Doomsday System

Doomsday System
Bab 39 Peserta Tahap Lanjut


__ADS_3

Semua perhatian seketika terpaku pada pengumuman yang disampaikan oleh Miss Elyana. Tidak ada yang tahu akan seperti apa nasib para peserta yang memasuki tahap lanjut. Bisa saja mereka menderita atau bisa juga menjadi jauh lebih kuat. Para peserta di ruangan menahan napas. Mereka pasrah jika harus terpilih atau tidak.



"Akan aku sebutkan nama kalian satu persatu. Nama yang sudah dipanggil harus maju dan berdiri sejajar denganku!" Tatapan Miss Elyana mulai menajam, mengedarkannya pada setiap peserta.



"Peserta pertama, Brogan Stade. Peserta dengan ranking kedua tertinggi di akademi."



Setelah lengang selama beberapa detik, suara tepuk tangan akhirnya mengambang di langit-langit ruangan. Peserta dengan nama yang sama melangkahkan kakinya menuju tempat Miss Elyana berada.



Semua orang mengira kalau peserta ranking tertinggi adalah Mike. Mengingat kekuatan yang dia miliki tidak heran kalau player yang lain beranggapan seperti itu.



"Peserta kedua, Khuzestan Griedef. Peserta dengan ranking pertama tertinggi di akademi."



Kali ini keheningan berlangsung lebih lama. Semua raut wajah sedang menunjukkan kebingungan yang sama. Jika Gried adalah peserta dengan ranking tertinggi, lalu berapa ranking yang dimiliki oleh Mike? Seperti itulah yang dikatakan oleh mimik di wajah mereka.



Gried juga merasa terkejut dengan itu. Dia memiliki pemikiran yang sama dengan player lain. Bahkan Mike juga sama. Dia mengira kalau dirinya akan berada di peringkat teratas. Tanpa mengulur waktu lagi, Gried langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat yang sudah diperintahkan.



Miss Elyana menyebut dua peserta lagi dengan ranking C dan ranking D. Hanya tersisa satu peserta lagi yang belum disebutkan namanya. Mike hanya bisa duduk diam dengan tenang. Dia sudah tahu kalau dia terpilih untuk memasuki tahap lanjut, tapi tetap saja dia merasa khawatir tidak akan mendengar namanya dari mulut wanita itu.



"Peserta terakhir, Charles Mike. Peserta dengan ranking yang belum terkonfirmasi." Miss Elyana mengalihkan pandangannya, menatap Mike yang berada di kursi depan.



Sontak semua orang di ruangan sangat terkejut, begitu juga dengan Mike. Ranking yang belum terkonfirmasi padahal sudah menjadi peserta resmi. Hanya satu alasan yang terpikirkan di benak mereka, yaitu tentang Mike yang terlalu kuat untuk menempati ranking tertinggi di akademi.



Mendengar itu, Mike langsung berjalan menuju ke sisi Gried. Mereka berdua sudah seperti kakak beradik yang tidak bisa dipisahkan.



"Kalian akan dipandu menuju ruangan khusus dan latihan kelas malam harus dilakukan oleh kalian berlima. Aku tidak tahu monster apa yang akan muncul, jadi aku tidak bisa menjamin kehidupan kalian."

__ADS_1



"Bukankah itu berarti kami bisa saja mati?" Stade menatap kosong wanita pengajar di sampingnya. Miss Elyana tersenyum simpul mendengar pertanyaan yang dilontarkan Stade.



"Benar, kalian bisa saja mati. Maka dari itu kalian diberikan pilihan oleh pihak akademi."



Seluruh pasang mata sontak membelalak. Meski begitu tidak ada yg berharap kalau pilihan yang akan diberikan akademi bisa menguntungkan mereka. Mengingat mereka bisa saja mati ketika memasuki tahap lanjut, pilihan yang diberikan juga tidak akan jauh dari hal itu.



"Pertama, tentu saja memasuki tahap lanjut. Kedua, menjadi objek atau bahan dari penelitian yang dilakukan oleh akademi." Suara Miss Elyana terdengar sedikit bergema.



Jika boleh jujur, Miss Elyana tidak mau ada orang yang tidak bersalah harus menemui pilihan yang memberikan mereka jalan buntu. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain, sama halnya dengan para manusia di tempat ini.



