
Serangan demi serangan memicu suara menggelegar yang terdengar hampir ke seluruh kota. Mereka sudah kehabisan tenaga, tapi tetap memaksakan kaki untuk terus berdiri dengan menopang tubuh yang sudah dipenuhi lebam dan luka.
Hampir saja mereka menyerah, kemudian kembali bangkit mendengar suara teriakan yang merebak ke telinga. Seolah teriakan demi teriakan menjadi bahan bakar yang terus mengikis habis diri mereka.
"Kalian masih bisa bertarung?" Balth bertanya dengan suaranya yang gemetar. Napasnya menderu kencang. Geoff yang berada tidak jauh darinya hanya mengangguk pelan. Dia sudah mencapai batas maksimal, sebentar lagi mungkin dia akan menjadi yang pertama tumbang.
Martha juga sebisa mungkin bertahan dengan wujudnya. Sudah banyak luka yang dia terima, ditambah dia tidak bisa mengonsumsi healing potion yang membuatnya tidak bisa menyembuhkan diri.
Balth melesat untuk kembali melakukan serangan. Tapi belum sampai pedang es miliknya menyentuh kulit ogre, tubuhnya terhempas sampai beberapa meter. Kecepatan gerakan ogre tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang besar. Padahal ukurannya tidak jauh berbeda dengan troll, tapi kecepatan dan kekuatannya tidak bisa dibandingkan.
"Bermimpi apa aku semalam?" Geoff menghela napas, terbatuk keras. Matanya membelalak seperti ikan busuk, menatap monster di depannya dengan ketakutan yang mendalam. Tangannya bergetar hebat, membuat senjata yang dia pegang sedikit bergoyang.
"Mike, jika kamu tidak segera kembali, maka kami yang akan mati." Geoff tersenyum dengan wajah yang melukiskan keputusasaan. Dia menerjang tanah dengan kakinya. Otot-otot yang memegang terasa sangat sakit sampai membuat Geoff beberapa kali hampir terjatuh.
Balth yang berada di belakang juga segera bangkit, bersiap mengirim serangan peluru es dari jarak jauh. Selang beberapa detik kemudian sebuah bongkahan es raksasa mengambang di depan Balth, perlahan mulai meruncing di ujungnya. Bongkahan es itu meluncur dengan cepat menuju ogre, tepat mendarat di wajah besarnya. Balth sedikit membuat senyuman karena serangan itu mengenai target, meski dia tahu kalau serangan seperti itu tidak akan berguna.
Beberapa hari terakhir mereka sudah banyak belajar kombinasi serangan yang membuat skill mereka bertambah secara tidak sengaja. Level dari setiap stat juga semakin meningkat. Awalnya mereka merasa senang, tapi sekarang mereka berharap tetap menjadi lemah asalkan Mike bersama dengan mereka.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya mengharapkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Sekarang kita hanya perlu memikirkan cara untuk mengulur waktu kematian menjadi lebih lama, meski hanya sedikit." Balth berlari menghampiri Geoff, mengatakan sesuatu seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan Geoff saat ini.
Geoff mengambil napas panjang, menghembuskannya perlahan. Dia menatap senjata hitam di tangannya yang sudah mengalami kerusakan di beberapa bagian. Geoff mulai khawatir dengan keadaan Martha saat kembali ke bentuk manusianya.
"Katakan saja kalau kamu sudah tidak mampu lagi. Jangan terlalu memaksakan diri, Martha." Geoff berbisik, berharap Martha tidak sampai membebani dirinya sampai diambang batas.
'Jangan bercanda! Bagaimana aku bisa berhenti saat kalian masih berjuang seperti ini?'
Suara yang terdengar dari kepala Geoff membuatnya menggelengkan kepala. Baru kali ini dia menemukan rekan yang bisa mempercayakan punggung masing-masing. Sebelumnya, dia hanya bertemu dengan orang-orang yang mementingkan diri sendiri.
Balth mengacungkan pedangnya dan seketika itu pula bongkahan es kembali terbentuk dan meruncing seperti sebelumnya. Itu adalah skill baru yang Balth dapatkan, Gigan Bullet. Balth mengarahkan serangan itu mengikuti arah perginya Geoff. Sebelum bongkahan es itu berhasil mendarat, Geoff mengaktifkan salah satu skillnya, membuat keadaan sekitar membeku beberapa detik seperti waktu yang berhenti berjalan.
