Doomsday System

Doomsday System
Bab 33 Keadaan Anggota Party


__ADS_3

"Pertama, luangkan waktu berdua denganku. Kedua, jawab semua pertanyaanku sampai selesai." Mike berujar dengan penuh keyakinan. Sekali lagi Miss Elyana dibuat terkejut olehnya. Sebelumnya dia berpikir kalau permintaan Mike akan berhubungan dengan level atau kekuatan, tapi ternyata bukan keduanya. Dia malah meminta sesuatu yang diluar perkiraan.



"Hanya itu saja?" Miss Elyana bertanya untuk memastikan. Terasa aneh baginya melihat ada player yang lebih mementingkan pertanyaan daripada kekuatan yang dimiliki untuk bertahan hidup.



"Jawaban dari setiap pertanyaanku akan menentukan masa depanku." Mike memasang wajah datar tanpa ekspresi.



Pertanyaannya hanya seputar administrator dan beberapa pertanyaan lain, tapi jawaban dari semuanya benar-benar berpengaruh terhadap masa depan Mike. Semakin banyak potongan puzzle yang terkumpul, maka gambar yang dibentuk juga akan semakin bisa ditebak. Jawaban dari Miss Elyana akan menentukan tindakan dan keputusan yang akan diambil oleh Mike kedepannya.



"Terserah saja! Aku akan mengatur jadwal untuk besok sebelum kelas malam dimulai." Miss Elyana memutar bola mata. Dia merasa sedikit kesal karena Mike tidak terobsesi dengan kekuatan.



Setelah negosiasi mengenai permintaan sudah selesai, Mike kembali ke tempat duduknya sambil menunggu pengumuman yang akan diberikan oleh wanita itu.



"Pengumuman malam ini adalah mengenai kegiatan besok, yaitu duel antar kelompok. Mengenai pembagian kelompok juga akan dilakukan besok. Sekian pengumuman hari ini dan persiapkan diri kalian dengan baik." Miss Elyana mengakhiri kelas malam dengan sebuah pukulan di meja pengajar. Dia balik kanan dan pergi meninggalkan ruangan.



Tidak perlu butuh waktu hitungan menit, dalam beberapa detik setelah batang tubuh Miss Elyana menghilang di balik pintu semua player mulai meninggalkan ruang kelas. Mike dan Gried menjadi yang terakhir keluar karena tidak ingin berdesakan.


__ADS_1


"Malam ini langsung tidur atau kamu mau makan terlebih dahulu?" Mike bertanya pada Gried yang berada di sampingnya. Gried berpikir sejenak.



"Eemm....aku rasa ke kantin?"



"Baiklah, kita juga butuh tenaga tambahan."



Keduanya langsung memacu gerak kaki menuju kantin. Di tempat itu hanya ada Mike dan Gried. Mereka tidak melihat adanya player lain. Tentu saja tidak ada yang akan berpikir untuk makan malam setelah pikiran dan fisik mereka dikuras habis oleh monster kuat.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Pemandangan yang mengerikan terpampang sejauh mata memandang. Kota Tyghu yang sudah dibangun ulang kini hancur tak tersisa. Dimension break terjadi di setiap sudut kota, bahkan keadaan diluar kota jauh lebih kacau. Kota tetangga yang memiliki lebih sedikit player daripada kota Tyghu mengalami kerusakan yang sangat parah. Hampir tidak ada puing-puing bangunan yang tersisa. Sekitar tujuh puluh persen berubah menjadi debu.




Pemerintah setempat juga tidak bisa memberikan bantuan berupa penyerangan. Sedangkan pasukan militer negara dikerahkan pada tempat-tempat terpencil yang tidak mudah dijangkau. Dunia kacau karena sebagian player terkuat dikirim ke akademi. Semua pihak di berbagai negara merasakan kerusakan yang tidak bisa dihitung jumlahnya.



"Aku pikir hanya membutuhkan waktu seminggu, tapi ternyata lebih dari itu?" Martha kembali mengeluh. Sudah hampir satu jam dia terus mengiceh tentang banyak hal, tapi tetap saja tidak ada yang berkomentar. Mereka juga merasakan frustasi yang tidak bisa digambarkan. Semakin hari dimension break semakin sering terjadi. Monster yang muncul juga semakin kuat. Menghadapi sesuatu yang seperti itu tentu saja membuat mereka merasa sangat putus asa.