"Sudah kuduga! Kita benar-benar dipandang seperti sampah!" Salah satu player meninggikan suaranya memang agar wanita di depan sana bisa mendengarnya.



"Hei, Hei! Tunggu dulu! Bukankah tujuan diadakannya akademi adalah supaya player menjadi kuat? Lalu apa-apaan ini?" Suara yang lain juga mulai menimpa.




"Bertahan hingga akhir dan menjadi jauh lebih kuat. Mereka yang tidak bisa bertahan, artinya tidak pantas untuk tetap menjadi player. Mengerti maksudku, kan?" Miss Elyana membalik badan, bersiap pergi meninggalkan kelas.



"Kalau memang seperti itu, aku keluar dan tidak mau menjadi lebih kuat atau apalah itu! Cepat kirimkan aku kembali!"



"Benar! Memangnya orang gila mana yang mau melakukan hal diluar akal sehat seperti itu?"



"Aku juga! Kirim aku kembali!"



Perlahan mulai tumbuh rasa ingin memberontak. Miss Elyana sudah mengganggu ini akan terjadi, jadi dia dengan cepat memutuskan sinyal penghubung antara sistem dan player. Hal itu berfungsi supaya para konstelasi tidak bisa mendengar atau melihat apa yang sedang mereka lakukan.

__ADS_1



Mike yang menyadarinya langsung mengangguk pada Miss Elyana. Mereka berdua sudah merencanakan ini ketika pertemuan pribadi tadi.



"Diamlah, percayakan saja pada kami!" Mike mengirim telepati pada setiap player. Telepati itu memberikan fragmen-fragmen mengenai rencana yang akan dilakukan. Mike hanya bisa menggunakan telepati sekali saja. Teknik itu diberikan oleh Miss Elyana supaya mempermudah penjelasan pada player yang memberontak.



"Gila! Apa kita benar-benar akan melakukan ini?" Stade melongo setelah mengetahui rencana gila yang Mike dan Miss Elyana buat. Rencana itu memang gila, tapi persentase keberhasilannya mencapai sembilan puluh persen. Meski mengecoh para konstelasi dengan mematikan sistem memiliki resiko tersendiri, tapi setidaknya mereka mulai mempunyai secercah harapan.



"Sudah selesai? Aku akan kembali menyambungkan sinyalnya." Miss Elyana yang sedari tadi melotot dan memutus sinyal sistem akhirnya bisa mengedipkan kembali kelopak mata.



Semua player mencoba peruntungan mereka dengan mengikuti rencana Mike. Dengan begitu Mike dan Miss Elyana bisa bergerak di balik layar sementara para konstelasi tengah asik melihat para player 'bermain' dengan monster.



Pluph!



Suara seperti balon meletus terdengar. Bersamaan dengan itu, mereka langsung menjalankan rencana.



"Kalian ingin kembali? Sayangnya akademi tidak memberi kalian pilihan yang seperti itu Jika kalian tetap bersikeras ingin dipulangkan, maka dengan senang hati aku akan melakukan itu untuk kalian." Miss Elyana menyunggingkan senyum licik dibuahnya. Akting miliknya sungguh luar biasa.



"Benarkah? Bagus!" Salah satu player yang duduk dibangku paling depan mengepalkan tangan karena senang. Namun tidak lama setelah itu, dia melihat semuanya seperti terbang dan mendapati tubuhnya yang duduk tanpa kepala. Miss Elyana memenggal leher itu sebagai contoh bagi player yang lain.



"Apa masih ada yang ingin dikirim pulang? Aku akan mengirim kalian pulang pada yang menciptakan kalian." Miss Elyana melontarkan tatapan yang begitu mendominasi.



"Sial!" Player yang lain mengerang pelan. Raut wajahnya dengan jelas memperlihatkan keputusasaan.



"Aku rasa sudah tidak ada yang bertingkah. Baiklah, kalian harus mengikutiku menuju ruangan tahap lanjut."


»»✧༺❖༻✧««

__ADS_1


Sebelumnya author mau minta maaf kalo bab ini terasa tidak enak dibaca alias kacau. Author lagi dirawat di RS, makanya ga terlalu konsentrasi pas nulis.


__ADS_2