
Mike mematung mendengar itu. Tidak pernah terbayang sebelumnya kalau administrator atau lebih tepatnya para konstelasi hanya menjadikan sebuah kehidupan sebagai permainan. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa disaat seperti sekarang ini.
"Aku akan menawarkan kerjasama yang akan menguntungkan kita, lebih tepatnya menguntungkan dua kehidupan yang saling berjalan."
"Sebutkan!" Mike mengerutkan kening. Dia menatap tajam ke arah wanita di depannya saat ini.
"Aku akan melakukan eksperimen diam-diam kepadamu ketika kamu sudah memasuki ruangan dan menjalankan tahap lanjut. Aku yakin kalau sudah ada lima orang yang dipilih oleh pihak akademi, dan kamu adalah salah satunya."
"Eksperimen? Apa maksudnya?"
"Kamu akan tahu ketika kamu sudah melihat itu nanti. Pada intinya, aku akan membuat seluruh stat dan levelmu meningkat sampai batas maksimal. Mungkin hampir menyamai level terakhir. Begitu juga dengan level skill dan jumlah mana serta health poin. Hanya saja, layar sistem yang ditunjukkan tetap akan menunjukkan kekuatan dan levelmu seperti biasanya. Seiring levelmu meningkat, maka kekuatanmu juga akan tetap bertambah. Itu seperti kamu sudah melewati batas maksimal level yang telah ditentukan." Miss Elyana diam sejenak, begitu juga dengan Mike yang masih menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Karena itulah, selama pertarungan tetap gunakan kekuatan sesuai dengan level yang tertera. Jangan sampai menarik perhatian para konstelasi sebelum rencana besar dimulai." Miss Elyana menghela napas pelan diakhir kata.
"Itu adalah rencana kasarnya. Jika kamu menerima kerjasama diantara kita, maka aku akan menjelaskan detail mengenai rencana besar yang kumaksud." Miss Elyana menatap Mike penuh harap. Baginya dan bagi kehidupan yang sejalan dengannya, Mike adalah satu-satunya harapan untuk menghentikan rencana gila para konstelasi.
"Mungkin aku bisa menebak akhir dari ini. Apa kita akan melawan para konstelasi? Jika iya, maka kekuatanku masih jauh dari kata cukup meski kita berdua dan dua kehidupan lainnya bersatu. Lalu apa solusi yang kamu miliki tentang itu?"
"Semua ini hanya dijalankan oleh beberapa konstelasi saja. Masih banyak konstelasi lain yang mungkin akan berpihak pada kita." Wanita itu menyunggingkan senyum, membuat mata Mike membelalak dengan wajah terkejut.
"Aku mengerti. Memang rencana yang sedikit gila, tapi seberapa persen kamu yakin kalau rencanamu akan berhasil?" Mike mengangkat sebelah alisnya, mulai menyunggingkan senyum seperti wanita di depannya. Dia sudah mengerti sebagian besar dari situasi dan asal dari situasi yang terjadi saat ini. Mengikuti rencana Miss Elyana terasa lebih baik untuknya.
__ADS_1
"Sekitar delapan puluh lima persen. Aku yakin rencana itu akan berhasil."
"Kamu seyakin itu? Hebat sekali!"
"Meski aku memang yakin rencana besarku akan berhasil, tapi aku tetap tidak menjamin seberapa banyak nyawa yang diperlukan sebagai pengorbanan. Jadi, bagaimana? Sudah saatnya kamu menjawab, kan?" Miss Elyana menuntut jawaban dari Mike. Dia tidak punya waktu lagi untuk berlama-lama karena alat yang dipasang padanya bisa kembali aktif kapan saja.
"Tentu saja aku menerima tawaran kerja sama itu!"
"Bagus! Aku akan langsung menjelaskan detail dari rencana kita." Miss Elyana berseru antusias. Sudah lama dia menunggu momen seperti ini untuk datang.
