Doomsday System

Doomsday System
Bab 35 Duel Kelompok


__ADS_3

Setelah selesai berkumpul dengan player lain yang memiliki nomor sama di gulungan, sesi latihan langsung dimulai. Kelompok Mike menjadi yang pertama melawan kelompok player yang tidak dikenal olehnya. Dia sudah mengatakan untuk tidak menggunakan pasukan selama duel antar kelompok berlangsung, begitu juga dengan Gried.



Semua kelompok selain peserta duel mulai menyingkir dari tengah lapangan, memberikan ruang yang cukup luas untuk mereka bertarung. Dom memasang perisai pelindung di sekitar lapangan untuk menghindari serangan meleset mengenai peserta lain, sehingga tidak ada player yang terluka sebelum memulai duel kelompok.



Mike mengeluarkan pedangnya dari inventori. Kali ini senjatanya tidak hanya pedang, tapi dia juga memiliki busur panah. Sebelumnya Mike sudah pernah berlatih menggunakan busur itu dan terasa seperti Archer yang sudah lihai menarik busur. Skill baru yang di dapatkan akan sangat berguna, karena dia tidak perlu berlatih lagi untuk menggunakan senjata apapun.



Mike juga membeli artefak baru dari system store yang harganya cukup membuat Mike merasa berat hati. Dia membeli cincin kristal naga yang harganya melebihi empat ratus lima puluh ribu koin. Artefak itu meningkatkan MP dan HP masing-masing sebanyak tiga ribu. Tentu saja itu adalah harga yang sepadan untuk artefak luar biasa. Mike menjadi satu-satunya player dengan artefak tingkat menengah.



"Fokuskan telinga kalian. Ketika peluit berbunyi, berarti duel kelompok sudah dimulai. Tidak peduli kalian siap atau tidak, karena musuh tidak akan pernah menunggu kalian untuk siap." Dom menatap dua kelompok di tengah lapangan dengan sedikit tersenyum licik. Peluit sudah siap di ujung bibirnya, bersiap untuk menerima tiupan dan menghasilkan suara.



Mike tidak perlu terlalu serius. Justru jika dia mengeluarkan seluruh kemampuan, lawannya akan kalah seketika. Mike harus menyesuaikan kekuatan dengan player di sekitarnya. Duel ini adalah duel kelompok. Tentu saja fungsinya adalah untuk melatih kekompakan dalam kerja sama dan melihat sejauh mana kekuatan para player yang berkumpul. Jika Mike mendominasi duel ini, maka tidak akan ada kesempatan untuk melihat bagaimana kemampuan mereka saat tidak berada dalam ketakutan. Tidak seperti yang terakhir kali.



Priiiit!!!!



Peluit berbunyi. Sebelum bunyi itu berada di akhir, kelompok lawan sudah bergerak menyerang. Meski mereka sekilas terlihat kompak, namun Mike bisa melihat bahwa tidak ada kerja sama diantara mereka. Semua gerakan gabungan yang dilancarkan penuh dengan celah yang fatal.



Saat ini Mike sedang menghadapi beberapa player sekaligus. Individu di pihak lawan lebih kuat daripada anggota kelompok Mike. Dua orang dari pihak Mike melawan satu orang dari pihak lawan. Meski ada beberapa yang bertarung sendirian, tapi tetap saja sisa anggota dari pihak lawan masih tersisa tiga orang.



Mereka bertiga adalah yang terkuat dalam kelompok. Mereka berusaha untuk mengambil kesempatan disaat Mike tidak menggunakan pasukannya. Entah darimana kepercayaan diri seperti itu datang, tapi mereka merasa bisa mengalahkan Mike yang sedang 'tidak berdaya'.



Lawan Mike adalah dua swordsman dan satu player yang berfungsi sebagai tanker. Mereka melayangkan dua pedang di tangan masing-masing dari arah yang berbeda, sedangkan tanker bersiap dengan perisainya untuk melindungi dua penyerang dari serangan balik yang dilancarkan Mike.

__ADS_1



Serangan dari dua arah tidak susah untuk dihindari. Dengan agility yang mencapai level enam belas, serangan mereka malah terlihat lambat olehnya. Mike dengan mudah menghindar dan melayangkan pukulan tepat mengenai dagu salah satu swordsman yang menyerangnya, membuat player itu pingsan seketika. Tanker yang bersiap bahkan tidak bisa melihat kecepatan gerakan tinju Mike, sehingga dia tidak bisa memberikan perisai pada rekannya.



"Sial! Apa memang sejauh ini perbedaan kekuatan yang dimiliki?"