"Ayolah! Belum juga satu jam kami beristirahat." Geoff menautkan alis melihat pemberitahuan sistem dengan quest untuk mengalahkan monster yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Balth segera berdiri setelah menerima pemberitahuan itu, lalu diikuti oleh Geoff dan Martha. Mereka berlari dengan kecepatan sedang dan tidak terlalu memaksakan diri untuk berlari sangat cepat.

__ADS_1



Dari kejauhan mereka bisa melihat raksasa yang hampir mirip dengan troll. Dilihat dari fisik saja sudah dapat ditebak kalau monster itu sama kuat atau bahkan lebih kuat dari troll.



"Sial! Setelah orc dan troll, sekarang ogre? Apa-apaan ini?!" Geoff mengeraskan rahangnya. Dia mengeluarkan golok danawa miliknya dan langsung melancarkan serangan dengan skill {Dragon Claw}. Balth juga ikut mengeluarkan pedang es dari inventori dan menggunakan skill {Hail of Ice Bullet} yang menyerang ogre dari atas. Sedangkan Martha menggunakan item {Transformation Weapon} untuk membentuk senjata panjang dan meruncing. Senjata itu bisa mengikuti gerakan tangan Martha seolah perempuan itu memiliki kemampuan telekinesis.



Segala macam serangan mendarat di tubuh ogre dari berbagai arah. Ogre meraung kencang karena merasakan kesakitan. Tanpa memberi jeda satu detikpun, Batlh kembali bersiap dengan skill {Ice Area}, memberikan waktu bagi Martha untuk bertransformasi menjadi senjata dengan jiwa yang kekuatannya tidak bisa disamakan dengan senjata biasa bahkan level tertinggi sekalipun.



Mengubah diri menjadi senjata memang dapat menjadi sangat kuat, namun hal itu memiliki resiko tersendiri. Jika senjata rusak, maka tubuh Martha juga akan rusak. Pada dasarnya semua bagian dari senjata itu adalah tubuh Martha. Kekuatan yang besar juga memiliki resiko yang tinggi. Martha sudah tahu itu, tapi tetap menggunakan dirinya sebagai senjata kareta terlihat lebih efektif untuk memberikan damage yang besar kepada monster.



Geoff menggenggam senjata hitam besar yang tidak lain adalah Martha. Sekali ayunan senjata itu mampu membelah puluhan bangunan kokoh, tapi tidak dapat menembus tubuh ogre. Lapisan kulitnya sangat kuat dan keras, hanya es yang membungkusnya yang berhasil dihancurkan. Geoff melompat mundur setelah melihat serangannya tidak berpengaruh. Monster di depan mereka saat ini adalah ogre level enam, kebanyakan serangan tidak akan dapat melukai bagian luar kulitnya yang keras.



"Baru muncul tapi sudah level enam? Jika kemunculan mereka lebih cepat daripada level up kita, maka tidak ada kesempatan bagi kita untuk menang di kemudian hari. Bisa saja ini adalah pertarungan terakhir kita, kan?" Geoff menyeringai lebar. Dia sudah pasrah jika memang pertarungannya akan sampai di titik ini. Lagipula dia tidak berniat untuk hidup di dunia yang kacau dan seperti tidsk memiliki masa depan.



"Martha, apa kamu siap?" Geoff menatap senjata hitam di genggamannya, lalu beralih menatap Balth yang berada tidak jauh darinya. Balth mengangguk, meyakinkan Geoff untuk kembali melakukan serangan. Tidak ada yang bisa mengangkat Martha dalam bentuk senjata selain Geoff dengan otot besarnya. Sebelum level mereka dinaikkan drastis oleh sistem Balth memang lebih kuat dari Geoff, tapi saat ini level strength Geoff jauh lebih tinggi darinya. Tidak ada pilihan lain selain memercayakan serangan besar pada Geoff.



"Mari kita menantang kematian!"

__ADS_1


__ADS_2