
Lima orang itu duduk mengelilingi api unggun yang dipagari oleh tusukan-tusukan daging monster. Mike harus membunuh satu bawahan terlemah miliknya untuk dijadikan makanan. Dia tidak keberatan karena sudah mendapatkan troll. Tapi tetap saja, untuk ke depannya Mike harus menyisakan satu monster yang sudah berhasil dikalahkan sebelum memasukkannya menjadi pasukan. Hal itu hanya semakin merepotkan dan seperti membung sia-sia mana yang seharusnya disimpan.
"Kadang aku merasa heran, bagaimana bisa daging monster terasa sangat lezat seperti ini padahal bentukannya sangat buruk?" Geoff bertanya dengan mulut penuh sesak oleh daging.
"Apa kamu lupa kalau Kak Cha memiliki skill yang bagus untuk hal semacam ini?" Gried menimpali dengan wajah girang. Sebelum bertemu Mike dia terlihat seperti orang yang berbeda.
"Apa kalian sudah mendengar beritanya?" Martha mengangkat wajahnya, menatap rekannya bergantian. Pertanyaan Martha berhasil mengubah suasana. Atmosfer di sekitar mereka menjadi lebih berat.
"Aku sudah mendengarnya. Rasanya aku sendiri tidak tahu siapa yang benar walau aku juga seorang player. Tapi diantara dua pihak terasa tidak ada yang salah." Mulut Geoff yang sedari tadi terasa mengubah dengan riang tiba-tiba berhenti. Rasa daging yang sangat enak ini berubah menjadi sedikit hambar.
Mike hanya diam tanpa memberi komentar apapun. Dia sudah tahu sebagian kecil kenapa para player bermunculan. Tentu saja pendapat orang-orang yang kontra dengan keberadaan player sebagai seorang pahlawan adalah argumen yang salah. Karena sejatinya di garis waktu yang berbeda jauh sebelum player ada, bumi juga sudah mengalami hal yang sama.
"Ada yang bilang kalau kemunculan player adalah penyebab dari kejadian ini. Padahal kita tidak tahu-menahu soal ini sebelumnya." Martha menghela napas berat. Dia meletakkan kembali daging di tangannya, menusuknya pada kayu dengan ujung runcing yang memagari api unggun.
"Benar! Kita tidak pernah tahu ini akan terjadi dan tidak pernah mengira akan menjadi orang yang terpilih. Tapi semuanya sedang terjadi, belum berubah menjadi masa lalu dan tidak akan menjadi masa depan. Kita menjalaninya saat ini. Tidak peduli bagaimana pendapat mereka tentang kita, selama masih diberi kesempatan kita harus terus menjadi seorang player dan mengalahkan monster." Balth tersenyum sambil menunjukkan sedikit deretan giginya.
"Kenapa tidak membiarkan orang yang membenci kita mati saja? Aku masih bisa menghidupkan mereka selama tidak lebih dari tiga hari, lalu kita tanyakan kembali bagaimana mereka memandang kita sebagai player. Mereka yang hanya bisa mengkritik tanpa ikut berjuang, memangnya tahu apa tentang para player yang dipaksa harus mempertaruhkan nyawa melawan monster tidak masuk akal seperti troll tadi?" Mike mendengus kesal dengan melancarkan tatapan dinginnya, membuat semua pasang mata yang melihat memalingkan wajah untuk sepersekian detik.
"Bukan seperti itu cara kerja seorang pahlawan, Mike." Balth menggelengkan kepala. Dia tahu Mike sedang tidak dalam suasana hati yang sedang bagus, tapi perkataan Mike sudah sedikit kelewatan walau hanya sebagai ucapan pelampiasan.
"Kita adalah player, bukan pahlawan." Mike menggeram. Awalnya dia memang ingin menyelamatkan manusia sebanyak mungkin, tapi perkara ini diluar dugaan dan itu membuatnya marah sekaligus kesal. Padahal dia sudah melewati banyak penderitaan hingga sampai di titik ini, tapi orang lain yang tidak tahu apa-apa seenaknya saja mengklaim hal buruk tentang sesuatu yang belum mereka alami.
"Baiklah, sudahi topik pembicaraan yang tidak menyenangkan ini. Makanan enak di depan kita jadi terasa hambar, kan?" Martha menepuk tangannya dengan keras untuk mengalihkan perhatian.
"Maaf karena membuka topik yang tidak bersahabat." Martha mencoba tersenyum, berharap suasana bisa menjadi lebih baik.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Lagipula kita juga sudah mengetahuinya." Balth beranjak berdiri dari posisi awal. Dia berjalan ke arah selatan, mengambil sesuatu dari dalam tas yang penuh dengan tempelan kain.
