Dosa Masa Lalu

Dosa Masa Lalu
Episode 33


__ADS_3

...Dua Hati...


Aku hanya tersenyum, sambil berkata. "Ini sanjungan apa sindiran! Kalau sanjungan, biasanya Ali Bin Abi Tholib itu membalasnya dengan melemparkan sandalnya. Nah kalau ini sindiran, mending nggak usah disindir gitu! Ana datang aja sudah merasa kesindir." Bisikku ke ukhti Erni.


"Hhihihi. . .!" Ukthi Erni sambil memegang kepalanya, takut dilempar sandal.


"Hem iya, bisa juga seperti itu! Syukron Ukhti atas sarannya. Ana rasa, saran anti boleh juga!" Ucap Samsul.


Syuro' diakhiri dengan beberapa pernyataan untuk dapat memberikan kesan yang lebih baik kepada para mahasiswa. Tidak terlalu terlihat mengasingkan diri dari kehidupan mahasiswa lainnya. Mau ikut bergabung dengan kegiatan-kegiatan mahasiswa lainnya selama tidak keluar dari izzah para kader dakwah kampus. Dan beberapa hal keputusan yang lainnya. Intinya, kader dakwah kampus harus mampu dapat memberikan kontribusi yang jelas dan baik.


Saat itu yang menjadi imam di masjid adalah Ustadz Fadlan, dan Aisyah sedang berada di Syaf paling belakang.


"Masya'allah suara Ustadz Fadlan merdu banget, astagfirullahaladzim kok aku jadi ngomong macem-macem sih padahal kan aku niatnya untuk sholat bukan malah ngeliatin cowok" Ujar Aisyah setelah sholat Isya


"Kenapa Aisyah?" Tanya Raina sahabat karib ku


"Owh enggak apa-apa kok!" Jawabku singkat


ooOoo


Padahal sebenarnya....


Saat itu tak sengaja Aisyah bersenggolan dengan Ustadz Fadlan.


"Ah, maaf!!" Ujarnya


"HM, justru seharusnya ana yang minta maaf Ukhti!" Jawabnya


"Kenapa aku jadi gugup ginih!" Seru Aisyah dalam benaknya


"Ukhti?" Tanya Ustadz Fadlan


"Ah, ia tak apa" Jawabnya


"Ya sudah ana pergi dulu ya" Ujarnya


"Assalamualaikum!" Serunya


"Wa..waalaikum salam" Jawab Aisyah


Sepertinya sosok Ustadz Fadlan sangat di kagumi Aisyah hingga akhirnya membuatnya jatuh hati, tetapi berbeda dengan ayah Aisyah yang dengan terang-terangan menolak keberadaan Ustadz Fadlan yang di anggap munafik.


"Hai Aisyah, kenapa kamu diam saja?" Tanya Raina sahabat karib Aisyah.


"Ah, tidak apa-apa" Jawabnya


"Nampaknya ada yang terkesima dengan Ustadz Fadlan?" Ungkapnya seraya mengejek Aisyah.


"Ah, kamu ini bisa ajah" Jawabnya singkat


"Ya udah yuk kita balik aja ke rumah!" Seru Aisyah seraya mengalihkan pembicaraan.


Sepanjang perjalanan sebenarnya Aisyah memikirkan Ustadz Fadlan, dia tak henti-hentinya berfikir dan juga terlihat melamun sendiri.

__ADS_1


"Hai, kamu ini sedari tadi aku perhatikan diam saja?" Tanyanya


"Ah," Jawabnya


"Kamu kenapa si Syah, enggak biasanya kamu kayak gini?" Tanyanya


"Kamu cerita dong sama aku?" Tanyanya lagi


"Hmm," Aisyah hanya termenung


"Sepertinya aku bakal di jodohin nih sama ayah ku, dan kemungkinan aku gak akan melanjutkan pendidikan ku ke jenjang yang lebih tinggi!" Seru Aisyah sembari menyeka air matanya.


"Nampaknya banyak sekali masalah yang sedang kamu hadapi Aisyah" Ujarnya


"Sebagai sahabat aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu" Tambahnya


"Makasih Raina, kamu memang sahabat terbaik ku!" Serunya sembari memeluk Aisyah.


Aisyah sebenarnya tak sendiri, masih banyak orang-orang yang menyayanginya dan bersimpati padanya, tetapi Aisyah mempunyai sifat pendiam dia terkadang lebih suka menyimpan sendiri masalahnya. Apalagi semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi, membuat Aisyah semakin merasa terpuruk.


