Doomsday System

Doomsday System
Bab 42 Setengah Bulan dan Dua Bulan


__ADS_3

"Apa maksudmu dengan sedikit masalah?" Mike menatap Miss Elyana dengan mata penuh tanda tanya. Dia tidak melihat ada yang salah dengan tubuh Gried, tapi dia juga tidak tahu pasti bagaimana kondisi anak itu.



"Tidak serius, hanya saja..." Kalimat Miss Elyana terhenti. Wanita itu tidak sanggup untuk mengatakannya, karena dia tahu Mike akan marah jika mendengar itu.



"Hanya saja? Katakan dengan benar!" Mike menghardik. Baginya Gried sudah seperti anggota keluarga. Tidak hanya Gried, seluruh anggota party sudah dia anggap layaknya keluarga sendiri. Mendengar ada masalah selama proses eksperimen Gried, tentu saja Mike merasa sangat khawatir.



"Tubuh Gried menunjukkan kelainan selama menerima eksperimen lanjutan. Awalnya aku kira reaksi seperti itu tidak akan berpengaruh banyak, tapi dia masih belum siuman sampai sekarang. Aku akan melakukan pengecekan ulang kalau anak itu tetap tidak terjaga sampai satu jam ke depan. Maaf, seharusnya aku menghentikan proses eksperimen saat mengetahui ada kelainan." Miss Elyana memasang ekspresi menyesal yang sangat natural.



Dia memang menyayangkan apa yang terjadi pada Gried, namun dia tetap merasa bahagia melihat Mike sebagai mahakarya miliknya.



"Kenapa harus menunggu sampai satu jam?"



"Karena kemungkinan dia akan sadar sekitar empat puluh lima persen. Jika pengecekan dilakukan saat dia sadar, maka kerusakan yang akan diterima oleh Gried akan sangat fatal. Rentan waktu satu jam sudah cukup untuk menjadi tolak ukur Gried akan sadar atau tidak." Miss Elyana menjelaskan dengan tempo yang lambat, memberi waktu bagi Mike untuk mencerna setiap kalimatnya.



"Baiklah, aku akan tetap disini sampai Gried siuman. Jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kamu yang akan bertanggung jawab mengenai ini." Mike menatap tajam wanita yang sedang menjadi lawan bicaranya.



Dia tidak bisa hanya menyalahkan Miss Elyana karena Gried juga yang mengajukan diri untuk ikut menjadi subjek eksperimen.



"Sudah setengah bulan aku berada di Akademi. Bagaimana dengan perkembangan player yang lain?" Mike mencoba mengalihkan pembicaraan daripada membiarkan atmosfer yang terasa canggung terus berlanjut.



"Mereka sudah banyak berkembang berkat kelas malam. Sebagian besar sudah memiliki skill baru dan beberapa juga sudah naik level. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Aku ingin berkata seperti itu. Tapi nyatanya keberadaan akademi bukan untuk menjadikan player terkuat menjadi semakin kuat. Keberadaan akademi adalah bagian dari skenario supaya pertunjukan menjadi semakin menyenangkan."


✧༺❖༻✧

__ADS_1


Udara berat mengelilingi bumi saat ini. Tidak ada lagi pemandangan indah dengan berbagai alat canggih seperti sebelumnya. Kehidupan sekarang seakan kembali ke beberapa ribu tahun lalu dimana manusia belum mengenal peradaban.



Kehidupan nomaden, menu makanan yang tidak menentu dan didapatkan dari hasil buruan, sampai keadaan lingkungan yang sudah mendekati kata 'kiamat' yang sebenarnya.



Sudah sekitar dua bulan berlalu semenjak sebanyak enam puluh satu player terkuat pergi ke akademi. Dengan ketiadaan kekuatan yang begitu besar, bencana yang menimpa bumi seperti tidak bisa ditahan. Ada banyak korban yang berjatuhan saat dimension break terjadi. Tidak sedikit pula player yang menyerah pada tugasnya dan memilih cara mati yang lebih mudah. Semua itu terjadi karena bumi kehilangan kekuatan yang menopang keseimbangannya.



Di hadapan seekor ular raksasa dengan kepala di masing-masing ujung tubuhnya, tiga orang player yang begitu akrab sedang memasang wajah penuh amarah dan kekesalan. Bukan terhadap keadaan, tapi terhadap diri sendiri yang masih terlalu lemah.



"Apa Mike tidak akan kembali? Sialan! Baru kali ini aku berharap bisa mati lebih cepat." Martha berujar ditengah napasnya yang sedang memburu. Dua pria yang bertarung bersamanya tidak memberikan respon apapun. Terlihat sangat jelas bahwa keputusasaan semakin menggerogoti kesadaran mereka dan menelannya.



