
...Cerita Bermula...
Ibu itu mengatakan "Mbak, apa nggak gerah! Pakai jilbab yang besar seperti itu?"
Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ibu itu hanya terlihat dengan senyumnya. Entahlah, senyuman apa yang diberikan ibu itu kepadaku. Mungkin senyuman rasa kasihan, karena keringat diwajahku terus mengalir deras. Tapi aku tak perduli.
Cuaca panas inilah yang menjadi pembenar. Untuk melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh sang Al Haq. Dengan berbagai alasan, banyak wanita yang enggan atau tidak mau memakai jilbab. Sungguh ironis dalam sebuah agama terbesar di Negara ini. Lucu sih, alasan tidak memakai jilbab karena cuaca dinegara ini yang bersifat tropis. Padahal, di Arab. Cuacanya tidak kalah panasnya, bahkan lebih panas dibandingkan Negara ini. Tetapi toh, tidak menyurutkan para wanita yang berada di Arab untuk berjilbab.
Panas tetap menyertaiku dalam sebuah mobil angkot yang sangat pengap. Tak jarang, bau keringat pun menyengat. Entah itu bau keringat siapa. Supir angkot, kenek, atau bahkan penumpang lain. Yang penting aku tidak merasa tubuhku berbau. Meskipun aku berjilbab. Aku tidak ingin tubuhku berbau badan yang tidak enak. Tetapi tetap aku juga tidak mau tubuhku harum ditempat yang tidak semestinya. Aku tidak mau dianggap sebagai wanita murahan dalam agamaku. Apalagi dituduh sebagai wanita nakal karena memakai wewangian bukan pada tempatnya.
ooOoo
Angkot tetap melaju pada setiap detik hawa panas yang menyengat aspal. Memang berat hari ini. Tetapi aku harus tetap datang dipertemuan. Beberapa kali aku diundang, tetapi aku sering ada acara lain. Maka ini saatnya aku harus menyempatkan untuk datang di teman-teman LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Hembusan angin yang keluar dari jendela angkot. Membuatku sedikit merasa nyaman.
Hem, sampai juga akhirnya! Ucapku dalam hati.
Aku turun dari angkot. Dan berjalan menuju masjid kampus. Pusat para kader-kader dakwah kampus yang akan berkumpul. Terlihat sudah banyak akhwat dan ikhwan yang berkumpul.
"Assalamualaikum!" Salamku.
"Walaikumsalam! Masuk Ukh." Sambut Ukhti Erni dengan senyum. "Alhamdulillah anti datang juga!" ucapnya lanjut.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. "gimana, sudah dimulai?"
Tanyaku basa-basi.
"Iya, baru saja dimulai!"
Setelah itu kami menyimak pemapaparan yang diberikan oleh Akhi Samsul, ketua LDK. Memang, akhir-akhir ini aku tidak terlelalu aktif dalam kepengurusan LDK. Karena banyaknya amanah diluar membutuhkan waktu yang sangat besar. Dan tak lupa juga, skripsiku yang menggantung karena banyaknya kegiatan. Akhirnya aku memutuskan untuk memfokuskan beberapa hal yang aku anggap penting. Seperti, skripsiku, dan juga amanah diluar.
Hijab yang menutupi saat syuro'. Tidak menurunkan kualitas para ikhwan dan akhwat untuk bisa memberikan kontribusinya dalam dakwah. Mereka sangat semangat dengan cara-cara seperti ini. Bahkan memberikan ruang tersendiri bagi para akhwat. Atau bisa juga disebut. Ruang privacynya para akhwat. Jadi benar-benar sangat menyenangkan. Karena dengan begitu, kami tidak terlihat bercampur baur dengan para ikhwan. Sehingga dengan bebas mengutarakan pendapat, tanpa harus malu dilihat para ikhwan.
"Setiap dari kita, harus bisa memberikan kontribusi yang jelas terhadap dakwah kita!
Maksudnya adalah, setiap anggota harus mampu berkomunikasi dengan baik kepada para mahasiswa-mahasiswa. Jadi agar kita tidak terlalu dibilang eksklusif oleh mereka. Terkadang julukan itu, membuat gerakan dakwah kita menjadi terhambat. Maka dari itu, ana harap. Setiap kader LDK, dapat bersosialisasi dengan mereka. Minimal menjelaskan beberapa hal tentang kegiatan LDK. Dan, maksimal kita dapat mengajak mereka untuk dapat ikut serta berdakwah!" Ucap Samsul dengan panjang lebar. "Baik, ada yang perlu ditanyakan?" Lanjutnya.
kepada mahasiswa yang merasakan keeksklusifan kita! Seperti halnya, menyebarkan bulletin kepada mahasiswa-mahasiswa dengan tema yang diangkat. Adalah program-program LDK. Jadi kita tidak usah repot-repot untuk mendatangi mereka!" Ucap, Rofiq.
