
...Embun Pagi...
"Kenapa sekarang kau berbeda sekali?" Tanyaku
"Maksud kamu? Apa yang berbeda?" Tanyanya
"Penampilan mu!" Ujarku
Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.
Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri. Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati.
ooOoo
Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.
"Sepertinya penampilan ku ini tanpa aneh bagi dirimu?" Tanyanya
"Ia, kau berbeda dengan Maryam yang ku kenal" Jawabku
"Semenjak aku mengikuti pengajian dan sering sekali bergaul dengan orang-orang yang saleh alhamdulilah aku memilih untuk berhijab!!" Serunya
"Apa jilbab itu merupakan pilihan?" Tanyaku
"Nampaknya kau belum paham betul tentang agama kita, lantas mengapa kau berpacaran dengan Gusti yang sebenarnya berbeda agama dengan kita?" Tanyanya
"Nampaknya kau ingin tahu sekali tentang hubungan ku dengan pacarku" Jawabku
"Sebenarnya aku sangat mengkhawatirkan dirimu Riana, saat kau bergaul dengan Gusti nampak banyak hal yang berubah pada dirimu!!" Ujar Maryam
"Hah.." Ujarku sembari menghempaskan tangan ku dari tangannya Maryam
Kemudian Maryam mencoba menasehati aku, sepertinya mama telah menceritakan semuanya kepada Maryam sepupu ku.
__ADS_1
Terlalu banyak berfikir, semuanya membuatku ingin melupakan segalanya. Mimpi saat aku bisa bersama Gusti namun sayang ternyata Gusti hanya memberikan harapan palsu kepada ku hingga membuat aku depresi, perasaan dimana aku merasa bahwa Gusti adalah satu-satunya lelaki yang pantas untuk menjadi pendamping hidupku.
Meski sebenarnya aku tak memandang agamanya, nampaknya aku sudah di buatkan oleh cintanya Gusti dan semua kisah manis perjalanan cinta yang pernah aku lalui bersamanya.
Saat itu...
"Ponselku!!" Seruku
Saat itu aku hendak mencari ponselku, namun tak ketemu...
Ternyata ponsel itu ada di dekat meja yang ternyata ada dompet dan juga tas ku..
Saat aku membongkar tas ternyata ada ponsel ku, kemudian aku mencoba menghubungi Gusti pacarku.
"Sayang kamu dimana?" Tanyaku cemas sebab dia tak mengangkat telpon ku.
Beberapa kali aku miss call namun hanya di rejack dan di matikan. Aku merasa kesal dan akhirnya aku memberikan pesan singkat kepadanya.
From: Riana Baby
"Sayang kamu kemana ajah, kenapa kamu menghilang dan tak pernah menjawab telepon ku,!!!"
Beberapa kali aku mengirim pesan tapi tak kunjung di balas oleh Gusti, aku merasa patah hati, sedih dan marah, semua berkecamuk dan membuat ku membanting ponsel itu.
GuBBbbRaKkk!!!
Hingga suaranya terdengar sampai keluar..
Maryam yang sedari tadi menunggu, dan merawat ku kemudian dia masuk ke ruang tempat ku di rawat.
"Astaghfirullah aladzim!!" Serunya
"A!!!" Kemudian aku berteriak dan menangis tersedu-sedu
__ADS_1
"Ya Allah apa yang terjadi kepada mu Riana?" Tanyanya sembari kemudian mencoba untuk memeluk erat diriku.
Kemudian Maryam juga ikut menangis kala melihat aku sangat galau, marah, sedih, kesal dan depresi. Semuanya membuat aku merasa ingin bunuh diri, cinta yang sejak pertama membuat aku jatuh hati teramat dalam namun nyatanya malah membuat aku patah hati.
"Riana, Istighfar Riana Istighfar, ada aku Maryam yang akan selalu menjagamu, dan setia berada disisi mu!!!" Serunya
"Maryam!!!" Ujarku sembari memeluk Maryam sepupu ku.
Saat aku merasa sediri dan sangat terpuruk namun untungnya ada Maryam sepupu ku yang selalu menjadi penenang dia mencoba membantu ku lepas dari jeratan Gusti yang ternyata seorang Playboy.
Ketika kamu dihadapkan dalam dua pilihan dan kamu tak tahu harus memilih yang mana?. Sosok cowok yang kamu cintai namun tak bisa kamu miliki atau sosok cowok yang tidak kamu cintai namun selalu mencoba untuk mengubah hati kamu. Seandainya diantara salah satunya bisa membuat aku bahagia, mungkin semua peristiwa dalam hidupku ini tak terjadi seperti ini.
Mereka bukan pilihan, aku pula bukan satu-satunya wanita dalam kehidupan mereka berdua. Aku sadari aku tak ubahnya seperti perahu yang sedang berlayar dan tak tahu akan berlabuh ke mana, andai saja mereka berdua tak menghancurkan hidupku mungkin semua hal-hal ini tak terjadi pada diriku. Meski ku rasa cinta itu indah, namun sekejap saja berubah menjadi dendam dan juga kebencian. Apakah aku sanggup hidup seperti ini?.
Aku adalah aku, aku adalah ceria yang bersembunyi di balik sepi. Aku adalah cahaya yang bersembunyi didalam redup, aku adalah amarah yang bersembunyi di bawah tentram. Aku adalah aku yang mencintaimu yang selalu hatimu tutupi.
Faktanya orang-orang yang mendasarkan penghargaan terhadap diri mereka sendiri pada ambisi untuk selalu benar, menghalangi diri mereka sendiri untuk bisa belajar dari kesalahan itu. Ternyata benar adanya bahwa setiap orang selalu pergi, agar tahu bagaimana rasanya pulang kepada pelukan yang jarang sekali kita anggap.
"Aku pernah berharap begitu kuat, mencintai dengan begitu hebat. Lalu kemudian luka sedikit, hatiku pecah".
Pernahkah kamu mengalami apa yang ditulis dikalimat diatas? Jatuh cinta yang begitu hebatnya kepada seseorang, kamu serahkan segala angan-angan tentang kebaikan ditangannya. Kamu cintai dia dengan begitu benar, begitu baik dan begitu tulus.
Lalu sebuah luka kecil menyentilmu dan kemudian hatimu "pecah". Isinya tumpah, butir-butirnya yang bak pasir jatuh berserakan. Beberapa berhasil kamu kumpulkan, tetapi sebagiannya lagi hilang tak terselamatkan.
Dimatikan perlahan, berkembang dan bertahan sampai tiba waktunya, datang lelah dan marah sengaja ia matikan perlahan. Kita sedang bicara tentang rasa, rasa yang sengaja dimatikan secara perlahan.
Langit tahu segalanya, tentang rindu yang meraung minta makan. Tentang kepulan dusta dari sela-sela bibir, diantara dentuman musik keras dipojok ruangan, mengenai petikan rasa di gerbong yang berkarat.
Awan gelap tersenyum getir, sebongkah pamit menangis pilu, tatkala menghantam hati tak berdosa, begitu kelam, begitu banyak salah paham, nanti apalagi?.
Ku pandangi langit, serdadu di logika mulai meradang, menuntut agar bahagia di kembalikan. Dalam kericuhan yang amat mendalam, jalan mana yang akan dipilih, bertahan atau melepaskan?.
ooOoo
__ADS_1