"Ambil ini!" Balth melempar sebotol air minum. Mike menerima lemparan dengan tangkapan yang sempurna. Beberapa hari ke depan akan terasa sedikit berat bagi mereka, setidaknya sampai sebagian besar orang bisa menerima keberadaan mereka.
"Istirahat saja untuk hari ini. Besok tidak ada yang tahu monster seperti apa yang akan muncul." Balth membagikan botol berisi air minum ke setiap orang yang berada di sana.
"Ngomong-ngomong soal monster, ada sesuatu yang ingin aku bahas dengan kalian." Mike Mike meregangkan tubuh, beranjak berdiri.
"Status Window."
[STATUS WINDOW]
NAMA : CHARLES MIKE
KELAMIN : PRIA
LEVEL KESELURUHAN : LV.15
STRENGTH LV.15 AGILITY LV.16 VITALITY LV.17 DEXTERITY LV.10 ATTACK LV.13 DEFENSE LV.15 INTELLIGENCE LV.16 LUCK LV.15
SP : +50.000
MP : 1.600
HP : 2.550
KOIN : 501.850
ITEM : PEDANG LV.15
TITLE : -
SKILL:
SAMURAI LV.10
ABSOLUTE KING OF MONSTERS LV.3
LIFE AUTHORITY LV.2
__ADS_1
KOKI TERBAIK LV.MAX
ABSOLUTE HEALING LV.MAX
DEVIL INTIMIDATION LV.MAX
"Koin kalian masih utuh, kan?" Mike bertanya sembari menatap layar sistem. Dia harus mencarikan senjata yang bagus untuk anggotanya. Walau beberapa memang sudah memiliki senjata, tapi mereka masih harus membeli potion untuk beberapa situasi darurat.
"Buka system store dan lihat senjata apa saja yang bagus. Terutama untukmu, Martha! Hanya kamu satu-satunya anggota party yang tidak memiliki senjata. Belilah setidaknya satu senjata yang bisa kamu kuasai." Mike menatap Martha yang sedang fokus memerhatikan layar sistem di depannya. Dia berjalan mendekati Martha, melihat jejeran gambar dan nama senjata di layar sistem Martha. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, player tidak bisa melihat layar sistem milik player lain. Namun hal itu memiliki pengecualian terhadap Mike. Dia bisa melihat layar sistem milik orang lain yang tentu saja memudahkan dia dalam mengembangkan kemampuan anggotanya.
"Lihat ini! Transformation weapon. Aku rasa ini akan cocok untukmu." Mike menunjuk senjata di urutan ke tiga puluh delapan dalam daftar senjata. Itu adalah sebuah senjata yang tidak memiliki bentuk sejati dan bisa berubah sesuai imajinasi pemiliknya. Mike merasa senjata itu cocok untuk Martha yang juga memiliki skill transformation. Ketika dia berubah menjadi seseorang, maka dia juga bisa meniru senjata milik orang itu yang tentunya membuat penyamaran menjadi semakin sempurna.
Martha menekan kolom senjata yang ditunjuk oleh Mike. Layar menampilkan detail mengenai senjata tersebut.
[SISTEM]
TRANSFORMATION WEAPON LV.10
DETAIL :
SENJATA TANPA BENTUK SEJATI YANG DAPAT BERUBAH BENTUK SESUAI DENGAN IMAJINASI PENGGUNANYA. KEKUATAN YANG DIMILIKI JUGA MENYESUAIKAN DENGAN IMAJINASI YANG DIBUAT.
BUY : 20.000 KOIN
[BUY] [CANCEL]
Martha terbatuk setelah melihat harga yang tertera untuk membeli senjata itu. Dia memang memiliki setengah juta koin, tapi langsung menggunakan dua puluh ribu koin untuk satu senjata itu terasa sedikit boros.
"Dua puluh ribu koin, aku rasa ini masih harga yang standar. Senjata ini juga bisa berubah bentuk dengan kekuatan yang bermacam-macam. Aku menyarankanmu untuk membelinya. Tapi yah, tergantung kamu juga." Mike beralih menatap Martha yang berada di sampingnya. Martha diam sejenak, kemudian menekan kolom buy pada layar.
Sedetik kemudian sebuah kerambit muncul di tangannya. Ukurannya sedikit lebih besar daripada kerambit pada umumnya.
"Pilihan yang tepat." Mike tersenyum sambil mengusap pelan kepala Martha. Sejenak dia lupa kalau gadis di depannya itu seumuran dengan dirinya.
"Semua anggota membeli setidaknya satu item pelindung tubuh dan tiga healing potion. Kalian juga bisa membeli beberapa potion tambahan jika dibutuhkan."
__ADS_1