Dosa Masa Lalu

Dosa Masa Lalu
Episode 31


__ADS_3

...Kunang-kunang...


Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang ku tuangkan bersama hati dan juga perasaan.


Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap. Aku hanya seseorang yang memujanya di balik kejauhan, aku hanya hanya seseorang yang berusaha keras untuk tetap setia bersamanya meski aku hanya berada di balik kejauhan, jangan tanyakan perasaan ku jika kau tak bisa beralih dari masa lalu yang menghantuimu karena ini sungguh tidak adil.


Gemercik suara hujan yang deras dari tetesan air hingga terdengar kencang, gak cukup satu tapi ribuan genangan air itu menyapu bahuku dan membasahiku, aku hanya terdiam sembari membiarkan setiap genangan air hujan dan juga riuh suara angin berhembus kencang di wajahku. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan sang sutradara yang menciptakan perjalanan hidupku yang terdokumentasikan menjadi sebuah film. Meski dalam keramaian aku masih tetap sendiri dan merasa kesepian, seperti hanya ada seekor kunang-kunang yang menemani di kesunyian. Aku hanya aku dan bukan dia, biar ku simpan rasa ini di kejauhan karena mungkin kau bukan untukku dan mungkin pula rasa ini suatu saat akan hilang dengan sendirinya.


ooOoo


Kunang-kunang terbang melayang, sedang terbang tertimpa duri. Jangan kau senang-senang tinggalkan sembahyang, itukan menyiksa diri sendiri.


Sebenarnya Maryam juga baru berhijab, sebenarnya awalnya baru jilbab biasa dan kemudian ia memutuskan untuk memakai jilbab Syar'i. Awalnya ia merasa risih karena semua orang memperhatikan dia, karena merasa aneh dengan jilbab yang ia kenakan.


"Lagian kamu ngapain pake jilbab sih, udah panas, gerah tau!" Ujarnya.


"Hmm" Maryam menghela nafas panjang dan hanya menjawabnya dengan senyuman manisnya.


Sementara itu, setelah ia mengenakan jilbab syar'i dan gamis. Kini dia banyak sekali kegiatan di luar rumah dengan mengikuti pengajian dan juga kajian ilmu agama Islam, selain menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta ia juga menambahkan kawan-kawan dan sharing dengan berbagai orang yang memiliki pandangan dan juga pengalamannya masing-masing tentang agama Islam.

__ADS_1


Namun dalam memperdalam ilmu agama, sudah pasti banyak tantangan dan juga proses yang harus dia hadapi mulai dari keluhan dan juga tanggapan miring orang-orang terhadap dirinya.


"Lihat deh dia, masa ke kampus pake gamis dan jilbab lebar kayak gitu? Emangnya ini pesantren!" Ujar seseorang disampingnya yang hendak berjalan ke arahnya.


Namun Maryam tak menanggapi gunjingan dan juga tanggapan serta kata-kata miring orang di sekitarnya , dia tak merasa kalau yang ia kenakan saat ini adalah pakaian yang tidak diperbolehkan dan melanggar undang-undang. Hanya saja pandangan dan omongan mereka saja yang terlalu mencibir dan memperlakukan dia seperti bukan manusia.


"Eh minggir dong!" Seru yang lainnya


"Tau nih pake baju panajang amat apa gak ribet tuh!" Seru teman-teman kampus Maryam yang hanya melihat Maryam seolah-olah orang aneh dan memakai pakaian seperti layaknya ibu-ibu.


"Hei kalian ini terlalu nyinyir sama orang ya, seharusnya kalian bercermin dahulu sebelum berbicara!" Seru seorang perempuan yang menggunakan baju gamis dan jilbab syar'i juga dari kejauhan.


Nampaknya Maryam bertemu dengan orang yang benar, sejak berjumpa dengan Ukhti Erni. Kini Maryam jadi bertambah saudara dan juga bertambah pula pemahamannya terhadap agama islam.


"Eh ada ukhti Erni, yok kita pergi!" Ujar mahasiswi lainnya yang mengejek Maryam.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Ukhti Erni


"Gak apa-apa kak" Jawabnya

__ADS_1


"Panggil Ukhti aja, biar akrab!" Ujarnya sembari memegang tangan Maryam dan berjabat tangan dengannya.


Ukhti Erni merupakan salah seorang anggota dari LDK (Lembaga Dakwah Kampus), yang mengayomi para mahasiswa-mahasiswi untuk melakukan kajian dan juga pengajian di kampus yang berbasis dan juga berdakwah dengan penuh kompeten dan juga berasas silaturahmi dan kekeluargaan.


Dan akhirnya Maryam menjadi bagian LDK (Lembaga Dakwah Kampus), dan kini menambah pengetahuannya tentang agama islam.


"Terimakasih Ukhti!" Ujar Maryam


"Ah, tak usah sungkan Ukh, kita kan saudara" Ujar Ukhti Erni kepada Maryam.


Panas terik matahari, bersinar. Terlihat bayang-bayang fatamorgana didepan aspal yang aku lewati. Panas sekali. Angkot yang aku tumpangi pun, malaju dengan kecepatan yang sedang. Bagaikan menikmati hawa panas yang menyengat kulit. Apalagi aku, dengan jilbabku ini. Keringat sudah dari tadi mengalir deras ditubuhku. Tetapi, karena aku memakai pakaian yang berlapis. Dengan jilbab yang mengurai lebar dan besar. Sehingga mungkin keringatku tertahan. Dan tidak sampai membuatku menjadi terlihat sebagai pepesan akhwat. Tetapi, tidak sedikit pula keringat yang mengalir deras diwajahku. Beberapa kali orang melihatku. Mungkin, mereka berfikir panas-panas kok pakai jilbab, besar pula. Tak seberapa lama, benar juga pikirku. Seseorang ibu melihatku dengan penuh tanya.


Ibu itu mengatakan "Mbak, apa nggak gerah! Pakai jilbab yang besar seperti itu?"


Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ibu itu hanya terlihat dengan senyumnya. Entahlah, senyuman apa yang diberikan ibu itu kepadaku. Mungkin senyuman rasa kasihan, karena keringat diwajahku terus mengalir deras. Tapi aku tak perduli.


Cuaca panas inilah yang menjadi pembenar. Untuk melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh sang Al Haq. Dengan berbagai alasan, banyak wanita yang enggan atau tidak mau memakai jilbab. Sungguh ironis dalam sebuah agama terbesar di Negara ini. Lucu sih, alasan tidak memakai jilbab karena cuaca dinegara ini yang bersifat tropis. Padahal, di Arab. Cuacanya tidak kalah panasnya, bahkan lebih panas dibandingkan Negara ini. Tetapi toh, tidak menyurutkan para wanita yang berada di Arab untuk berjilbab.


Panas tetap menyertaiku dalam sebuah mobil angkot yang sangat pengap. Tak jarang, bau keringat pun menyengat. Entah itu bau keringat siapa. Supir angkot, kenek, atau bahkan penumpang lain. Yang penting aku tidak merasa tubuhku berbau. Meskipun aku berjilbab. Aku tidak ingin tubuhku berbau badan yang tidak enak. Tetapi tetap aku juga tidak mau tubuhku harum ditempat yang tidak semestinya. Aku tidak mau dianggap sebagai wanita murahan dalam agamaku. Apalagi dituduh sebagai wanita nakal karena memakai wewangian bukan pada tempatnya.

__ADS_1


ooOoo


__ADS_2