Selama dua bulan terakhir sudah hampir separuh dari seluruh jumlah player yang mengakhiri hidupnya sendiri. Hal itu tentu berdampak sangat besar bagi kelangsungan kehidupan di bumi. Mereka yang masih hidup hanya bisa berharap para player yang berada di Akademi akan segera kembali membawa kekuatan yang sebanding dengan apa yang sudah dikorbankan sejauh ini atas 'hilangnya' mereka.




Pada dasarnya manusia biasa setara dengan goblin level satu. Jadi, untuk menghadapi monster amphisbaena ini dibutuhkan setidaknya player level dua puluh atau lebih. Itupun pasti dengan kemenangan yang tipis.



"Balth, aku serahkan pengalihan padamu. Lalu Geoff, bantu aku dengan skill duplikasi milikmu!" Martha menatap dua rekannya dengan penuh keyakinan yang kemudian dibalas oleh anggukan kecil dari keduanya.



Mereka bertiga memasang kuda-kuda dengan sempurna, bersiap untuk melancarkan serangan kombinasi dengan tempo masing-masing.



Martha memulai dengan skill transformation miliknya, berubah meniru monster di depannya saat ini. Semenjak level skill transformation miliknya meningkat, syarat penyalinan juga semakin dipermudahkan. Sekarang dia hanya perlu membayangkan seperti apa dia akan berubah, lalu skill dapat diaktifkan tanpa menyentuh target.



Berhubung Martha tidak memiliki informasi apapun mengenai musuhnya saat ini, dia mengimajinasikan dirinya menjadi makhluk yang sama persis secara fisik saja, namun kekuatan yang dimiliki oleh keduanya sangat jauh berbeda. Martha bisa menambahkan kekuatan sendiri pada tranformasi miliknya, sehingga memudahkan penyerangan mereka untuk menyesuaikan skill masing-masing.

__ADS_1



Geoff memulai dengan skill {Duplication Gap}, menggandakan Martha dalam mode tranformasinya. Setelah itu Balth meluncurkan serangan dengan dua skill sekaligus. Dia menggunakan skill {Ice Storm} untuk menurunkan pandangan monster dan skill {Ice Area} supaya target tidak bisa bergerak dari tempatnya.



Martha juga memulai dengan mengelilingi monster, lalu melancarkan semburan api di satu kepala dan semburan gas beracun di kepala lainnya. Duplikasi dirinyapun melakukan hal yang sama, membuat monster badai salju yang mengamuk menjadi cair seketika.



Monster itu menggeliat kesakitan. Kulitnya terasa sangat terbakar oleh api sekaligus melepuh oleh racun. Dalam hal ini monster amphisbaena tidak memiliki peluang untuk menang melawan tiga player yang setara dengannya.



"Bagus, Martha! Pertahankan formasi beberapa menit lagi!" Balth berteriak dengan sisa suara yang terdengar sangat serak. Martha membutuhkan banyak mana untuk mempertahankan bentuknya saat ini. Mana yang tersisa tinggal sedikit lagi. Gadis itu terus berharap bahwa monster yang berada di tengah kepungannya bisa ikut tumbang ketika dia sudah kehabisan mana.


...⍟✮:▹┈⛧┈┈•༶»»✧༺❖༻✧««༶•┈┈⛧┈◃:✮⍟...


\[SISTEM\]


Penggunaan skill mengonsumsi terlalu banyak mana.


Mana yang tersisa saat ini : 0


Aktifasi skill akan dihentikan secara paksa.


...⍟✮:▹┈⛧┈┈•༶»»✧༺❖༻✧««༶•┈┈⛧┈◃:✮⍟...


"Tidak!" Balth berteriak ketika melihat seluruh duplikasi Martha tumbang bersamaan. Dengan begitu, skill {Duplication Gap} Geoff juga dihentikan dengan paksa karena targetnya sudah tidak sadarkan diri.



Meski begitu, monster amphisbaena tetap masih bisa bergerak. Lapisan kulitnya bahkan lebih keras daripada ogre dan regenerasi yang lebih cepat daripada troll. Dia adalah monster terkuat yang mereka pernah hadapi sampai saat ini.



"Geoff, berapa kali lagi kamu bisa menggunakan skill sampai kehabisan mana?"



"Aku tidak yakin. Mungkin hanya sekitar lima kali serangan dengan skill {Dragon Clow} dan tiga kali {Duplication Gap}."


__ADS_1


"Aku tidak bisa meyakinkan diriku kalau kita akan menang."


__ADS_2