»»✧༺❖༻✧««
Ketika Mike keluar dari ruangan setelah pembahasan yang lumayan panjang, tanpa dia sadari hari sudah mulai gelap. Mike bergegas pergi menuju kamarnya dan disana sudah ada Gried yang menunggu dengan wajah masam.
"Maaf, pembahasannya jauh lebih panjang dari perkiraan. Apa kamu sudah makan dengan kenyang, Gried?" Mike berjalan mendekati Gried yang tengah duduk di pinggir kasur. Gried tidak menjawab Mike, dia justru memalingkan wajah. Gelagatnya menyiratkan kalau bocah itu sedang merajuk.
Mike menjelaskan secara rinci mengenai apa yang dibicarakan olehnya dan Miss Elyana dengan versinya sendiri. Gried mendengarkan dengan baik seperti yang Mike suruh. Meski dia masih terbilang sangat muda, Gried sudah bisa menjadi tokoh penting untuk menjalankan rencana.
Bocah itu sangat terguncang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Mike. Kenyataan yang tidak terbayangkan dan keberadaan sesuatu yang hanya dipercayai oleh beberapa orang, keduanya berhasil membuat Gried kehilangan kata-kata.
"Aku tidak ingin memercayai ini. Tapi karena kakak yang mentakan, maka itu berarti semua benar adanya." Gried mengeraskan rahang, berusaha untuk menegarkan hatinya.
Mike mengerti dengan respon Gried yang seperti itu. Sehebat apapun bocah di depannya, dia tetaplah seorang lelaki yang baru memasuki masa remaja. Tentu saja pikiran dan hatinya masih labil selayaknya seorang remaja. Justru sikap Gried yang sekarang malah terlihat lebih dewasa dari umur yang seharusnya.
__ADS_1
"Tidak ada waktu untuk merenung. Sebentar lagi kelas malam akan dimulai. Aku ingin membersihkan diri." Mike beranjak berdiri, melangkahkan kaki untuk pergi menuju kamar mandi.
"Kak Cha, tunggu sebentar!" Gried menolehkan kepalanya, berusaha menatap Mike yang sudah berada di balik punggung. Ucapan Gried berhasil menghentikan langkah Mike dan mengalihkan perhatian padanya.
"Apa aku juga boleh ikut serta untuk eksperimen itu? Aku hanya...." Gried menarik napas berat. Dia tidak tahu kalimat yang tepat untuk digunakan.
"Yakin? Aku tidak bisa menjamin prosesnya akan terasa nyaman."
"Meski begitu, aku tetap ingin melakukannya. Aku...tidak mau ada orang lain yang kehilangan keluarga mereka karena bencana ini." Bibir Gried sedikit gemetar, air mulai bergelimang di pangkal mata. Mike hanya bisa membisu melihat itu. Dia tahu kalau Gried kehilangan kedua orang tuanya ketika bencana baru dimulai.
"Baiklah, jika memang itu yang kamu mau." Mike kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Gried berdiri dan mengekor pada Mike, mengikutinya untuk mandi bersama.
Beberapa waktu kemudian, setelah selesai bersiap, mereka segera menuju kelas malam. Tidak lupa juga untuk menjejal perut di kantin supaya energi yang terbuang kembali terisi penuh.
"Kira-kira monster seperti apa yang akan muncul malam ini?" Gried menyumbat mulutnya dengan daging monster yang besar. Sebenarnya masakan Mike jauh lebih enak, tetapi Mike tidak mungkin memasak di Akademi.
"Berharap saja kalau monster itu tidak jauh lebih kuat daripada monster yang terakhir kali kita hadapi kemarin malam."
"Berharap saja..."
Beberapa menit berlalu, mereka berdua kembali melanjutkan langkah menuju tujuan utama. Ruang kelas sudha dipenuhj oleh para player, hanya tinggal beberapa saja yang belum datang. Tepat seusai Mike duduk di kursinya, Miss Elyana berjalan memasuki kelas.
__ADS_1
"Sebelum memulai kelas malam, aku akan mengumumkan siapa saja peserta akademi yang akan memasuki tahap lanjut."