[SISTEM]
SKILL DUPLICATION GAP DIGUNAKAN.
SETIAP 40 DUPLIKAT AKAN MENGONSUMSI 1 MANA.
DUPLIKASI YANG DAPAT DIBUAT [240]
Dalam selang waktu yang singkat itu, Geoff melakukan kloning pada bongkahan es Balth, lalu membuatnya menjadi ratusan bongkahan es dalam hitungan detik. Setelah Geoff selesai dengan skill yang digunakan, waktu kembali berjalan seperti semestinya. Serangan Balth selain diperbanyak juga sudah diperkuat. Geoff menghabiskan lebih dari enam mana karena menambahkan kekuatan damage yang akan diterima.
__ADS_1
Serangan itu dengan cepat meluncur, membuat suara ledakan yang yang membuat tanah sedikit bergetar. Serangan itu berhasil memberikan luka fatal yang membuat ogre tidak bisa berdiri. Kemudian Geoff mengerahkan seluruh sisa tenaga dan kekuatannya, begitupun dengan Martha. Mereka semaksimal mungkin memberikan serangan terakhir yang mampu membunuh monster itu. Serangan mereka tepat mengenai leher bagian belakang yang menjadi titik vital. Dengan begitu, pembasmian monster berakhir dengan kemenangan.
Sementara itu, disisi lain dalam dimensi yang berbeda, Mike dan Gried baru saja selesai bersiap-siap dan sedang menuju lapangan tempat mereka akan berduel dalam kelompok. Sebelum ke tempat tujuan, mereka tidak lupa untuk mampir di kantin dan menyantap sarapan sebagai charging energy sebelum mulai mengurasnya lagi.
Di lapangan akademi sudah berkumpul beberapa player yang mulai pemanasan. Beberapa sisanya meminum berbagai potion sebelum pengajar datang. Selang tidak lama setelah itu, seorang pria kekar dan tinggi dengan pakaian kaus lengan pendek datang memasuki lapangan. Sekali melihat saja mereka langsung tahu kalau orang itu adalah orang yang akan menjadi pengajar pagi ini.
"Selamat pagi pada semua peserta, aku Dom, salah satu pengajar kalian. Aku tidak suka basa-basi, jadi langsung mulai saja pembagian kelompoknya." Dom meletakkan kotak kayu besar di bawah. Bagian atas kotak itu dilubangi supaya mereka bisa memasukkan tangan ke dalam kotak itu.
"Maju satu persatu, setiap peserta hanya memiliki satu kesempatan untuk mengambil gulungan." Dom memberikan sedikit instruksi. Player yang berada di sana mulai berjalan menuju kotak itu dengan tertib. Mike dan Gried juga ikut mengambil gulungan.
"Sepertinya kita akan menjadi musuh untuk sementara." Mike menatap Gried yang ternyata berada di kelompok yang berbeda. Tersirat sedikit rasa kecewa dan juga perasaan membara yang terjadi secara bersamaan. Selama ini dia memang ingin mengukur kemampuannya dengan melawan Mike. Meski dia tahu level mereka jauh berbeda, tapi Gried tetap ingin memastikannya langsung.
"Berkumpul dengan kelompok masing-masing! Jangan membuang waktuku dengan menjadi peserta yang lamban! Cepat kerjakan!" Dom mulai berteriak. Suaranya berhasil membuat semua player bergerak untuk segera berkumpul. Dua kelompok yang berada di satu kelompok dengan Mike dan Gried memaparkan wajah sombong karena yakin akan menang tanpa melakukan banyak pertarungan saat melawan kelompok lain.
"Jangan menjadi besar kepala. Kami tidak akan menggunakan pasukan hanya untuk sebuah latihan!" Mike menatap dingin wajah player yang berkumpul bersamanya. Mereka langsung menciut melihat wajah Mike yang tidak bersahabat.
"Baiklah, sekarang waktunya latihan dimulai!"
⋇⋆✦⋆⋇
__ADS_1
Sebelumnya author minta maaf kalo bab ini agak sedikit kacau, karena author memaksa buat update padahal kesehatan sedang tidak mendukung.