"Hem, boleh juga! Ada masukan lain, mungkin? Dari para Akhwat!" Ucap Samsul.
"Assalamualaikum!" Ucapku. Yang akhirnya disambut dengan jawaban salam para peserta syuro'. "Kalau menurut ana, lebih baik memberikan pendekatan kepada mereka. Dengan cara ikut bergabung dengan mereka, tentunya jika tidak menyimpang dari syari'at. Tetap! Karena pada dasarnya, mahasiswa-mahasiswa yang menganggap kita eksklusif, karena kita sangat jarang sekali berkumpul dengan mereka. Sehingga statement seperti itu muncul dipermukaan, karena perilaku kita sendiri. Ana memang merasakan benar, bahwa banyak ikhwan atau pun akhwat. Yang merasa lebih enjoy bergabung dengan halaqoh mereka, dari pada dengan mahasiswa yang bukan dari halaqoh mereka. Ini merupakan bentuk ketimpangan yang mendasar. Yang akhirnya menjadikan para mahasiswa merasa bahwa para kader LDK. Mempunyai kehidupan sendiri. Atau dalam kata lain, mengasingkan dari kehidupan mahasiswa." Aku sedikit menghela nafas. "ana rasa jika ingin tetap terlihat eksis dalam dakwah kita.
Seharusnya, kita malah harus punya objek dakwah yang jelas. Atau dalam kata lain. Bahwa kita tidak mengesampingkan objek dakwah lain, meskipun kita sudah mempunyai objek dakwah! Seperti halnya, jika kita berada dilingkup kampus. Maka objek dakwah yang fital, adalah para mahasiswa-mahasiswa yang belum tersentuh oleh dakwah. Ini merupakan sebuah tantangan besar bagi kader dakwah kampus! Jadi kader dakwah kampus, tidak hanya diluar saja mereka bisa berdakwah. Seperti mengajar ngaji didesa-desa kumuh, bakti social, dll. Tidak hanya seperti itu. Tetapi seharusnya kita harus membenahi juga rumah kita sendiri, dalam artian kampus kita ini. Karena, antum dan anti lihat saja sendiri. Bagaimana kondisi akhlak dan akhidah kampus kita.
__ADS_1
Jadi ini merupakan sebuah ladang dakwah bagi kita juga!"
Sejenak, peserta kami pun terdiam.
"Wah, Ukhti! Jarang ikut syuro' tapi selalu dapat memberikan penjelasan yang bagus"
Bisik ukhti Erni.
Aku hanya tersenyum, sambil berkata. "Ini sanjungan apa sindiran! Kalau sanjungan, biasanya Ali Bin Abi Tholib itu membalasnya dengan melemparkan sandalnya. Nah kalau ini sindiran, mending nggak usah disindir gitu! Ana datang aja sudah merasa kesindir." Bisikku ke ukhti Erni.
"Hhihihi. . .!" Ukthi Erni sambil memegang kepalanya, takut dilempar sandal.
"Hem iya, bisa juga seperti itu! Syukron Ukhti atas sarannya. Ana rasa, saran anti boleh juga!" Ucap Samsul.
Syuro' diakhiri dengan beberapa pernyataan untuk dapat memberikan kesan yang lebih baik kepada para mahasiswa. Tidak terlalu terlihat mengasingkan diri dari kehidupan mahasiswa lainnya. Mau ikut bergabung dengan kegiatan-kegiatan mahasiswa lainnya selama tidak keluar dari izzah para kader dakwah kampus. Dan beberapa hal keputusan yang lainnya. Intinya, kader dakwah kampus harus mampu dapat memberikan kontribusi yang jelas dan baik.
Saat itu yang menjadi imam di masjid adalah Ustadz Fadlan, dan Aisyah sedang berada di Syaf paling belakang.
"Masya'allah suara Ustadz Fadlan merdu banget, astagfirullahaladzim kok aku jadi ngomong macem-macem sih padahal kan aku niatnya untuk sholat bukan malah ngeliatin cowok" Ujar Aisyah setelah sholat Isya
"Kenapa Aisyah?" Tanya Raina sahabat karib ku
__ADS_1
"Owh enggak apa-apa kok!" Jawabku singkat
ooOoo