Swordsman yang tersisa beringsut mundur, bertukar posisi dengan rekan lainnya. Tanker tetap berada di tempat untuk menghadang Mike agar tidak membantu rekannya yang lain. Akan sangat kacau jadinya jika Mike sampai turun tangan untuk membantu. Dia sadar seberapa kuat lelaki di depannya, tapi dia sudah belajar mengatasi ketakutan setelah membantu penyerangan untuk mengalahkan troll.



Sebenarnya Mike memang tidak berniat untuk membantu. Mereka harus bisa menyelesaikan pertarungan mereka sendiri. Tidak peduli bagaimana hasil yang terlihat diakhir nanti, Mike hanya ingin semua player mendapatkan pelajaran mengenai kelemahan yang bisa menjadi acuan diri untuk menjadi lebih kuat.



Pertandingan berlangsung lebih lama dari perkiraan karena Mike tidak terlalu banyak menampakkan kemampuan. Dia tidak peduli dengan komentar yang akan dia dapatkan seusai pertandingan. Selama cara ini bisa membantu meringankan beban masa depan, Mike tidak akan memperdulikan hal yang lain.



"Seperti yang sudah kuduga! Kak Cha tidak akan membantu orang lemah hanya demi kemenangan yang tidak berarti untuknya. Kenapa dia selalu terlihat keren? Membuatku merasa iri saja!" Gried yang menatap pertarungan Mike hanya bisa mendukungnya dengan raut wajah berseri. Gried tahu bahwa Mike bukanlah orang yang lembek seperti layaknya seorang pahlawan. Dimata Gried, Mike merupakan sosok kakak yang baik dan tegas.




"Seperti pepatah yang mengatakan 'sudah berjuang sebisa mungkin',ya?" Mike menghela napas berat. Dia menganggap orang yang memercayai pepatah seperti itu sebagai orang yang munafik. Mereka mengatakan bahwa mereka sudah berjuang sekuat tenaga, padahal mereka tidak pernah berniat untuk berjuang dengan kematian.



"Hai, Kak! Aksi yang bagus!" Gried memberikan tos pada Mike yang sudah sampai di pinggir lapangan.



"Aksi yang bagus katamu? Walau aku hanya kebanyakan diam?"



"Justru itu yang aku maksud dengan aksi yang bagus!" Gried menyunggingkan senyum. Tangannya mengepal, memukul pelan perut Mike. Keduanya saling bersebelahan menunggu kelompok selanjutnya untuk bertanding.

__ADS_1



Priiiiit!!!



Peluit berbunyi yang menandakan pertandingan sudah dimulai. Dua kelompok maju di waktu yang hampir bersamaan. Mike dan Gried menyaksikan pertandingan di depan mereka dengan seksama.



"Gried, beri aku pertunjukan yang bagus ketika kamu tampil." Mike berujar tanpa mengalihkan pandangan dari pertandingan yang tengah berlangsung.



"Kalau begitu aku hanya perlu diam saja seperti yang kakak lakukan tadi, kan?"



"Dasar bocah! Kamu pikir diam seperti orang bodoh akan terlihat menarik? Berbeda denganku yang memang bisa melakukan itu!" Mike mengangkat satu alisnya, sedikit mengejek Gried yang usianya jauh lebih muda.



Mike memang bisa memberikan tekanan pada lawan hanya dengan berdiam diri saja. Dia mempunyai skill yang berguna untuk hal seperti itu, sehingga dia akan terlihat seperti seorang tuan sejati.



"Ah, sudah selesai?" Mike sedikit kecewa saat kembali mengalihkan pandangannya menuju tengah lapangan. Pertandingan di depan sana terlihat berat sebelah.



"Bukannya itu orang yang pernah menantang kakak waktu itu? Kalau tidak salah namanya Stade, kan?" Gried menautkan alis menatap perawakan yang tidak asing baginya.



"Dia terasa lebih kuat dari terakhir kali bertemu. Inilah yang aku harapkan. Belajar dari kelemahan dan terus tumbuh menjadi lebih kuat. Entah kenapa, aku rasa aku mulai menyukai orang itu." Mike tersenyum melihat Stade yang menjadi lawannya waktu itu sudah tumbuh lebih kuat.



"Sekarang giliranku!" Gried berjalan ke tengah lapangan ketika semua batang tubuh yang tergeletak dibawa oleh para ahli medis. Meski dibilang ahli medis, mereka hanya sekumpulan orang yang sering mengandalkan potion.


__ADS_1


"Jangan membuatku kecewa, Gried!"


__ADS_2