Doomsday System

Doomsday System
Bab 44 Perbedaan Waktu


__ADS_3

"Tikus...."



"Tanah..?!"



Balth dan Geoff saling bersitatap, kemudian beralih menatap Martha yang sedang melancarkan serangan. Gadis itu mengayunkan pedang dengan sangat lihai, membelah salah satu kepala monster Amphisbaena hingga separuh tubuhnya.



"Fiuh..." Martha menyeka wajah yang penuh dengan keringat bercampur debu dan darah monster. Dia menghela napas lega melihat kepala yang lain jatuh terkapar tidak berdaya.



"Monster ini seperti tikus tanah yang memiliki ukuran lebih besar dari tikus pada umumnya." Martha beralih menatap Balth dan Geoff yang berada sedikit jauh darinya. Dua pria itu diam sejenak, kemudian mengangguk paham.



Setelah pertarungan berakhir, mereka langsung membagi daging monster menjadi beberapa ratus bagian. Mereka membakar daging pada api supaya lebih enak untuk dimakan. Sekarang mereka hanya menaburkan garam saja sebagai penyedsp rasa. Ketiadaan Mike berdampak buruk dalam segala aspek kehidupan mereka di dunia yang kacau seperti sekarang.



"Aku muak mengatakan ini, tapi aku merindukan dirinya." Tatapan Martha terlihat menerawang jauh. Raganya memang ada di tempat, tapi entah kemana pikirannya pergi berkelana.


✧༺❖༻✧


Beralih kembali pada ruangan terang yang penuh dengan alat canggih, Mike tetap berada di posisi seperti terakhir kali. Padahal waktu sudah lama berlalu bagi anggota party di bumi, tapi Mike hanya melewati beberapa puluh menit saja di tempat ini.



"Apa maksudnya dengan itu?" Mike mengernyitkan kening mendengar kalimat wanita di depannya. Miss Elyana menyatakan bahwa keberadaan akademi bukanlah untuk menjadikan player semakin kuat, tapi pernyataannya yang lain menjelaskan bahwa kemampuan peserta akademi sudah berkembang. Dua hal itu saling bertentangan.



"Tidak satupun player yang mengetahui tentang perbedaan antara waktu di akademi dengan di bumi." Miss Elyana menghela napas berat. Dia tidak ingin memberitahukan ini pada Mike sebelumnya, khawatir pria di depannya itu akan terlalu gegabah untuk kembali.



"Perbedaan waktu sudah biasa terjadi, kan? Bahkan satu negara saja memiliki waktu yang berbeda di setiap wilayah tertentu." Mike menggelengkan kepala. Dia merasa wajar saja kalau ada perbedaan waktu selama beberapa jam antara di akademi dengan waktu di bumi.



"Apakah perbedaan waktu satu banding lima itu masih wajar untukmu?" Miss Elyana mengalihkan pandangannya, menatap tegas wajah Mike.

__ADS_1



"Apa?! Jadi maksudmu satu hari di akademi sama dengan lima hari di bumi?!" Mata Mike membelalak. Raut wajahnya dengan jelas menggambarkan keterkejutan yang tidak dibuat-buat.



"Yah, perbedaan waktunya kurang lebih seperti itu." Miss Elyana menganggukkan kepala sambil mengangkat kedua bahunya.



Tidak ada yang tahu pasti perbedaan waktu antara akademi dan bumi. Miss Elyana hanya memperkirakan dengan perbandingan yang paling mendekati saja.



"Jadi sudah berapa hari waktu berlalu di bumi?" Mike bertanya untuk memastikan. Dia harus tahu sudah berapa lama waktu terlewati oleh tiga anggota party miliknya yang berada di bumi.



"Sekitar lebih dari dua bulan. Hanya sekedar informasi, sekarang bumi sudah bukan tempat yang kamu kenal." Miss Elyana berusaha menyunggingkan senyum meski terlihat kecut.



"Entah kenapa aku punya firasat yang buruk tentang itu." Mike menarik napas panjang. Bumi yang sudah bukan menjadi bumi lagi terdengar seolah bermakna ganda. Bisa saja maksudnya bumi menjadi lebih baik, tapi dilihat dari keadaan saat ini, maka itu terasa tidak mungkin. Kemungkinan yang tersisa hanya satu, bumi menjadi tempat yang lebih buruk dari yang dia ketahui terakhir kali.