Terkadang ia merasa ingin keluar dari rumah mewah yang nampak sangat besar, berbeda dengan rumah-rumah para tetangganya yang nampak tak layak, meski begitu dia merasa tak bahagia. Di tambah lagi dengan ayahnya yang sangat galak dan juga arogansi yang membuat dia merasa tak nyaman, dia hanya merasa bahagia jika bisa mengunjungi makam ibunya.


Rasa yang kita anggap pergi ternyata masih ada, cuma ada kata antara aku dan juga dia, fotonya saja masih ku simpan tetapi tidak ku pajang hanya ku taru di lemariku dan ku letakkan di bagian paling dalam, itu pun jarang sekali aku sentuh. Itu karena ayahku yang tak ingin jika aku memajang foto ibuku.


"Siapa yang masih memajang foto dia?" Tanya ayah Aisyah


"Sepertinya ada suara Pak Haji yang sedang marah-marah?" Tanyanya di dekat dapur


"Kenapa foto dia masih kau pajang di ruang tamu ku?" Tanyanya sembari memarahi istri ke duanya.


"Ah, sepertinya pembantu kita lupa untuk membuang semua foto-foto wanita itu!" Serunya


"Maaf Tuan dan Nyonya bukan saya yang memajang foto Almarhum tetapi Non Aisyah!" Jawabnya


"Yasudah buang saja foto itu!" Serunya


"Baik Tuan" Jawab pembantu Aisyah


Kemudian kala aku cari foto ibuku..


"Kok gak ada foto ibu ku?" Tanyanya


"Bi! Foto ibu mana?" Tanya Aisyah


"Maaf, non tadi di suruh buang sama Tuan dan Nyonya!!" Jawabnya


"Sudah ku duga pasti ayah dan ibu tiri ku sengaja melakukan itu" Jawabnya


"Terus kamu buang di mana bi?" Tanyanya


"Di tong sampah belakang rumah!!" Jawabnya


"Ya Allah kenapa foto ibu ku di buang, seperti sesuatu yang tidak berharga?" Tanya Aisyah sembari mengambil foto ibunya yang telah di buang.

__ADS_1


Kemudian Aisyah membersihkannya, dia sadar mungkin ayahnya kini tak perduli lagi dengannya, ditambah sekarang sudah ada ibu tiri yang kini hadir dan mungkin telah mengobati kesedihan ayahnya yang telah lama menduda.


Sang ibu tiri pun masih terlihat sangat muda, itu pula yang terkadang membuat Aisyah merasa jika sang ibu tiri kini telah menguasai ayahnya bahkan juga harta ayahnya.


Ketika di kuburan sang ibu...


"Bu, nampaknya ayah sudah tak perduli lagi pada ku!" Ujarnya sembari menangis di depan makam sang ibu yang telah meninggal dunia.


Kemudian tak sengaja ada Ustadz Fadlan yang sedang lewat...


"Nampaknya aku mengenalnya?" Tanyanya dalam benaknya


"Sepertinya itu Aisyah?" Ujarnya


"Kenapa dia sedang di pemakaman ini, lalu kuburan siapa itu?" Tanyanya


Saat sudah selesai...


"Hai Aisyah!!" Seru Ustadz Fadlan


"Ustadz??" Tanyanya


"Kamu sedang apa di pemakaman ini?" Tanyanya


"Ah, aku habis mengunjungi makam ibuku!" Jawabnya


"Ibu mu?" Tanyanya


"Ia" Jawabnya


"Lalu? Yang di rumah mu??" Tanyanya


"Ah, dia bukan ibu kandung ku, dia ibu tiriku!" Jawab Aisyah


"Ah, maafkan saya yang terlalu ikut campur" Jawabnya


"Owh, tidak apa-apa Ustadz" Ungkapnya Aisyah


"Lalu, Ustadz sedang apa?" Tanyanya


"Ah, tidak saya hanya habis dari rumah Iz" Jawabnya


"Owh, " Ujarnya


Kemudian tiba-tiba ada ibu tiri Aisyah..


"Kenapa Aisyah jalan berduaan dengan Ustadz Fadlan?" Tanya Ibu tiri Aisyah


"Apa mereka berdua punya hubungan dekat?" Tanyanya dalam benaknya


Mencintailah seperti saat pertama kali kau mencintai pasangan mu, saat jantung mu berdebar waktu ingin bertemu dengannya. Saat kau begitu baghagia memegang tangannya, saat matamu tak berkedip memandangi wajahnya. Hari keseribu atau kesejutamu harus menjadi hari pertama saat kau jatuh cinta.


ooOoo

__ADS_1


__ADS_2