
...Masih SMA...
"Sepertinya kedatanganku tak di hiraukan oleh Riana, dari pada aku jadi orang ketiga lebih baik aku pergi ajah!" Ujar Maryam dalam benaknya.
"Ywdh kalian lanjutin aja ngobrolnya aku pergi dulu!" Seru Maryam, seraya malu karena kedatangannya malah tak dihiraukan oleh Riana sepupunya. Dia malah sibuk dengan pacarnya.
Sementara di kejauhan dia hanya melihat Riana yang sedang berduaan dengan cowok yang ia tak kenal itu.
"Siapa cowok itu ya? Kok Riana akrab banget sama dia? Apa dia cowoknya Riana?" Tanyanya dalam benaknya sembari kemudian pergi meninggalkan Riana bersama cowok tersebut.
Bau semerbak dari parfumnya yang sangat kusukai dulu sekarang tak ada lagi. Ia sudah berubah. Bukan hanya sikap dan penampilannya, merk parfumnya pun sudah berubah. Entah apa dan siapa? Memang semuanya telah berubah teramat cepat.
ooOoo
"Sepertinya kamu gak punya cita-cita ya?" Tanya temannya Aisyah dari balik pintu kelas
"Apa maksudmu?" Tanya Aisyah heran dengan pertanyaan teman sekelasnya itu.
"Ia aku tahu banget pasti gadis kayak kamu gak punya cita-cita palingan abis lulus SMA langsung di kawinin sama ayahnya!" Ujar gadis tersebut kepada Aisyah.
"Maksud kamu apa sih aku sama sekali gak ngerti?" Tanyanya sekali lagi seraya kebingungan dengan perkataan temannya.
Di sekolah Aisyah terkenal sangat baik hati dan juga alim, dia selalu mengenakan hijab yang telah menempel di kepalanya yang menutupi sebagian auratnya. Menjaganya dari binar-binar pergaulan yang justru hanya akan menjerumuskannya ke dalam pergaulan bebas.
"Hentikan!" Seru teman sebangku Aisyah.
"Datang deh sang penyelamat!" Jawabnya
"Mau kamu apa sih Lia?" Tanya Kayla
"Mau aku?" Tanyanya lagi
"Sudah ribet kalau dengerin omongan mereka, yuk masuk!" Seru Kayla teman sekelas Aisyah yang buru-buru memegang tangan Aisyah untuk menolongnya dari serbuan Lia and the gang yang terkenal sangat rese.
__ADS_1
"Ma..makasih!" Ujar Aisyah kepada Kayla teman sebangkunya.
"Ia, lagian kamu ngapain sih berurusan sama Lia dan teman-temannya yang paling rese itu?" Tanyanya.
"Hmm, padahal aku cuma mau lewat aja kok tapi mereka malah ngalangin aku!" Jawab Aisyah sembari membenarkan jilbab yang ia kenakan.
"Aisyah kayaknya pake jilbab itu enak juga ya?" Tanyanya
"Ia, jilbab itu malahan merupakan perintah agama juga loh!" Seru Aisyah.
"Ia sebenarnya aku pengen pake jilbab tapi aku takut gerah karena belum terbiasa!" Ujarnya sembari memegang rambut panjangnya.
Kemudian Aisyah memberikan sebuah jilbab yang ada di ranselnya.
"Kalau kamu mau kamu pakai jilbab aku ajah!" Ujar Aisyah seraya memberikan jilbab kepada Kayla teman sebangkunya.
"Wah ini benar buat aku?" Tanyanya
"Ia ini buat kamu!" Jawabnya
"Makasih ya Syah!" Ujar Kayla.
Selama duduk di bangku SMA kelas 1 & 2 sampai kelas 3 Aisyah selalu saja sebangku dengan Kayla, jadi dia merasa bahwa Kayla adalah sahabat satu-satunya.
Kayla sendiri sangat baik, dia selalu saja menolong Aisyah ketika Aisyah jadi bahan bully-an Lia and the gang.
"Eh liat deh itu siapa?" Tanya Lia and the gang
"Eh itu bukannya Kayla ya, kenapa sekarang Kayla pakai jilbab juga?" Tanyanya
"Meneketehe!" Jawabnya
Kemudian mereka mendekati Kayla & Aisyah yang sedang duduk-duduk di waktu jam istirahat.
__ADS_1
"Owh jadi kamu udah tobat toh!" Ujar Lia yang tiba-tiba datang tanpa diundang.
"Maksudnya?" Tanya Kayla.
"Ia ngapain pakai jilbab segala emangnya ini sekolah Islam apa?" Tanyanya.
"Mau kamu apa sih kita kan lagi diem aja dari tadi!" Seru Aisyah yang kemudian berusaha tetap tenang.
"Udah Aisyah kita tinggalin aja mereka, aku udah yakin banget mereka semua cuma mau bikin masalah sama kita berdua!" Ujar Kayla seraya memegang tangan Aisyah dan mengajaknya pergi.
"Yeh orang lagi ajak ngomong malah kabur! Dasar Cemen!!" Ujar Lia and the gang.
"Mungkin mereka berdua takut kali sama kita-kita!" Serunya.
"Yoi!!" Ujar yang lainnya.
Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.
Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?
Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.
Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri.
Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati.
Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.
Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang ku tuangkan bersama hati dan juga perasaan.
Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap. Aku hanya seseorang yang memujanya di balik kejauhan, aku hanya hanya seseorang yang berusaha keras untuk tetap setia bersamanya meski aku hanya berada di balik kejauhan, jangan tanyakan perasaan ku jika kau tak bisa beralih dari masa lalu yang menghantuimu karena ini sungguh tidak adil.
Gemercik suara hujan yang deras dari tetesan air hingga terdengar kencang, gak cukup satu tapi ribuan genangan air itu menyapu bahuku dan membasahiku, aku hanya terdiam sembari membiarkan setiap genangan air hujan dan juga riuh suara angin berhembus kencang di wajahku. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan sang sutradara yang menciptakan perjalanan hidupku yang terdokumentasikan menjadi sebuah film. Meski dalam keramaian aku masih tetap sendiri dan merasa kesepian, seperti hanya ada seekor kunang-kunang yang menemani di kesunyian. Aku hanya aku dan bukan dia, biar ku simpan rasa ini di kejauhan karena mungkin kau bukan untukku dan mungkin pula rasa ini suatu saat akan hilang dengan sendirinya.
__ADS_1
ooOoo