"Kak.....Cha....?" Suara serak Gried terbata memanggik Mike. Dia masih belum sadar sepenuhnya. Segala sesuatu yang ditangkap oleh setiap indra yang dia miliki tidaklah sempurna dan masih samar-samar.



"Gried, kamu sudah sadar?!" Mike yang berada tidak jauh dari sana sontak memegangi tangan Gried tanpa disadari. Amat jelas tergambar raut kekhawatiran di wajah pria itu.



"Ka..kak, aku bermimpi b-buruk." Gried terengah di akhir kalimatnya. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.



"Aku bermimpi sedang berada di suatu tempat yang sangat gelap, lalu ada suara yang memanggilku. Aku tidak tahu suara siapa itu, lalu sesosok yang sangat besar muncul di hadapannku. Sosok itu menatapku dengan tajam, seolah dia ingin mengancamku." Gried menjelaskan dengan tempo yang cepat dalam satu tarikan napas. Suaranya terdengar gemetar hebat. Tergambar dengan jelas di raut wajahnya bahwa dia sungguh sangat ketakutan.



"Tenang dulu! Tarik napas dalam, atur napas. Untuk sekarang kamu harus tenang terlebih dahulu." Mike berusaha menenangkan Gried yang terlihat diselubungi dengan ketakutan yang mendalam.

__ADS_1



"Apa ini adalah efek sampingnya?" Mike mengalihkan tatapannya pada Miss Elyana. Wajah itu adalah wajah seseorang yang haus akan penjelasan. Miss Elyana menggeleng pelan sebagai jawaban. Wanita itu juga tidak mengetahui gejala apa yang dialami oleh Gried.



"Kamu tidak tahu? Bukannya kamu yang melakukan eksperimen ini?" Mike menautkan alis. Dia menuntut jawaban yang bisa memuaskan ya, bukan jawaban yang tidak ditemukan alasannya.



"Aku memang melakukan eksperimen ini pada kalian, tapi aku tidak tahu apa ini efek samping atau bukan. Aku tidak melakukan penelitian sejauh itu!" Miss Elyana memberikan penjelasan, berharap Mike akan berhenti melayangkan tatapan yang seolah menyalahkan dirinya.



Mike mengeraskan rahang, mendengus kesal mendengar penjelasan dari Miss Elyana. Dia tidak menyangka bahwa ada yang akan melakukan eksperimen tanpa tahu efek samping dari setiap kemungkinan yang akan terjadi. Mike kembali mengoper pandangannya pada tubuh Gried yang tetap terbaring dengan penuh keringat dingin.



"Sudah merasa lebih baik?" Mike menatap wajah Gried dengan raut kecemasan. Gried membalasnya dengan anggukan kecil, membuat Mike merasa sedikit lebih lega.



"Lupakan dulu mimpi buruk itu untuk sekarang, kita tidak punya banyak waktu. Rekan kita di bumi mungkin sedang dalam bahaya besar." Mike berusaha menjelaskan keadaan dengan nada yang lembut. Meski begitu, gejolak ingin kembali terus menggebu di dalam dirinya.



"Aku tahu." Gried menatap sendu wajah Mike di depannya. Mike yang terkejut mendengar itu kembali melontarkan pertanyaan.



"Kamu sudah tahu? Darimana kamu mengetahuinya?"



"Mimpi buruk itu...." Gried berhenti sejenak, memberi jeda pada dirinya sendiri untuk melanjutkan kalimat.



"Aku seperti melihat keadaan bumi saat ini. Aku bisa melihat mereka bertiga melawan monster. Tapi lebih dari itu, aku berharap kalau mimpi itu benar-benar hanya sebuah mimpi. Akan sangat menyeramkan jika itu menjadi kenyataan."



Gried berusaha bangkit, mengubah posisinya untuk duduk tegak. Bocah itu menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan. Tatapan matanya terlihat satu dan menerawang. Di kepalanya kembali berputar fragmen-fragmen ingatan dari mimpi buruknya. Mengenai bumi yang seperti neraka dan mengenai tiga seniornya yang sedang berjuang untuk tetap hidup.


__ADS_1


"Seperti apa mimpi itu? Maukah kamu menceritakannya?"


__ADS_2