu-sedu dengan kerasnya. Betapa hidup selalu memberikan penderitaan tanpa henti pada ibu. Bi Mumun pun tidak kalah sedihnya dengan aku. Beliau mengira jika ibu bisa mengiklaskan kejadian di saat beliau mengambilku diam-diam dari ibu. Kenyataannya ternyata lebih parah dari itu.


***

__ADS_1


"Lihat Mun, anak aku cantik ya?" ucap ibu menunjukkan sebuah guling padaku dan Bi Mumun saat kami mengunjunginya berdua.


Aku dan Bi Mumun saling berpandangan.


"Neng, lihat. Ini anak ibu cantik ya? Sama seperti Neng Nona. Ngga salah kan kalau ibu ngasi nama yang sama?" tanya ibu padaku.


Aku mengangguk dan tersenyum. "Iya Bu, cantik banget ya anaknya. Namanya sama kaya saya ya, Nona."


"Kalau nama lengkap Neng siapa?"


"Nama lengkap saya Shannon, Bu. Cuma saya lebih suka dipanggil Nona," ucapku pelan.


Bi Mumun masih berdiri terpaku melihat kami berbicara. Sepertinya beliau mengingat kejadian di mana ibu baru saja melahirkanku.


Bi Mumun mendekati kami dengan langkah pelan. Air mata sudah mengalir di pipinya.


"Kenapa malah nangis atuh Mun, ini lihat bayi Nengsih."


"Mumun nangis karena ikut bahagia Nengsih, kamu sekarang udah punya anak yang cantik," Bi Mumun berkata parau.


"Alhamdulillah Mun, setelah banyak kejadian yang ngga enak, Nengsih bener-bener bahagia setelah Nona lahir. Kayanya Nengsih punya kekuatan baru untuk terus hidup."

__ADS_1


Ucapan ibu menusuk tepat di hatiku. Sebahagia itu beliau saat menyambut kelahiranku. Di tengah semua masalah dan kesulitan hidup, beliau dengan suka cita menerima kehadiranku. Aku jadi mengerti, sehancur apa perasaan ibu saat mengetahui aku hilang kemudian.


***


"Tinggal menunggu hitungan waktu yang kita tidak akan tau kapan terjadinya saat ibu Nengsih menyadari bahwa bayinya hilang."


Aku dan Bi Mumun menemui dokter setelah mengunjungi ibu.


"Mohon maaf, tapi dari cerita yang sudah saya dengar, Bu Mumun adalah kunci dari peristiwa ini. Jadi, ada yang ingin saya minta dari Bu Mumun," ucap dokter lirih.


"Minta apa dokter?" Bi Mumun bertanya dengan segera.


"Saya akan memantau lebih intens lagi keadaan Bu Nengsih. Saat beliau mulai histeris dan mencari bayinya, apakah ibu memiliki keberanian untuk mengakui perbuatan ibu pada beliau?"


Bi Mumun diam termangu.


"Ini dimaksudkan untuk mencegah kembalinya fase kedua dimana Bu Nengsih mengira jika bayinya tidak hilang dan masih terus bersamanya sampai sekarang. Jika fase ini terlanjur muncul, terapi yang kami berikan menjadi tidak berguna sehingga harus diulangi lagi dari awal," jelas dokter panjang lebar.


"Saya bersedia pak Dokter. Akan saya lakukan," kata Bi Mumun.


"Terima kasih banyak atas kesediaannya ya Bu. Walaupun mungkin ibu akan menerima amukan dari Bu Nengsih, jangan khawatir karena kami akan selalu mendampingi Ibu. Itulah kenapa dari awal saya tekankan, untuk menyembuhkan pasien pengidap depresi, dibutuhkan kontribusi dan dukungan dari orang sekitar baik yang bersangkutan atau tidak," dokter menutup pembicaraan.

__ADS_1


Aku dan Bi Mumun mengangguk mengerti.


__ADS_2